Blitar – Tidak banyak orang yang tahu, kisah candi plumbangan di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, tidak bisa dilepaskan dari sosok sederhana bernama Pak Hadi. Sejak tahun 1990-an, ia setia menjadi juru pelihara situs bersejarah tersebut.
Dedikasi Pak Hadi menjaga candi plumbangan tidak hanya sebatas membersihkan area dari rumput liar. Ia juga berperan sebagai pemandu tak resmi, menjelaskan sejarah dan kisah unik situs kepada setiap pengunjung.
Berbekal pengetahuan turun-temurun dan arsip lama yang ia simpan, Pak Hadi menjadikan candi plumbangan lebih hidup dalam ingatan masyarakat. Kehadirannya membuat situs ini tidak sekadar tumpukan batu kuno, tetapi bagian dari cerita panjang sejarah Blitar.
Dedikasi Puluhan Tahun
Pak Hadi mulai mengabdi sejak awal 1990-an. Kala itu, situs Candi Plumbangan belum banyak dikenal, bahkan nyaris terlupakan.
Setiap hari, ia menyapu halaman, membersihkan lumut di batu, dan merapikan rumput yang tumbuh liar. Semua dilakukan tanpa pamrih, lebih karena rasa tanggung jawab moral pada warisan leluhur.
Puluhan tahun berlalu, semangatnya tidak pernah padam. Bagi Pak Hadi, merawat candi berarti menjaga martabat sejarah Blitar.
Arsip Foto dari Leiden
Yang menarik, Pak Hadi juga menyimpan arsip foto lama tentang Candi Plumbangan. Foto-foto itu ia dapatkan dari koleksi yang pernah diteliti di Leiden, Belanda.
Arsip tersebut menjadi bukti visual perjalanan Candi Plumbangan dari masa ke masa. Foto hitam putih memperlihatkan kondisi candi sebelum ada pemugaran.
Bagi pengunjung, arsip foto itu menambah pemahaman tentang betapa pentingnya situs ini. Mereka bisa membandingkan bentuk candi zaman dulu dengan kondisi saat ini.
Baca Juga: 5 Hari Jadi! BKN Terapkan SLA Super Cepat, Honorer Jadi PPPK Lebih Pasti
Lebih dari Sekadar Juru Kunci
Meski hanya disebut juru pelihara, peran Pak Hadi jauh lebih besar. Ia tidak sekadar merawat fisik bangunan, tetapi juga menjaga ingatan kolektif masyarakat.
Banyak pelajar, peneliti, hingga wisatawan asing yang terbantu berkat penjelasannya. Ia dengan sabar menerangkan makna prasasti, fungsi Paduraksa, dan sejarah Desa Panumbangan.
Keberadaannya menjadikan Candi Plumbangan terasa lebih hidup. Situs ini bukan hanya peninggalan batu, melainkan ruang belajar tentang sejarah Jawa.
Sosok yang Rendah Hati
Meski banyak berjasa, Pak Hadi tetap rendah hati. Ia tidak pernah menuntut penghargaan atau imbalan besar dari pemerintah.
“Yang penting candi tetap terjaga. Anak cucu masih bisa melihat,” begitu kata-katanya yang sering diingat pengunjung.
Rasa cinta terhadap tanah kelahiran membuatnya kuat bertahan hingga kini. Dedikasinya menjadi teladan nyata bagi generasi muda.
Menghidupkan Human Interest
Keberadaan Pak Hadi menambah sisi human interest dari Candi Plumbangan. Jika tidak ada dirinya, situs ini mungkin hanya akan jadi batu bisu di tengah desa.
Dengan penuturannya, pengunjung bisa merasakan atmosfer masa lalu. Ia mampu menjembatani antara peninggalan kuno dengan imajinasi masyarakat modern.
Tidak heran banyak orang menyebut, tanpa Pak Hadi, pesona Candi Plumbangan tak akan sekuat sekarang.
Baca Juga: Di Kota Blitar, Sekolah Siapkan Menu MBG Khusus Bagi Siswa yang Alergi Makanan Tertentu
Tantangan dan Harapan
Namun, perjuangan Pak Hadi bukan tanpa tantangan. Minimnya perhatian pemerintah membuat perawatan situs sering bergantung pada tenaganya sendiri.
Fasilitas di sekitar lokasi juga belum memadai. Padahal, jika dikelola dengan baik, Candi Plumbangan bisa menjadi daya tarik wisata sejarah yang berkelas.
Pak Hadi berharap generasi muda ikut peduli. Ia sering berpesan agar warga desa tidak melupakan peninggalan leluhur.
Inspirasi dari Desa Plumbangan
Kisah Pak Hadi membuktikan bahwa menjaga sejarah tidak selalu butuh jabatan tinggi. Terkadang, cukup dengan hati yang tulus dan konsistensi puluhan tahun.
Candi Plumbangan yang kini dikenal luas, tidak lepas dari kerja kerasnya. Ia menjadi contoh nyata bagaimana satu orang bisa membuat perubahan besar.
Bagi masyarakat Blitar, figur seperti Pak Hadi adalah aset berharga yang tak ternilai.
Warisan yang Harus Dilanjutkan
Seiring bertambahnya usia, kekhawatiran muncul: siapa yang akan melanjutkan tugas mulia ini? Pak Hadi tidak bisa selamanya menjaga.
Karena itu, penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar untuk bersama-sama melanjutkan perannya. Candi Plumbangan harus terus dijaga, bukan hanya fisiknya, tapi juga nilai sejarah yang dikandungnya.
Dengan demikian, kisah Pak Hadi tidak akan hilang begitu saja. Ia akan dikenang sebagai penjaga setia yang melestarikan warisan budaya Blitar.
Baca Juga: Di Kota Blitar, Sekolah Siapkan Menu MBG Khusus Bagi Siswa yang Alergi Makanan Tertentu
Penutup
Lebih dari sekadar candi, Plumbangan adalah simbol keuletan. Bukan hanya batu yang berdiri kokoh, tetapi juga sosok manusia yang berdiri teguh menjaganya.
Pak Hadi telah membuktikan bahwa cinta pada sejarah bisa diwariskan melalui tindakan nyata. Ia bukan hanya penjaga candi, tetapi juga penjaga ingatan kolektif bangsa.
Kisahnya membuat kita sadar, tanpa orang-orang seperti Pak Hadi, mungkin banyak situs bersejarah yang sudah hilang ditelan zaman.
Editor : Anggi Septian A.P.