Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tradisi Sadis di Jawa: Rampogan Macan Blitar, Ritual Idul Fitri yang Justru Membantai Harimau

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Jumat, 22 Agustus 2025 | 03:30 WIB
Saat Idul Fitri identik dengan silaturahmi dan kemenangan umat Islam, di masa lalu masyarakat Jawa justru punya cara lain yang ekstrem.
Saat Idul Fitri identik dengan silaturahmi dan kemenangan umat Islam, di masa lalu masyarakat Jawa justru punya cara lain yang ekstrem.

BLITAR – Saat Idul Fitri identik dengan silaturahmi dan kemenangan umat Islam, di masa lalu masyarakat Jawa justru punya cara lain yang ekstrem. Tradisi itu bernama rampogan macan blitar, sebuah ritual berdarah yang melibatkan pembantaian harimau di tengah alun-alun.

Kisah ini terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin hari suci umat Islam justru dirayakan dengan mengorbankan binatang buas? Namun, catatan sejarah dan sumber lokal menunjukkan, rampogan macan pernah menjadi bagian dari rangkaian perayaan besar di Jawa, termasuk di wilayah Blitar.

Menurut kanal Sepulang Sekolah, tradisi rampogan macan muncul sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Ritual ini biasanya diadakan di Yogyakarta, Surakarta, hingga merambah ke Jawa Timur. Rampogan macan blitar bahkan tercatat pernah berlangsung di alun-alun kota pada tahun 1894.

Tradisi ini awalnya bukan sekadar hiburan. Rampogan macan dipercaya sebagai upacara sakral untuk mengusir roh jahat dan musibah dari tengah masyarakat. Harimau yang ditangkap dianggap sebagai simbol mara bahaya, sehingga pembantaiannya diyakini bisa melindungi warga.

Namun, seiring waktu fungsi religius itu bergeser. Dari upacara sakral, rampogan macan berubah menjadi tontonan massal. Bahkan, Sultan dan Susuhunan kerap menghadirkan tradisi ini untuk menyambut tamu penting dari Eropa.

“Bagi orang Jawa, macan adalah lambang kejahatan. Membunuh macan sama artinya dengan penyucian diri,” tulis Robert Wessing dalam jurnal A Tiger in the Heart: The Javanese Rampok Macan yang dikutip Sepulang Sekolah.

Uniknya, rampogan macan tidak berdiri sendiri. Sebelum acara utama, biasanya digelar pertunjukan lain yang disebut Sima Meisa. Dalam ritual itu, seekor kerbau diadu dengan seekor harimau di arena bambu.

Kerbau kerap keluar sebagai pemenang. Harimau yang kalah tidak langsung dibunuh, melainkan dilemahkan, lalu digunakan kembali pada acara rampogan macan. Setelah itu, giliran para laki-laki bersenjata tombak yang disebut “gandek” mengepung dan menyerang harimau hingga mati.

Tak jarang tombak yang digunakan sudah dilumuri racun agar lebih cepat membunuh. Pertunjukan ini berlangsung lama, hingga semua harimau yang dilepas berhasil ditumbangkan.

Di Blitar, rampogan macan pernah meninggalkan kisah dramatis. Pada 1894, seekor macan kumbang berhasil kabur dari kepungan dan menerjang penonton. Suasana panik tak terhindarkan. Warga berlarian, ada yang naik pohon, hingga pedagang makanan merugi karena dagangannya porak-poranda.

“Bahkan ada kisah seorang lelaki iseng yang memanfaatkan situasi untuk memeluk perempuan yang ketakutan. Aksinya ketahuan dan langsung dikejar petugas,” tulis R. Kartawibawa dalam Baghdad Mawi Rampok.

Kisah ini menunjukkan bahwa rampogan macan bukan hanya berbahaya bagi hewan, tetapi juga bagi masyarakat yang menyaksikannya.

Meski terkesan kejam, sebagian sejarawan menilai rampogan macan punya makna simbolis yang lebih dalam. Harimau sering dipandang sebagai representasi penjajah Eropa yang kejam. Sedangkan kerbau atau masyarakat Jawa digambarkan sebagai pihak yang sederhana namun kuat.

Dengan kerbau yang sering menang, rampogan macan dianggap menyimpan pesan politik tersembunyi. Bahwa masyarakat Jawa mampu melawan kesewenang-wenangan para penjajah. Sayangnya, orang-orang Eropa yang menonton saat itu lebih melihatnya sebagai hiburan eksotis, bukan simbol perlawanan.

Tradisi ini akhirnya punah di awal abad ke-20. Salah satu alasan utama adalah semakin sedikitnya populasi harimau Jawa, yang kini resmi dinyatakan punah. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda pada 1910 mengeluarkan Undang-Undang Perlindungan Satwa yang melarang perburuan berlebihan.

Ada juga anggapan bahwa Belanda mulai curiga dengan pesan simbolis dalam rampogan macan. Mereka khawatir acara itu membangkitkan semangat perlawanan rakyat Jawa. Karena itu, kolonial memutuskan untuk menghentikan tradisi berdarah ini.

Sejak 1923, rampogan macan tak lagi ditemukan dalam catatan sejarah masyarakat Blitar maupun Jawa. Yang tersisa hanya cerita, arsip kolonial, dan kisah lisan masyarakat.

Hari ini, cerita rampogan macan blitar kerap jadi bahan perdebatan. Ada yang menganggapnya sebagai warisan budaya kelam yang memang pantas dihapus. Ada pula yang menilai tradisi itu bagian dari identitas sejarah Jawa yang perlu dikenang, meskipun penuh darah.

Pertanyaan yang tersisa: apakah kita akan mengingat rampogan macan sebagai warisan brutal, atau mengambil makna simboliknya saja? Sejarah telah mencatat, masyarakat Jawa dulu pernah menyambut Idul Fitri dengan cara yang tak akan kita bayangkan di masa kini.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Rampogan Macan #sejarah blitar