Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Prasasti Panumbangan: Jejak Anugerah Raja Kediri di Candi Plumbangan Blitar

Anggi Septiani • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 14:30 WIB
Prasasti Panumbangan: Jejak Anugerah Raja Kediri di Candi Plumbangan Blitar
Prasasti Panumbangan: Jejak Anugerah Raja Kediri di Candi Plumbangan Blitar

Blitar – Keberadaan candi plumbangan di Desa Pelumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, ternyata menyimpan sejarah penting bagi masyarakat Jawa kuno. Di kompleks candi ini ditemukan sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Panumbangan. Isinya mencatat bahwa Raja Bameswara dari Kerajaan Kediri memberikan anugerah khusus kepada warga desa.

Prasasti Panumbangan menjadi bukti nyata bahwa candi plumbangan bukan sekadar bangunan kuno tanpa makna. Catatan di dalamnya menunjukkan desa ini pernah memperoleh status desa swatantra, atau desa otonom, dari sang raja. Anugerah itu diberikan sebagai bentuk penghargaan atas jasa warga desa Panumbangan yang turut membantu kerajaan dalam menghadapi musuh.

Kisah sejarah ini semakin menegaskan betapa candi plumbangan memiliki nilai yang tak ternilai bagi Blitar. Sayangnya, belum banyak warga Blitar yang benar-benar mengetahui makna mendalam dari peninggalan ini. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, prasasti tersebut adalah simbol pengakuan kerajaan terhadap keberanian rakyatnya.

Anugerah dari Raja Bameswara

Menurut catatan pada prasasti, Raja Bameswara yang merupakan raja keenam Kediri, menganugerahkan prasasti kepada warga Panumbangan pada tahun 1042 Saka. Pemberian ini berkaitan erat dengan jasa besar masyarakat desa yang turut serta membantu kerajaan. Bentuk anugerah itu berupa pengakuan sebagai desa swatantra, yakni desa dengan hak mengatur pemerintahannya sendiri.

Status desa swatantra pada masa itu merupakan penghargaan tinggi. Sebab, tidak semua wilayah mendapat kehormatan serupa. Dengan status ini, Panumbangan memiliki hak-hak istimewa dalam mengurus urusan internal tanpa terlalu banyak campur tangan kerajaan pusat.

Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Panumbangan sangat penting dalam sistem pemerintahan Kediri. Masyarakat desa bukan hanya penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari perjalanan sejarah kerajaan.

Dari Panumbangan Menjadi Pelumbangan

Salah satu hal menarik dari sejarah ini adalah perubahan nama desa. Dahulu dikenal sebagai Panumbangan, kini lebih populer dengan sebutan Pelumbangan. Perubahan ini tidak diketahui secara pasti penyebabnya.

Namun, sebagian sejarawan menduga kata Panumbangan berasal dari kata “tumbang”. Hal itu berkaitan dengan peran masyarakat desa yang ikut menumbangkan musuh kerajaan Kediri. Dari situlah muncul istilah Panumbangan, yang lambat laun berubah pelafalannya menjadi Pelumbangan.

Meski hanya perubahan kecil, hal ini menjadi bukti bahwa bahasa dan sejarah selalu bergerak dinamis. Nama desa yang kita kenal sekarang adalah jejak hidup dari perjalanan panjang masyarakatnya.

Baca Juga: ASN Digital, Jalan BKN Pastikan Honorer Jadi PPPK Menuju Indonesia Emas 2045

Candi Plumbangan, Lebih dari Sekadar Gerbang

Di kompleks ini, bangunan yang masih berdiri kokoh hingga kini dikenal sebagai Paduraksa, atau gerbang kuno. Paduraksa itu dipandang sebagai penanda wilayah desa swatantra. Hal ini semakin memperkuat isi prasasti yang menyebutkan Panumbangan sebagai desa otonom.

Bangunan gerbang ini menarik karena berbeda dengan gaya arsitektur kerajaan Singasari maupun Majapahit. Tidak ditemukan pahatan relief kala seperti yang lazim di masa itu. Justru, bentuknya lebih dekat dengan gaya arsitektur Kediri.

Uniknya lagi, Paduraksa ini merupakan satu-satunya bangunan asli yang masih berada di lokasi sejak dulu. Sedangkan benda-benda lain seperti Yoni, Arca Durga, dan beberapa artefak sudah dipindahkan ke Museum Penataran.

Nilai Sejarah yang Terlupakan

Meskipun menyimpan catatan penting, situs bersejarah ini kurang mendapat perhatian. Banyak warga Blitar yang belum mengetahui nilai besar dari Candi Plumbangan dan Prasasti Panumbangan. Bahkan, juru pelihara di lokasi menyebut bahwa 90 persen warga sekitar tidak paham sejarah situs tersebut.

Padahal, jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang membanggakan. Tidak hanya sekadar tempat berfoto, tetapi juga ruang edukasi untuk mengenalkan kejayaan Kediri kepada generasi muda.

Situs ini ibarat museum kecil di Desa Pelumbangan. Koleksi prasasti, Yoni, dan peninggalan lain menjadi bukti peradaban yang pernah hidup di wilayah ini. Sayangnya, fasilitas di sekitar lokasi masih minim, mulai dari toilet, pos jaga, hingga pagar pelindung.

Harapan untuk Masa Depan

Banyak pihak berharap pemerintah daerah lebih serius memperhatikan Candi Plumbangan. Jika diberi sentuhan perawatan, situs ini akan lebih layak sebagai destinasi wisata sejarah. Apalagi, Blitar selama ini dikenal sebagai daerah kaya peninggalan budaya.

Candi-candi di Blitar umumnya lebih populer di wilayah utara, seperti Candi Penataran. Kehadiran Candi Plumbangan bisa menjadi penyeimbang, khususnya di wilayah selatan Blitar. Dengan pengelolaan yang tepat, wisata sejarah di Blitar akan semakin beragam.

Selain itu, pelibatan masyarakat lokal sangat penting. Warga Pelumbangan bisa menjadi garda depan dalam merawat sekaligus mengenalkan sejarah ini. Dengan begitu, nilai prasasti yang dulu dijadikan hadiah Raja Bameswara tetap hidup hingga kini.

Baca Juga: Penerima Bantuan Anak Yatim Rp600 Ribu Juga Mulai Didistribusikan Juli–September 2025

Warisan untuk Generasi Mendatang

Lebih dari sekadar batu kuno, Prasasti Panumbangan adalah pesan sejarah yang diwariskan kepada generasi penerus. Ia mengingatkan kita bahwa masyarakat desa pernah memiliki peran besar dalam menjaga kedaulatan kerajaan.

Keberanian mereka dalam membantu Kediri melawan musuh menjadi alasan lahirnya anugerah desa swatantra. Kini, jejak itu masih bisa kita saksikan melalui prasasti dan bangunan candi.

Maka, menjaga Candi Plumbangan berarti menjaga warisan identitas Blitar. Bukan hanya untuk kepentingan wisata, tetapi juga sebagai pengingat bahwa desa-desa di Blitar pernah berperan penting dalam perjalanan sejarah Nusantara.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Candi plumpungan #Wima brahmantya