Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kode Rahasia Pengikut Diponegoro di Blitar: Pohon Sawo, Manggis, dan Kepel Jadi Tanda Identitas

Findika Pratama • Rabu, 20 Agustus 2025 | 05:00 WIB

Kode Rahasia Pengikut Diponegoro di Blitar: Pohon Sawo, Manggis, dan Kepel Jadi Tanda Identitas
Kode Rahasia Pengikut Diponegoro di Blitar: Pohon Sawo, Manggis, dan Kepel Jadi Tanda Identitas

BLITAR – Tidak banyak yang tahu, jejak pengikut Pangeran Diponegoro masih kuat melekat di wilayah Srengat, Kabupaten Blitar. Setelah Perang Jawa berakhir pada 1830, banyak pengikut Diponegoro bermigrasi ke daerah ini. Untuk bertahan hidup dan menjaga identitas, mereka menciptakan kode rahasia yang unik.

Kode itu bukan berupa tulisan atau simbol, melainkan penanaman pohon. Pohon sawo, manggis, dan kepel menjadi tanda yang digunakan para pengikut Diponegoro di Srengat dan sekitarnya. Ketiga pohon tersebut menjadi sandi untuk saling mengenali, sekaligus alat konsolidasi yang aman dari pengawasan Belanda.

Menurut Insan Widodo, pegiat literasi sejarah sekaligus pengelola Perpustakaan Kartini Srengat, keberadaan sandi pohon ini merupakan bukti bahwa wilayah Srengat adalah pusat migrasi pengikut Diponegoro. “Para bangsawan dan priyayi dari Jawa Tengah banyak yang melarikan diri ke sini. Untuk bertahan, mereka membuat kode rahasia melalui penanaman pohon,” ungkapnya dalam wawancara dengan Radar Blitar TV.

Baca Juga: PMK Terus Menyebar di Kabupaten Blitar, Puluhan Ekor Sapi di Empat Kecamatan Terserang

Srengat, Pintu Gerbang Perlawanan

Secara geografis, Srengat memiliki posisi strategis. Wilayah ini menjadi jalur lintasan dari Solo, Madiun, Kediri, hingga Tulungagung. Karena itu, banyak pengikut Diponegoro yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke timur Jawa.

Widodo menyebut, Srengat bahkan dijuluki sebagai pintu gerbang migrasi. Dari sini, pengikut Diponegoro menyebar hingga ke daerah Brang Wetan, Puger, hingga Banyuwangi. “Kalau ketahuan, mereka bisa dibantai. Jadi kode rahasia sangat penting untuk keselamatan mereka,” katanya.

Belanda pun sadar akan potensi perlawanan yang tumbuh di Srengat. Karena itu, wilayah ini kemudian dihapus status kabupatennya pada 1830. Resolusi yang dikeluarkan Pemerintah Hindia Belanda itu bertujuan memutus potensi munculnya gerakan baru setelah Perang Diponegoro.

Baca Juga: ATR/BPN Ajak Warga Saksikan Karnaval Kemerdekaan HUT ke-80 RI, Jangan Lupa Beri Vote

Pohon Sebagai Sandi Identitas

Pohon sawo, manggis, dan kepel dipilih bukan tanpa alasan. Ketiganya dianggap mudah ditanam, tidak mencurigakan, dan memiliki makna simbolis. Bagi pengikut Diponegoro, keberadaan pohon itu menjadi tanda bahwa suatu tempat aman untuk singgah atau berkumpul.

Widodo menjelaskan, sandi pohon itu juga berfungsi sebagai pengikat identitas. “Kalau mereka melihat pohon tertentu di halaman rumah atau di sebuah lokasi, artinya di sana ada simpatisan atau sesama pengikut Diponegoro,” paparnya.

Strategi ini terbukti efektif. Belanda tidak menyangka bahwa penanda sederhana itu menyimpan arti besar. Dengan cara itu, para pengikut Diponegoro bisa tetap menjalin komunikasi dan melanjutkan perjuangan, meski dalam kondisi penuh tekanan.

Baca Juga: Menteri Nusron dan Wamen Ossy Ikuti Rangkaian Lengkap Upacara HUT ke-80 RI

Dari Srengat ke Blitar

Migrasi pengikut Diponegoro tidak hanya mengubah wajah sosial Srengat, tetapi juga memberi pengaruh besar terhadap Blitar. Banyak bangsawan Jawa yang menetap di daerah ini dan berbaur dengan masyarakat setempat.

Bahkan, beberapa bupati awal Blitar disebut-sebut masih memiliki hubungan erat dengan kelompok priyayi pengikut Diponegoro. Hal itu pula yang membuat Belanda sering curiga dan mencoba mengendalikan jalannya pemerintahan lokal.

Tak heran, Blitar kemudian berkembang menjadi daerah yang sarat dengan nilai perjuangan. Dari Srengat yang pernah menjadi kabupaten, perjalanan panjang menuju lahirnya Kabupaten Blitar tidak bisa dipisahkan dari peran pengikut Diponegoro.

Baca Juga: Kota Blitar Mulai Realisasikan Jadi Pusat Perdagangan usai Jalin Kerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta

Sejarah yang Hampir Terlupakan

Sayangnya, fakta unik tentang sandi pohon ini belum banyak diketahui masyarakat Blitar. Padahal, bukti sejarah tersebut menunjukkan betapa cerdasnya para leluhur dalam melawan penjajahan.

Widodo menekankan pentingnya generasi muda mengenal kembali sejarah lokal, termasuk kisah Srengat dan kode rahasia pengikut Diponegoro. “Kalau kita melupakan sejarah, identitas kita akan hilang. Padahal, Srengat menyimpan jejak perjuangan yang luar biasa,” tegasnya.

Ia juga berharap Perpustakaan Kartini Srengat dapat terus menjadi pusat literasi sejarah, agar informasi semacam ini tidak hilang ditelan waktu. Melalui arsip, diskusi, dan kajian sejarah, kisah-kisah lokal bisa kembali hidup dan memberi inspirasi.

Baca Juga: Pemkot Blitar Pastikan Fokus Benahi RSUD Mardi Waluyo, Wali Kota Mas Ibin: Kami Terus Monitoring

Jejak Pohon yang Masih Bisa Ditemui

Hingga kini, beberapa pohon sawo, manggis, dan kepel masih ditemukan di wilayah Srengat dan Blitar. Meski masyarakat umum menganggapnya sebagai tanaman biasa, bagi sejarawan pohon-pohon itu punya makna mendalam.

Mereka adalah saksi bisu perjuangan pengikut Diponegoro yang berusaha bertahan dari kejaran Belanda. Lebih dari sekadar tanaman, pohon-pohon itu adalah kode identitas, penanda perjuangan, sekaligus simbol keberanian untuk melawan penjajahan.

Jejak pengikut Diponegoro di Blitar dan Srengat adalah bukti bahwa sejarah lokal menyimpan kisah besar. Dari pohon sederhana, lahirlah tanda perlawanan yang mampu menjaga persatuan. Fakta ini sekaligus mengingatkan, bahwa perjuangan tidak hanya ditulis dengan senjata, tetapi juga lewat simbol-simbol kecil yang penuh makna.

Baca Juga: ⁠Festival Sound di JLS Blitar Batal Digelar, Ini Sebabnya

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #srengat