BLITAR – Nama Kiai Soleh Kuningan Blitar begitu melegenda di telinga masyarakat. Ia dikenal sebagai ulama kharismatik yang mendalami ilmu tauhid hingga ke akar terdalam.
Tidak hanya hafal Alquran dan hadis, Kiai Soleh Kuningan Blitar juga menguasai tradisi keilmuan Jawa. Cara beliau mendidik pun terbilang unik, bahkan sering menguji santri maupun keluarga dengan pertanyaan yang menohok.
Kisah-kisah tentang metode pendidikan Kiai Soleh masih dituturkan para sepuh Blitar. Mereka menyebut, sebelum sowan kepada sang kiai, setiap orang harus membekali diri dengan pemahaman tauhid yang kokoh.
Baca Juga: Proyek Kabupaten Blitar Molor dari Target, Pemkab Blitar Sebut Karena Dampak Evaluasi KPK
Salah satu cerita yang kerap jadi pembelajaran adalah pengalaman seorang keponakan Kiai Soleh. Ketika sowan, ia ditanya, “Kamu ke sini dengan siapa?” Dengan polos ia menjawab, “Sendirian.” Mendengar jawaban itu, Kiai Soleh langsung memukulnya dengan kayu kecil. Bukan karena marah, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri.
Menurut sang kiai, hanya Allah yang Maha Esa dan benar-benar “sendiri”. Sedangkan manusia, di manapun ia berada, selalu dalam pantauan Sang Pencipta. Metode unik inilah yang membuat banyak orang segan ketika ingin bertemu. Santri, keluarga, bahkan tamu luar selalu menyiapkan jawaban matang jika ditanya soal tauhid.
Bagi Kiai Soleh Kuningan Blitar, tauhid bukan sekadar hafalan, melainkan kesadaran hidup. Setiap kalimat yang diucapkannya selalu mengandung pesan mendalam agar manusia tak terjebak pada kesombongan dunia. Ia sering mengingatkan, jabatan, harta, hingga kekuasaan hanyalah titipan. Manusia kerap mengklaim pencapaian sebagai hasil jerih payah sendiri, padahal sejatinya semua bersumber dari Allah.
Cerita lain yang tak kalah menarik adalah pertemuannya dengan Gubernur Jawa Timur era kolonial, Charles Olke Van der Plas. Dalam peristiwa itu, kecerdasan tauhid Kiai Soleh membuat sang gubernur bungkam tak bisa berkata apa-apa.
Namun, inti dari semua kisah itu selalu kembali pada satu hal: peneguhan tauhid. Kiai Soleh ingin setiap orang menyadari bahwa kehidupan sepenuhnya berada dalam genggaman Allah. Dengan cara yang sederhana, beliau berhasil menyampaikan pesan spiritual yang tajam, bahkan kepada penguasa sekalipun.
Metode pendidikan Kiai Soleh juga memperlihatkan bahwa ilmu agama harus dihidupkan dalam praktik sehari-hari. Pertanyaan menohok dan cara mendidik keras tapi penuh makna membuat murid maupun keluarganya selalu waspada dalam menjaga aqidah.
Baca Juga: MBG Mulai Dibagikan di Kabupaten Blitar, Ini Titik-titik Sasarannya
Bagi beliau, menguji santri dengan pertanyaan filosofis bukanlah untuk mempermalukan, melainkan untuk menanamkan kesadaran. Tauhid adalah pondasi utama yang tidak boleh goyah dalam situasi apapun.
Tak heran jika nama Kiai Soleh Kuningan Blitar terus dikenang hingga kini. Figur beliau menjadi simbol ulama yang tegas, mendalam ilmunya, sekaligus mengedepankan nilai keikhlasan. Para tokoh sepuh Blitar menuturkan bahwa pengaruh Kiai Soleh masih terasa sampai sekarang. Banyak keluarga santri yang menanamkan tradisi “uji tauhid” sebelum anak-anak mereka belajar ke pesantren.
Hal ini diyakini sebagai bentuk warisan cara mendidik yang ditinggalkan sang kiai. Bukan sekadar belajar kitab, tetapi juga mengasah ketajaman hati dalam memahami keesaan Allah. Generasi sekarang pun bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah itu. Bahwa dalam hidup modern sekalipun, kesadaran tauhid tetap relevan dan penting untuk menjaga hati dari kesombongan.
Baca Juga: Sejarah Sungai Brantas, Saksi Bisu Perjalanan Cinta Putri Lodaya hingga Arca Totok Kerot
Hingga kini, kisah Kiai Soleh Kuningan Blitar terus menjadi bahan nasihat di berbagai forum pengajian. Cerita tentang hafalannya terhadap Alquran, kemampuannya dalam hadis, hingga pertanyaan-pertanyaan menohoknya selalu memberi inspirasi.
Warisan itu bukan hanya berupa pengetahuan, melainkan juga metode mendidik yang khas. Cara sederhana tapi tajam, keras tapi penuh kasih sayang, dan meneguhkan tauhid di atas segalanya.
Demikianlah kisah Kiai Soleh Kuningan Blitar, ulama yang tak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mengajarkan bahwa tauhid harus hidup dalam setiap napas manusia. Sebuah teladan yang tetap segar untuk direnungkan hingga hari ini.
Editor : Anggi Septian A.P.