BLITAR – Rampogan macan dikenal sebagai tontonan berdarah di Jawa pada masa lalu. Namun, beberapa peneliti menyebut tradisi ini tidak bisa dilepaskan dari kesenian rakyat. Kaitan rampogan macan Blitar dengan budaya lain, seperti Reog dan Kuda Lumping, justru memperlihatkan sisi unik tradisi tersebut. Ia bukan sekadar ritual pembantaian harimau.
Hal ini diulas kanal Sepulang Sekolah, yang menyoroti jejak seni pertunjukan dalam rampogan macan. Dari simbol, musik, hingga makna spiritual, semua berkelindan. Rampogan macan pada dasarnya adalah ritual yang digelar di alun-alun. Seekor harimau dilepaskan dan dikeroyok dengan tombak oleh puluhan orang.
Bagi masyarakat Jawa masa lampau, tradisi ini dipandang sebagai penolak bala. Harimau dianggap lambang marabahaya yang harus dimusnahkan agar desa selamat. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, pola pertunjukan rampogan macan tak bisa dilepaskan dari seni budaya rakyat. Ia hadir bersama musik, simbol, dan tata peran.
Menurut Sepulang Sekolah, rampogan macan sering dilengkapi dengan iringan gamelan. Suara gong dan kendang mengiringi jalannya ritual, memberi atmosfer sakral sekaligus teatrikal. Iringan musik ini mengingatkan pada pertunjukan Reog Ponorogo, di mana barongan macan menjadi ikon utama. Reog bukan hanya hiburan, tapi juga sarat simbol perlawanan.
Keterhubungan ini menunjukkan bahwa rampogan macan bisa dibaca sebagai bagian dari seni pertunjukan Jawa. Bukan sekadar tontonan sadis yang mengorbankan hewan. Tak hanya dengan Reog, rampogan macan juga memiliki kesamaan dengan Kuda Lumping. Dalam kesenian tersebut, penarinya sering mengalami trance atau kesurupan.
Demikian pula dengan rampogan macan Blitar. Para penombak kadang dipercaya mendapat kekuatan spiritual khusus, sehingga mampu menghadapi hewan buas tanpa gentar. Keduanya sama-sama memadukan ritual, musik, dan kepercayaan mistis yang berakar kuat dalam masyarakat Jawa.
Catatan kolonial abad ke-19 menyebut, rampogan macan sering dipentaskan saat perayaan besar. Misalnya Idul Fitri, Tahun Baru Jawa, hingga penyambutan tamu Belanda. Uniknya, penonton Eropa hanya melihat ini sebagai tontonan eksotis. Mereka tidak menyadari bahwa dalam pertunjukan tersebut tersimpan lapisan makna budaya.
Hal inilah yang kemudian membuat rampogan macan sering disalahpahami sebagai hiburan kejam, padahal ada konteks ritual dan seni di baliknya. Sama seperti Reog yang dianggap punya akar perlawanan terhadap Majapahit, rampogan macan juga menyimpan tafsir simbolik. Harimau sering dimaknai sebagai penjajah yang sewenang-wenang.
Sementara para penombak dianggap mewakili rakyat kecil yang berani melawan kekuasaan. Inilah yang membuat tradisi ini punya nuansa politik sekaligus budaya. Keterhubungan makna itu memperlihatkan bahwa rampogan macan tak bisa dipisahkan dari ekspresi seni rakyat Jawa yang penuh simbol.
Di Blitar, rampogan macan tercatat pernah digelar pada tahun 1894. Saat itu, seekor macan kumbang kabur dari arena hingga membuat penonton panik naik pohon. Peristiwa itu menjadi legenda lokal yang mempertegas betapa kuatnya memori masyarakat terhadap tradisi ini. Bahkan hingga kini, kisah itu masih sering diceritakan.
Bagi masyarakat Blitar, rampogan macan bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bagian dari identitas kultural. Seiring berkembangnya zaman, rampogan macan akhirnya dilarang. Pemerintah Belanda pada awal 1900-an menekan praktik ini dengan alasan perlindungan satwa.
Namun, banyak sejarawan berpendapat bahwa kolonial juga takut pada makna simbolik rampogan macan. Pesan perlawanan yang tersirat dianggap bisa membakar semangat rakyat. Akhirnya, tradisi ini pun benar-benar hilang pada 1920-an, meninggalkan kisah sekaligus kontroversi.
Kini, diskusi soal rampongan macan Blitar kembali mencuat. Ada yang menganggapnya warisan brutal yang tak patut dikenang. Tetapi ada pula yang melihatnya sebagai bukti bahwa kesenian Jawa selalu kaya simbol, dari Reog, Kuda Lumping, hingga rampogan macan. Semua menunjukkan cara masyarakat menyuarakan keyakinan, doa, bahkan perlawanan lewat seni pertunjukan.
Editor : Anggi Septian A.P.