BLITAR – Sungai Brantas bukan hanya aliran air biasa di Jawa Timur. Bagi masyarakat Jawa, sungai ini menyimpan banyak kisah sejarah dan legenda. Salah satunya terkait lahirnya arca Totok Kerot di Kediri.
Kisah Totok Kerot erat kaitannya dengan cinta Putri Lodaya dan Raja Jayabaya. Sungai Brantas menjadi jalur perjalanan, perang, dan pertemuan dua tokoh besar itu. Dari sinilah lahir legenda cinta yang berakhir kutukan.
Channel YouTube ArekDeso96 mengangkat kembali kisah ini. Mereka menekankan bahwa Brantas bukan hanya urat nadi peradaban, tapi juga saksi sejarah. Legenda Totok Kerot jadi bagian tak terpisahkan dari sungai tersebut.
Dalam cerita rakyat, Putri Lodaya berasal dari kerajaan di tepi Sungai Brantas. Ia perempuan cantik, pemberani, dan cerdas. Ketertarikannya pada Jayabaya membuatnya nekat melamar sang raja.
Namun, langkah itu dianggap tabu pada zamannya. Jayabaya menolak pinangan dengan alasan adat dan martabat. Penolakan itu membuat Putri Lodaya marah besar.
Sungai Brantas pun menjadi saksi perjalanan pasukan Lodaya menuju Kediri. Mereka melintasi dermaga-dermaga seperti Darungan dan Bacem. Namun, perjalanan cinta itu berakhir menjadi peperangan.
Pertempuran di sekitar aliran Brantas berlangsung sengit. Pasukan Lodaya kalah telak dari kekuatan Kediri. Putri Lodaya harus menanggung rasa malu sekaligus kecewa.
Dalam keputusasaan, ia berdoa sambil menatap langit. Doanya berubah jadi kutukan pada dirinya sendiri. Petir menyambar, lalu tubuhnya berubah menjadi arca raksasa.
Arca itulah yang dikenal sebagai Totok Kerot. Sampai kini, arca itu masih berdiri di Kediri. Wujudnya jadi pengingat cinta yang gagal dan dendam abadi.
Sungai Brantas tidak hanya mengalirkan air kehidupan. Ia juga membawa kisah tragis yang menempel pada sejarah Jawa. Legenda Putri Lodaya dan Jayabaya menambah aura mistis sungai ini.
Dermaga Darungan disebut sebagai titik penting perjalanan. Di sinilah banyak prajurit Lodaya menyeberang menuju Kediri. Jejak itu kini masih dikenang lewat cerita lisan masyarakat.
Candi Bacem juga kerap dikaitkan dengan kisah ini. Letaknya dekat dengan Brantas, menambah kuat narasi sejarahnya. Tempat-tempat itu jadi bukti betapa Brantas erat dengan peradaban masa lalu.
Arca Totok Kerot kini menjadi ikon budaya di Kediri. Bentuknya besar, menyeramkan, dan penuh simbol. Banyak yang percaya wajah arca itu melambangkan amarah Putri Lodaya.
Warga sekitar masih sering berziarah atau sekadar berkunjung. Ada yang membawa bunga, ada yang sekadar berfoto. Aura mistisnya membuat banyak orang merinding saat mendekat.
Meski menyeramkan, Totok Kerot juga membawa manfaat ekonomi. Situsnya kerap ramai wisatawan, mendukung pedagang lokal. Legenda tragis itu akhirnya menjadi daya tarik wisata sejarah.
Sungai Brantas dan Totok Kerot punya hubungan erat. Keduanya saling melengkapi dalam narasi legenda. Tanpa Brantas, perjalanan cinta Lodaya tak pernah tercatat.
Sejarawan menilai Brantas memang pusat peradaban kuno. Banyak kerajaan besar berdiri di tepi sungai ini. Tak heran jika banyak mitos dan legenda lahir di sekitarnya.
Legenda Totok Kerot hanyalah satu dari sekian banyak cerita. Namun, kisah ini paling populer karena melibatkan Jayabaya. Raja Kediri itu dikenal sakti dan dihormati rakyatnya.
Channel YouTube ArekDeso96 menekankan pentingnya pelestarian kisah. Generasi muda perlu mengenal legenda agar tidak terputus. Bukan hanya hiburan, tapi juga bagian identitas budaya lokal.
Pemerintah daerah Kediri juga mulai menata situs Totok Kerot. Langkah ini diharapkan menarik lebih banyak wisatawan. Selain itu, upaya ini bisa menjaga warisan dari kerusakan.
Sungai Brantas, Totok Kerot, hingga jejak Jayabaya menjadi satu rangkaian. Semua mengajarkan bahwa cinta, perang, dan sejarah saling terkait. Kisah ini jadi bukti betapa kaya budaya Jawa.
Legenda Totok Kerot memberi pelajaran tentang harga diri dan cinta. Bahwa keputusan berani bisa berujung konsekuensi besar. Bahwa takdir kadang tak bisa diubah meski dengan kekuatan.
Sungai Brantas tetap mengalir, menjadi saksi abadi. Arca Totok Kerot berdiri, mengingatkan kita pada masa lalu. Sementara cerita Lodaya dan Jayabaya terus diwariskan turun-temurun.
Editor : Anggi Septian A.P.