BLITAR – Sejarah panjang Srengat ternyata menyimpan kisah dramatis para bupatinya. Pada masa kolonial, para bupati Srengat dikenal tidak loyal terhadap Belanda. Bahkan, beberapa di antaranya dicatat membantu atau menampung pengikut Pangeran Diponegoro.
Sikap anti-Belanda ini membuat posisi Srengat dianggap rawan. Pemerintah kolonial menilai bupati di Srengat terlalu dekat dengan kalangan priyayi dan pejuang Jawa. Karena itu, sejumlah bupati akhirnya diasingkan, bahkan ada yang harus menerima nasib pahit dikejar hingga ke luar Jawa.
Menurut catatan yang tersimpan di Perpustakaan Kartini Srengat, ada bupati yang dibuang ke Ambon. Ada pula yang diturunkan paksa oleh Belanda karena dianggap tidak bisa dikendalikan. Fakta ini jarang diungkap, padahal menjadi bagian penting sejarah lahirnya Kabupaten Blitar.
Baca Juga: ATR/BPN Ajak Warga Rayakan Capaian Bersama Lewat Karnaval Kemerdekaan HUT ke-80 RI
Srengat, Kabupaten yang Hilang
Sebelum Blitar berdiri sebagai kabupaten, Srengat lebih dulu menyandang status tersebut. Srengat menjadi pusat pemerintahan dan administrasi, sekaligus menjadi titik strategis penghubung antara Madiun, Kediri, dan Tulungagung.
Namun, status kabupaten itu berakhir tragis pada 1830, tepat setelah Perang Diponegoro. Belanda menghapus Kabupaten Srengat karena khawatir wilayah ini menjadi basis baru konsolidasi perlawanan.
Dihapuskannya Kabupaten Srengat bukan hanya soal administrasi, tetapi juga bentuk hukuman politik. Belanda ingin memberi pesan bahwa wilayah yang dianggap tidak patuh akan dilenyapkan dari peta kekuasaan.
Baca Juga: Hidupkan Pantai Serang Blitar lewat Festival Layang-Layang, Ini Kata Disbudpar Kabupaten Blitar
Bupati yang Berani Menentang
Beberapa bupati Srengat dikenal menolak tunduk penuh kepada Belanda. Mereka memilih jalan sulit dengan tetap dekat pada pengikut Diponegoro. Hal ini membuat mereka dicap sebagai bupati “berbahaya”.
Sumber-sumber sejarah menyebut, ada bupati yang diam-diam menyediakan tempat aman bagi laskar Diponegoro yang melarikan diri ke Blitar. Ada pula yang membantu pergerakan priyayi Jawa Tengah yang bermigrasi ke timur pasca Perang Jawa.
Tindakan itu membuat Belanda murka. Sebagian bupati langsung diberhentikan, sebagian lagi ditangkap. Bahkan, ada yang dikirim ke Ambon untuk diasingkan agar tidak lagi menimbulkan pengaruh di tanah Jawa.
Baca Juga: Seragam Sekolah Gratis Kota Blitar Tahap Finalisasi, Kapan Mulai Dibagikan?
Pengasingan ke Ambon
Pengasingan bupati Srengat ke Ambon menjadi salah satu bukti kerasnya tekanan Belanda. Mereka tidak segan-segan membuang bangsawan Jawa ke daerah yang jauh, terisolasi, dan sulit dijangkau.
Tujuan Belanda jelas, yakni memutus jaringan komunikasi para pemimpin lokal dengan masyarakat Jawa. Dengan cara itu, mereka berharap benih perlawanan tidak akan tumbuh kembali.
Namun, fakta pengasingan ini justru menunjukkan besarnya pengaruh bupati Srengat di mata kolonial. Jika tidak dianggap berbahaya, tentu Belanda tidak akan bersusah payah mengasingkan mereka ke daerah sejauh Ambon.
Dari Srengat Lahir Blitar
Setelah Kabupaten Srengat dihapus, Belanda kemudian merancang pembentukan Kabupaten Blitar. Langkah ini dilakukan untuk menata ulang kekuasaan kolonial, sekaligus mengendalikan daerah yang dinilai rawan.
Bupati pertama Blitar pun dipilih dengan sangat hati-hati. Belanda ingin memastikan bahwa pemimpin baru tidak lagi membelot seperti bupati-bupati Srengat. Loyalitas pada kolonial menjadi syarat utama.
Meski begitu, pengaruh Srengat tetap kuat. Banyak priyayi dan keturunan pengikut Diponegoro yang sudah lebih dulu menetap di Srengat akhirnya berbaur dan membentuk identitas baru di Blitar.
Baca Juga: Pemkot Blitar Pastikan Fokus Benahi RSUD Mardi Waluyo, Wali Kota Mas Ibin: Kami Terus Monitoring
Jejak Perlawanan yang Terlupakan
Kini, nama Srengat lebih dikenal sebagai kecamatan di Blitar. Sedikit sekali masyarakat yang tahu bahwa dulunya Srengat pernah menjadi kabupaten dengan peran penting dalam sejarah.
Kisah bupati Srengat yang anti-Belanda, diasingkan, hingga dikejar penjajah, menjadi bukti bahwa daerah ini punya sejarah perjuangan yang luar biasa. Sayangnya, catatan tersebut belum banyak digali.
Insan Widodo, pegiat literasi sejarah dari Srengat, berharap generasi muda tidak hanya mengenal Blitar dari tokoh besar seperti Bung Karno. “Sejarah Blitar jauh lebih tua, dan Srengat ada di dalamnya. Kita harus membuka kembali memori itu,” ujarnya.
Baca Juga: Petaka Pesta Miras di Kota Blitar, Dua Pembunuh Sempat Kabur usai Habisi Korban
Warisan untuk Generasi Muda
Kisah bupati Srengat adalah pelajaran tentang keberanian melawan ketidakadilan. Meski berisiko tinggi, mereka tetap berpihak pada rakyat dan para pejuang.
Sejarah ini juga menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajah tidak hanya dilakukan di medan perang. Keberpihakan, keberanian menampung pejuang, hingga kesetiaan pada identitas Jawa adalah bentuk lain dari perjuangan.
Dari Srengat ke Blitar, jejak sejarah itu terus hidup. Kini tugas generasi muda adalah menjaga, mengingat, dan menuliskan kembali kisah yang nyaris terlupakan. Agar Srengat tidak sekadar menjadi nama wilayah, tetapi juga simbol keberanian bangsanya.
Baca Juga: Menteri Nusron dan Wamen Ossy Ikuti Rangkaian Lengkap Upacara HUT ke-80 RI
Editor : Anggi Septian A.P.