BLITAR – Nama Kiai Soleh Kuningan Blitar masih dikenang sebagai ulama karismatik dengan pemahaman tauhid mendalam. Kisahnya penuh hikmah dan kerap diceritakan turun-temurun oleh para sesepuh.
Salah satu cerita paling terkenal adalah pertemuannya dengan Gubernur Jawa Timur era kolonial, Charles Olke Van der Plas. Pertemuan itu terjadi karena sang gubernur penasaran dengan kedalaman ilmu tauhid Kiai Soleh.
Namun, dalam peristiwa bersejarah itu justru terjadi kejutan tak terduga. Anjing kesayangan Van der Plas ditempatkan di kursi, sementara sang gubernur dipersilakan duduk di alas. Peristiwa ini membuat penguasa kolonial kehilangan kata.
Baca Juga: Proyek Kabupaten Blitar Molor dari Target, Pemkab Blitar Sebut Karena Dampak Evaluasi KPK
Kisah bermula saat rombongan Van der Plas datang ke kediaman Kiai Soleh di kawasan Kuningan, Blitar. Dengan penuh keramahan, sang kiai mempersilakan tamu masuk. Namun, di antara rombongan itu, ikut pula seekor anjing yang sangat disayangi Van der Plas.
Hewan itu memang sering dibawa dalam berbagai kesempatan, termasuk saat sowan ke tokoh penting di Jawa. Ketika melihat kondisi tamu yang cukup banyak, Kiai Soleh berkata, “Silakan duduk di alas saja, sebab kursi tidak cukup untuk Anda semua.”
Ucapan itu masih wajar. Tetapi kemudian, Kiai Soleh menambahkan kalimat mengejutkan. Beliau berkata, “Oh ya, anjing kesayangan Tuan, silakan ditempatkan di kursi.” Sekejap suasana hening berubah panas. Van der Plas spontan naik pitam.
“Apa-apaan ini? Kami disuruh duduk di alas, sedangkan anjing ditempatkan di kursi? Ini penghinaan!” serunya dengan nada tinggi. Namun, di hadapan kemarahan gubernur kolonial, Kiai Soleh tetap tenang. Beliau justru balik bertanya dengan tatapan tajam yang penuh wibawa.
“Tuan, apakah anjing ini benar-benar kesayangan Anda?” tanya Kiai Soleh. Van der Plas menjawab tegas, “Benar, itu anjing kesayangan saya.” Dengan suara pelan namun menusuk, Kiai Soleh berkata, “Kalau begitu, tidak bolehkah saya memuliakan sesuatu yang Anda cintai lebih dari Anda sendiri?”
Jawaban itu seketika membungkam Van der Plas. Amarah yang semula meluap tiba-tiba hilang, tergantikan keheningan. Sang gubernur tidak bisa membalas satu kata pun. Bagi banyak orang, kejadian ini menjadi bukti kecerdasan sekaligus kedalaman tauhid Kiai Soleh Kuningan Blitar.
Baca Juga: MBG Mulai Dibagikan di Kabupaten Blitar, Ini Titik-titik Sasarannya
Beliau tidak hanya berani, tetapi juga memiliki logika spiritual yang membuat lawan berpikir ulang. Tak heran jika kisah ini melegenda di kalangan masyarakat Blitar. Para sepuh menuturkan bahwa peristiwa itu mengajarkan tentang hakikat cinta dunia dan kedudukan manusia di hadapan Allah.
Kiai Soleh memang dikenal memiliki cara unik dalam menanamkan pemahaman tauhid. Tidak hanya kepada tamu, bahkan keluarga sendiri pernah diuji dengan pertanyaan menohok.Salah satunya dialami seorang keponakan yang sowan ke rumah beliau. Saat ditanya, “Kamu ke sini dengan siapa?” sang keponakan menjawab, “Sendirian.” Seketika ia dipukul dengan kayu kecil oleh sang kiai.
Menurut Kiai Soleh, manusia tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap langkahnya selalu dalam pantauan Allah. Hanya Allah yang benar-benar Esa.
Baca Juga: Sejarah Sungai Brantas, Saksi Bisu Perjalanan Cinta Putri Lodaya hingga Arca Totok Kerot
Dari sini terlihat bagaimana tauhid bukan sekadar teori bagi Kiai Soleh, melainkan kesadaran yang harus tertanam dalam setiap tindakan manusia. Segala kepemilikan, cinta, dan pencapaian hanyalah pinjaman dari Allah.
Pesan ini pula yang tersirat dalam pertemuannya dengan Van der Plas. Anjing yang sangat dicintai gubernur kolonial dijadikan simbol. Bahwa sesuatu yang dicintai berlebihan bisa menutup kesadaran tentang siapa pemilik sejati kehidupan.
Jika cinta dunia sudah berlebihan, manusia akan menomorsekiankan Allah. Dan ketika Allah mencabut apa yang dicintai itu, maka rasa sakitnya akan sangat perih.
Baca Juga: Kutukan Cinta Gagal: Putri Lodaya Meminang Jayabaya, Lalu Jadi Arca Raksasa Totok Kerot
Kisah Kiai Soleh Kuningan Blitar ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi masa kini. Bahwa kecerdasan spiritual bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari sekadar kekuasaan duniawi.
Seorang gubernur kolonial yang berkuasa pun bisa kehilangan kata hanya karena jawaban sederhana dari seorang ulama.
Hingga kini, nama Kiai Soleh tetap hidup dalam ingatan masyarakat Blitar. Kisahnya menjadi teladan tentang tauhid, kesederhanaan, dan keberanian menghadapi kesombongan.
Demikianlah kisah Kiai Soleh Kuningan Blitar dan peristiwa unik yang membuat Gubernur Belanda Van der Plas terdiam. Sebuah cerita penuh hikmah yang layak dikenang dan dijadikan inspirasi.
Editor : Anggi Septian A.P.