Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Misteri Usia Candi Plumbangan: Peninggalan Kediri atau Majapahit?

Anggi Septiani • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 13:30 WIB
Misteri Usia Candi Plumbangan: Peninggalan Kediri atau Majapahit?
Misteri Usia Candi Plumbangan: Peninggalan Kediri atau Majapahit?

Blitar – Keberadaan candi plumbangan di Desa Pelumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, menyimpan misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Para ahli masih memperdebatkan asal-usul bangunan kuno ini. Pertanyaannya sederhana, apakah Candi Plumbangan merupakan peninggalan Kerajaan Kediri atau Majapahit?

Perdebatan ini muncul dari adanya kronogram atau angka tahun yang terpahat pada bangunan. Ada dua versi pembacaan: sebagian ahli membaca 1312 Saka, sementara yang lain membaca 1213 Saka. Perbedaan ini berimplikasi besar terhadap penentuan masa berdirinya candi plumbangan.

Jika kronogram dibaca 1312 Saka, maka pembangunan terjadi pada masa pemerintahan Raja Wikramawardana dari Majapahit. Sebaliknya, jika dibaca 1213 Saka, maka bangunan ini lebih tepat dikaitkan dengan masa akhir Kerajaan Kediri. Misteri ini yang membuat candi plumbangan semakin menarik sebagai bahan kajian arkeologi.

Kronogram yang Membingungkan

Kronogram yang terpahat di Candi Plumbangan dianggap sebagai kunci penentuan usia bangunan. Namun, perbedaan cara membaca membuat penafsiran menjadi berbeda. Ada yang berpegang pada cara baca dari kiri ke kanan, ada pula yang meyakini harus dibaca dari kanan ke kiri.

Perbedaan sederhana dalam pembacaan itu menggeser penentuan tahun lebih dari satu abad. Bila merujuk pada 1312 Saka, maka bangunan ini berdiri sekitar 1390 Masehi. Angka itu identik dengan masa Majapahit menjelang Perang Paregreg.

Sementara itu, pembacaan 1213 Saka mengarah pada tahun 1291 Masehi. Angka ini lebih dekat dengan masa Kediri, tepatnya ketika kerajaan tersebut berada di ujung perjalanannya. Perdebatan ini belum menemukan titik temu karena bukti penunjang lain masih minim.

Ciri Arsitektur Kediri

Dari sisi arsitektur, ada argumen kuat yang mendukung bahwa Candi Plumbangan merupakan peninggalan Kediri. Bentuk bangunannya sederhana tanpa banyak ornamen. Gerbang Paduraksa yang menjadi ikon utama tidak memiliki pahatan kala, raksasa penjaga yang biasanya ditemui pada gerbang di masa setelah Kediri.

Bangunan khas Kediri umumnya lebih sederhana dan menekankan fungsi simbolik daripada hiasan berlebihan. Hal itu bisa terlihat pada Candi Plumbangan yang lebih menyerupai gerbang perbatasan wilayah ketimbang candi pemujaan.

Selain itu, catatan pada Prasasti Panumbangan menyebutkan hadiah Raja Bameswara dari Kediri kepada warga desa. Hal ini memperkuat dugaan bahwa bangunan Paduraksa di sini juga lahir dari tradisi Kediri.

Baca Juga: 5 Hari Jadi! BKN Terapkan SLA Super Cepat, Honorer Jadi PPPK Lebih Pasti

Ciri Arsitektur Majapahit

Namun, ada pula argumen lain yang menyebut bangunan ini berasal dari masa Majapahit. Salah satu alasannya adalah penggunaan bata merah dalam struktur bangunan yang identik dengan gaya arsitektur Majapahit. Meskipun sebagian besar sudah aus, pola susunan bata tetap menunjukkan kemiripan dengan candi-candi Majapahit lainnya.

