Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Punahnya Harimau Jawa, Warisan Kelam Rampogan Macan Blitar yang Jadi Kontroversi

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Jumat, 22 Agustus 2025 | 01:30 WIB
Harimau Jawa resmi dinyatakan punah sejak 1980-an. Namun, jauh sebelum itu, nasib satwa ini sudah terancam oleh sebuah tradisi berdarah.
Harimau Jawa resmi dinyatakan punah sejak 1980-an. Namun, jauh sebelum itu, nasib satwa ini sudah terancam oleh sebuah tradisi berdarah.

BLITAR – Harimau Jawa resmi dinyatakan punah sejak 1980-an. Namun, jauh sebelum itu, nasib satwa ini sudah terancam oleh sebuah tradisi berdarah. Tradisi tersebut adalah rampongan macan Blitar, sebuah ritual yang mengadu manusia dengan harimau di alun-alun. Dalam setiap perhelatan, seekor macan dibunuh secara massal.

Kanal Sepulang Sekolah menyebut bahwa rampongan macan bukan hanya hiburan, tetapi juga jadi salah satu faktor mempercepat punahnya macan Jawa. Dalam catatan kolonial abad ke-19, rampogan macan digelar hampir di setiap kota besar di Jawa. Blitar menjadi salah satu tempat yang paling sering mengadakan.

Setiap pertunjukan, satu hingga dua ekor harimau dilepas, lalu dihadang puluhan penombak. Harimau biasanya mati dengan cara mengenaskan di depan ribuan penonton. Masyarakat kala itu meyakini tradisi ini sebagai tolak bala, simbol kemenangan manusia atas marabahaya yang diwujudkan dalam wujud macan.

Namun, di balik keyakinan tersebut, ada dampak ekologis besar. Harimau Jawa yang habitatnya sudah semakin sempit harus kehilangan populasi secara masif. Sepulang Sekolah menulis, rampongan macan menjadi salah satu penyebab macan Jawa makin sulit ditemui. Jumlah mereka terkuras karena terus ditangkap untuk bahan tontonan.

Dengan demikian, apa yang dulu dianggap ritual sakral justru berkontribusi pada hilangnya salah satu predator utama Pulau Jawa. Ironisnya, rampogan macan justru sering dipromosikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Mereka menganggapnya hiburan eksotis yang bisa menarik perhatian orang Eropa.

Bahkan, catatan tahun 1894 menyebut ada peristiwa dramatis di Blitar. Seekor macan kumbang berhasil kabur dari arena, membuat penonton panik dan lari naik pohon. Kejadian itu mempertegas bahwa di balik seramnya tontonan, rampongan macan juga penuh risiko yang bisa membahayakan manusia.

Kini, ketika Harimau Jawa sudah punah, tradisi ini dipandang dengan kacamata berbeda. Banyak kalangan menyebutnya sebagai warisan kelam masa lalu. Kita tak bisa memutar waktu, tetapi jejak tradisi ini menjadi pengingat tentang bagaimana budaya manusia bisa memusnahkan satwa langka.

Di era modern, pesan ekologis ini semakin relevan, terutama ketika banyak spesies lain di Indonesia menghadapi ancaman serupa. Meski begitu, rampongan macan Blitar tidak hanya menyimpan cerita tentang kekejaman. Ada pula tafsir simbolik yang lebih dalam.

Bagi sebagian sejarawan, harimau dipandang sebagai lambang kekuasaan asing. Sementara para penombak mewakili rakyat Jawa yang berani melawan. Dengan tafsir ini, rampongan macan menjadi semacam “teater politik” yang memadukan seni, ritual, dan pesan perlawanan.

Kontroversi pun muncul. Apakah rampogan macan harus dikenang sebagai ekspresi budaya, atau ditinggalkan karena menyumbang pada punahnya satwa?. Sebagian kalangan menganggap tradisi ini bagian dari warisan yang harus dipelajari, bukan untuk diulang. Dari sini kita bisa belajar tentang kesalahan masa lalu.

Namun, yang lain menekankan bahwa mengenang rampogan macan berarti juga menanggung rasa bersalah historis atas hilangnya Harimau Jawa. Kini, Blitar tidak lagi punya rampogan macan, tetapi kisahnya masih sering dibicarakan. Apalagi dengan makin gencarnya isu lingkungan dan konservasi satwa.

Nama rampongan macan Blitar muncul kembali dalam diskusi publik, bukan sebagai kebanggaan, melainkan peringatan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Dari sini, kita belajar bahwa warisan budaya tidak selalu indah. Ada kalanya ia meninggalkan luka panjang pada alam dan kehidupan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Rampogan Macan #sejarah blitar