BLITAR – Nama Candi Gambar Wetan kembali jadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sejarah dan budaya. Terletak di kawasan Perkebunan Gambar, Kabupaten Blitar, situs peninggalan era Majapahit ini menyimpan banyak cerita misterius. Salah satunya tentang dua arca raksasa yang berdiri di pintu masuk, dikenal warga sebagai Arca Mbah Bodo dan Mbah Dewo.
Cerita mengenai dua arca ini muncul dalam penelusuran konten kreator sejarah dan budaya, Wima Brahmantya, di kanal YouTube miliknya. Ia menyebut bahwa warga sekitar percaya kedua arca tersebut bukan sekadar batu berukir, melainkan penjaga gaib Candi Gambar Wetan. Tak heran, aura mistis langsung terasa begitu pengunjung melangkahkan kaki menuju kompleks candi.
Sejak dulu, kisah tentang Mbah Bodo dan Mbah Dewo diwariskan dari mulut ke mulut. Penamaan ini tak bisa dilepaskan dari tradisi masyarakat Jawa yang akrab dengan simbol-simbol spiritual. Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, keyakinan warga menambah nuansa merinding ketika berada di sekitar candi.
Dari Atas Diturunkan dengan Katrol
Arca Dwarapala memang sudah lama menjadi bagian penting arsitektur candi-candi Jawa. Namun di Candi Gambar Wetan, kisahnya sedikit berbeda. Menurut penuturan Wima, awalnya hanya ada satu arca besar di pintu masuk. Arca kedua sesungguhnya berada di bagian atas, menempati posisi rawan yang dikhawatirkan bisa roboh.
Untuk alasan keamanan, pihak purbakala kemudian menurunkan arca tersebut dengan bantuan katrol. Bayangkan, batu raksasa seberat puluhan ton diturunkan perlahan hingga akhirnya bisa berdiri berdampingan dengan arca pertama. Sejak saat itu, warga menamai keduanya Mbah Bodo dan Mbah Dewo, seolah menjadi pasangan penjaga gerbang menuju dunia leluhur.
Bukan “Bodoh” tapi “Buddha”
Nama Mbah Bodo sering disalahartikan sebagai bodoh. Padahal, menurut penuturan warga, istilah itu lebih dekat dengan kata “Buddha”. Meski Candi Gambar Wetan adalah candi Hindu peninggalan Majapahit, warga percaya penyebutan itu justru menandakan penghormatan kepada tradisi keagamaan kuno.
Sementara Mbah Dewo melambangkan sosok dewa yang menjaga keseimbangan. Perpaduan dua arca ini dianggap sebagai simbol harmoni, pengingat bahwa manusia harus selalu menghormati leluhur dan menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan gaib.
Aura Mistis yang Tak Pernah Hilang
Pengunjung yang datang kerap mengaku merinding ketika melewati pintu masuk candi. Aura dingin, hening, dan angker seolah langsung menyelimuti. Apalagi, lokasinya yang berada di ketinggian 600 meter dengan jalan setapak terjal menambah nuansa seolah sedang memasuki dunia lain.
“Kalau ke sini jangan lupa kulo nuwun, minta izin pada tempatnya. Apa pun keyakinan kita, penting untuk menunjukkan rasa hormat pada peninggalan leluhur,” pesan Wima dalam videonya.
Jejak Majapahit di Blitar
Secara historis, Candi Gambar Wetan diyakini berdiri pada masa kejayaan Majapahit. Ada perbedaan pendapat soal tahun berdirinya. Wikipedia menyebut sekitar 1410 Masehi, sementara arkeolog lokal, Feri Riandika, meyakini candi ini didirikan tahun 1357 Masehi, tepat di era Raja Hayam Wuruk.
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa Candi Gambar Wetan memang saksi bisu kejayaan Majapahit. Kehadiran arca-arca penjaga di pintu masuk semakin menegaskan peran candi ini sebagai tempat sakral yang tidak sembarang orang bisa memasukinya.
Dari Religi hingga Kisah Rakyat
Selain arca, relief-relief di dinding candi juga menjadi bukti kekayaan budaya masa lalu. Ada kisah Bubuksa dan Gagang Aking, ada pula cerita Panji dengan tokoh bertopi tekkes. Bahkan, cerita fabel klasik tentang Kancil, Lembu, dan Buaya juga tergambar di sini.
Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa Candi Gambar Wetan bukan sekadar bangunan suci, melainkan juga pusat kebudayaan yang merekam kehidupan spiritual, moral, hingga hiburan rakyat. Keberadaan Mbah Bodo dan Mbah Dewo menambah dimensi mistis sekaligus kultural di dalamnya.
Layak Jadi Laboratorium Sejarah
Sayangnya, akses menuju lokasi masih cukup sulit. Jalan yang sempit, sarana minim, serta belum adanya fasilitas wisata membuat banyak orang belum mengetahui keberadaan candi ini. Wima pun menilai bahwa Candi Gambar Wetan lebih cocok dijadikan laboratorium sejarah terbuka ketimbang sekadar objek wisata.
“Bayangkan kalau sekolah-sekolah rutin mengajak siswanya ke sini. Mereka bisa belajar langsung tentang sejarah Majapahit, membaca relief, hingga merasakan aura dua arca penjaga. Itu jauh lebih berkesan daripada hanya membaca buku,” ujarnya.
Penjaga Abadi
Meski zaman terus berubah, misteri Mbah Bodo dan Mbah Dewo tetap hidup dalam ingatan warga. Bagi sebagian orang, keduanya hanyalah batu berukir. Namun bagi masyarakat lokal, keduanya adalah penjaga abadi yang melindungi warisan leluhur.
Mungkin inilah daya tarik utama Candi Gambar Wetan: perpaduan antara sejarah, mitologi, dan spiritualitas yang sulit dipisahkan. Sebuah peninggalan Majapahit yang tak hanya menyimpan cerita kejayaan masa lalu, tetapi juga menuntun kita untuk tetap menghargai budaya leluhur.
Editor : Anggi Septian A.P.