BLITAR – Pemeritah Kabupaten (Pemkab) Blitar mengalami penurunan dalam indikator Kabupatan Kota Sehat (KKS) pada 2023 lalu.
Hampir semua sektor mengalami penurunan. Tahun ini, pemkab mulai berbenah dan menargetkan predikat Swasti Saba Wiwerda.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati mengatakan, penurunan pencapaian pada 2023 disebabkan adanya perubahan indikator program KKS.
Ditambah, dampak pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah program tidak berjalan optimal.
“Saat ini kami masih Swasti Saba Padapa, berusaha bangkit lagi untuk bisa naik kelas ke Wiwerda tahun ini. Semua kegiatan yang sudah dilakukan akan kami inventarisasi bersama lintas sektor. Tentu untuk meraih kembali predikat tertinggi KKS,” jelasnya.
Dia melanjutkan, upaya persiapan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, pengusaha, organisasi masyarakat, komunitas, media, hingga masyarakat umum.
Semua unsur tersebut akan berkolaborasi untuk memenuhi indikator KKS. Tentu tidak mudah memang mempertahankan predikat KKS, apalagi dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran.
“Meskipun begitu, Pemkab Blitar yakin tahun ini bisa memenuhi 8 indikator yang telah ditentukan,” jelas Christine.
Indikator tersebut, di antaranya, kehidupan masyarakat sehat dan mandiri, permukiman dan fasilitas umum, satuan pendidikan, pasar, perkantoran dan perindustrian, pariwisata, transportasi dan tertib lalu lintas, perlindungan sosial, serta penanggulangan bencana.
“Target kami sesuai self assessment yang dikirim ke pusat, Kabupaten Blitar mengajukan penghargaan Swasti Saba Wiwerda untuk tahun ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto menyampaikan, Kabupaten Blitar saat ini tengah menjalani verifikasi lanjutan dari tim verifikator tingkat nasional.
Dalam kesempatan itu, Pemkab Blitar memaparkan sejumlah program sekaligus menerima masukan.
Ada beberapa indikator yang masih terjadi kekurangan untuk dilengkapi. Ada beberapa indikator yang menjadi perhatian, mulai dari kesehatan, lingkungan hidup, permukiman, hingga kesiapsiagaan bencana.
Menurutnya, hal itu semua harus dicukupi dengan baik untuk meraih predikat Wiwerda.
“Kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah sangat penting. Kalau indikator dipenuhi, risiko bencana bisa ditekan,” ungkapnya.
Rijanto menekankan pentingnya sinergi antarorganisasi perangkat daerah agar kekurangan di lapangan bisa segera ditutupi.
Apalagi, Kabupaten Blitar memiliki potensi kebencanaan yang tinggi. Dia optimistis, dengan kerja sama lintas sektor, Kabupaten Blitar bisa kembali meraih penghargaan Kabupaten Sehat.
“Dulu capaian Kabupaten Sehat sudah cukup bagus. Namun tidak ada keberlanjutan dari pemerintah sebelumnya. Kini saatnya kami dongkrak lagi agar lebih baik,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Baca Juga: Kiai Soleh Kuningan Blitar: Kisah Tauhid yang Membuat Gubernur Belanda Bungkam
Editor : M. Subchan Abdullah