Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Paduraksa Candi Plumbangan, Satu-satunya Gerbang Kuno Asli di Blitar

Anggi Septiani • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 14:00 WIB

Paduraksa Candi Plumbangan, Satu-satunya Gerbang Kuno Asli di Blitar
Paduraksa Candi Plumbangan, Satu-satunya Gerbang Kuno Asli di Blitar

Blitar – Keberadaan candi plumbangan di Desa Pelumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, ternyata menyimpan peninggalan unik yang jarang diketahui masyarakat luas. Bangunan utama yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Paduraksa, sebuah gerbang kuno yang menjadi simbol penting desa di masa lampau.

Tidak seperti benda-benda arkeologi lain yang sudah dipindahkan ke museum, Paduraksa ini tetap berdiri di lokasi aslinya. Hal ini membuat candi plumbangan memiliki keistimewaan tersendiri sebagai satu-satunya gerbang kuno asli yang masih bisa disaksikan di Blitar.

Keunikan inilah yang membedakan candi plumbangan dari situs-situs bersejarah lain. Ia bukan hanya menyimpan prasasti, Yoni, atau arca, melainkan juga bukti nyata batas wilayah zaman kerajaan yang masih bertahan hingga sekarang.

Baca Juga: Puncak BEN Carnival 2025, Pemkot Blitar Tutup Sejumlah Ruas Jalan Protokol hingga Tetapkan Tarif Parkir Segini

Paduraksa sebagai Gerbang Wilayah

Dalam tradisi Jawa kuno, Paduraksa bukan sekadar bangunan gerbang. Ia berfungsi sebagai penanda perbatasan wilayah sekaligus simbol legitimasi sebuah desa.

Candi Plumbangan dipercaya dulunya menjadi titik penjagaan penting, tempat prajurit mengontrol siapa saja yang melintas. Konon, siapa pun yang melewati gerbang ini harus mematuhi aturan setempat.

Hal ini memperkuat catatan prasasti yang menyebut Desa Panumbangan diberi status desa swatantra. Paduraksa menjadi bukti nyata bahwa desa ini diakui memiliki otonomi khusus pada masa Kediri.

Benda-Benda yang Dipindahkan

Berbeda dengan Paduraksa yang tetap berada di tempat, benda-benda arkeologi lain dari kawasan ini sudah dipindahkan. Yoni, Arca Durga, dan beberapa prasasti kini disimpan di Museum Penataran.

Pemindahan dilakukan demi menjaga kelestarian benda-benda bersejarah tersebut. Sebab, lokasi terbuka di Desa Pelumbangan membuat risiko kerusakan semakin besar.

Meski demikian, kondisi ini membuat situs Candi Plumbangan terlihat kurang lengkap. Paduraksa menjadi satu-satunya saksi bisu yang tersisa di lokasi aslinya.

Arsitektur yang Sederhana tapi Kuat

Jika diperhatikan lebih dekat, arsitektur Paduraksa Candi Plumbangan terlihat sederhana. Tidak ada pahatan relief kala seperti yang umum ditemukan pada gerbang masa Majapahit atau Singasari.

Kesederhanaan ini justru memperkuat dugaan bahwa bangunan ini lahir pada masa Kediri. Ciri khas arsitektur Kediri memang lebih sederhana, menekankan fungsi simbolik daripada ornamen mewah.

Meski tampak sederhana, konstruksi Paduraksa cukup kuat. Terbukti hingga kini bangunan masih berdiri tegak meski berusia ratusan tahun.

Keunikan Dibanding Situs Lain

Keistimewaan Candi Plumbangan adalah keberadaan gerbang asli yang tidak pernah dipindahkan. Hampir semua situs lain di Blitar hanya menyisakan reruntuhan atau benda yang kini disimpan di museum.

Paduraksa Plumbangan dengan demikian menjadi gerbang kuno satu-satunya yang bisa disaksikan langsung di lokasi. Keaslian ini memberikan nuansa berbeda bagi pengunjung yang ingin merasakan atmosfer sejarah.

Bagi pecinta arkeologi, melihat bangunan di tempat aslinya jauh lebih bermakna dibanding sekadar melihat koleksi museum. Inilah yang menjadikan Candi Plumbangan unik sekaligus penting.

Peran Strategis di Masa Lalu

Bayangkan ratusan tahun lalu, gerbang ini dijaga prajurit kerajaan. Setiap orang yang lewat, baik dengan kuda, kerbau, atau rombongan dagang, harus melewati gerbang ini.

Paduraksa tidak hanya berfungsi sebagai pintu masuk, tetapi juga simbol legitimasi desa swatantra. Dengan adanya gerbang ini, Panumbangan diakui sebagai desa otonom dengan hak istimewa dari kerajaan.

Inilah alasan mengapa Paduraksa Plumbangan tidak bisa dipandang remeh. Ia adalah bukti konkret peran masyarakat desa dalam sistem politik kerajaan.

Kondisi Saat Ini

Sayangnya, situs bersejarah ini masih minim perhatian. Fasilitas umum bagi pengunjung nyaris tidak tersedia, mulai dari toilet, pos jaga, hingga pagar pelindung.

Juru pelihara setempat mengaku, sebagian besar warga Blitar bahkan belum mengetahui arti penting Candi Plumbangan. Padahal, nilai sejarahnya tidak kalah dengan Candi Penataran yang sudah lebih populer.

Dengan kondisi ini, Paduraksa Plumbangan kerap hanya dilihat sebagai bangunan kuno biasa, bukan simbol peradaban masa lalu.

Harapan Pengembangan

Banyak pihak berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih pada Candi Plumbangan. Jika dikelola dengan baik, situs ini bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang membanggakan.

Sebagai satu-satunya gerbang kuno asli di Blitar, Candi Plumbangan memiliki daya tarik unik. Cerita tentang desa swatantra dan peninggalan Kediri bisa dikemas dalam program wisata edukasi.

Selain itu, pelibatan masyarakat lokal penting untuk menjaga dan mempromosikan situs ini. Dengan begitu, keberadaan Paduraksa Plumbangan tidak hanya dikenal di Blitar, tetapi juga di tingkat nasional.

Warisan yang Harus Dijaga

Lebih dari sekadar gerbang batu, Paduraksa Candi Plumbangan adalah warisan sejarah yang merekam peran desa dalam perjalanan kerajaan Jawa.

Keaslian bangunan yang masih berdiri di lokasi membuatnya istimewa. Ia menjadi saksi bisu perjuangan, pengakuan, dan legitimasi sebuah desa.

Menjaga Paduraksa berarti menjaga identitas Blitar. Warisan ini bukan hanya untuk kita hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang agar tetap mengenal kejayaan leluhur.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Wima Bhrahmantya #sejarah blitar #Candi plumpungan