Selain itu, angka 1312 Saka mengarah pada masa Raja Wikramawardana. Masa ini dikenal penuh konflik, terutama Perang Paregreg melawan Bre Wirabumi. Beberapa sejarawan menilai, pembangunan gerbang seperti di Candi Plumbangan bisa saja terkait dengan kondisi politik pada era itu.

Arsitektur Majapahit biasanya juga mengedepankan bentuk monumental. Gerbang-gerbang megah menjadi simbol kekuasaan, sehingga ada alasan kuat menyebut Candi Plumbangan sebagai bagian dari tradisi tersebut.

Perdebatan yang Belum Usai

Hingga kini, perdebatan mengenai usia Candi Plumbangan masih terus berlanjut. Sebagian pihak mengaitkan dengan Kediri, sebagian lagi dengan Majapahit. Tidak ada kesepakatan final karena bukti prasasti dan arsitektur sama-sama membuka kemungkinan.

Kondisi ini justru menambah daya tarik bagi pengunjung. Setiap orang bisa merasakan atmosfer sejarah yang penuh misteri. Seolah-olah, Candi Plumbangan menyimpan rahasia yang menantang untuk diungkap.

Bagi masyarakat Blitar, misteri ini menjadi potensi besar untuk menarik minat wisata sejarah. Cerita tentang perdebatan Kediri dan Majapahit bisa menjadi bahan edukasi yang memikat.

Candi Plumbangan sebagai Museum Kecil

Selain gerbang utama, di kompleks ini juga tersimpan berbagai artefak kuno. Ada prasasti, Yoni, hingga arca yang sebagian besar kini dipindahkan ke Museum Penataran. Lokasi ini ibarat museum kecil yang menyimpan fragmen sejarah Kediri dan Majapahit sekaligus.

Sayangnya, fasilitas di kawasan ini masih minim. Juru pelihara menyebutkan, pengunjung sering kesulitan karena tidak ada toilet maupun pos jaga. Padahal, potensinya besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi.

Jika pengelolaan lebih baik, misteri usia Candi Plumbangan akan menjadi magnet bagi wisatawan. Tidak hanya sekadar melihat batu kuno, tetapi juga menyelami perdebatan arkeologi yang nyata.

Baca Juga: Buka Table Tennis Championship, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Tekankan Kesetaraan Atlet Disabilitas

Pentingnya Kesadaran Publik

Fakta menarik lainnya, 90 persen warga Blitar belum mengenal situs ini secara mendalam. Padahal, lokasi Candi Plumbangan tidak jauh dari pusat Blitar. Minimnya promosi dan fasilitas membuat situs ini kurang populer dibanding Candi Penataran.

Kesadaran publik perlu dibangun agar masyarakat Blitar merasa memiliki warisan ini. Dengan dukungan pemerintah daerah, situs ini bisa menjadi ikon wisata sejarah baru. Terutama karena misteri usianya yang menambah daya tarik tersendiri.

Lebih dari itu, menjaga Candi Plumbangan berarti menjaga identitas sejarah Blitar. Apakah ia peninggalan Kediri atau Majapahit, keduanya sama-sama bagian penting dari peradaban Nusantara.

Warisan yang Menantang Generasi Muda

Misteri usia Candi Plumbangan adalah tantangan bagi generasi muda untuk lebih peduli pada sejarah. Mereka bisa terlibat dalam penelitian, pelestarian, maupun promosi budaya. Dengan begitu, warisan leluhur tidak hanya berhenti di buku, tetapi hidup di tengah masyarakat.

Bagi wisatawan, cerita perdebatan ini menjadi daya tarik yang unik. Tidak banyak situs sejarah yang menawarkan misteri sekaligus. Candi Plumbangan justru mengajak pengunjung untuk berpikir, meneliti, dan merasakan atmosfer sejarah yang penuh teka-teki.

Pada akhirnya, perdebatan tentang Kediri atau Majapahit tidak perlu menjadi pemisah. Justru, misteri itu bisa menjadi perekat bahwa warisan sejarah Nusantara begitu kaya dan layak kita jaga bersama.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Candi plumpungan #Wima brahmantya