Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Candi Plumbangan, Museum Kecil yang Terlupakan Warga Blitar

Anggi Septiani • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 06:00 WIB
Candi Plumbangan, Museum Kecil yang Terlupakan Warga Blitar
Candi Plumbangan, Museum Kecil yang Terlupakan Warga Blitar

Blitar – Di balik perbukitan sejuk Kecamatan Doko, berdiri candi plumbangan yang kerap disebut sebagai “museum kecil” peninggalan masa lalu. Sayangnya, situs bersejarah ini justru terlupakan oleh masyarakat Blitar sendiri.

Meski menyimpan kisah panjang dari era Kediri hingga Majapahit, candi plumbangan belum mendapat perhatian layak. Fasilitas dasar seperti toilet, pos jaga, hingga pagar pembatas masih sangat minim.

Ironisnya, sekitar 90 persen warga Blitar bahkan tidak tahu bahwa candi plumbangan ada di daerah mereka. Padahal, potensinya besar untuk menjadi destinasi wisata sejarah.

Minim Fasilitas Pendukung

Saat berkunjung ke lokasi, pengunjung akan mendapati suasana yang sepi. Tidak ada pos jaga resmi, bahkan bangunan sederhana untuk berteduh pun nyaris tak tersedia.

Toilet umum tidak ada, sehingga wisatawan kerap kesulitan bila berkunjung lebih lama. Pagar pembatas yang seharusnya menjaga area dari kerusakan juga tidak terlihat.

Akibatnya, situs ini rentan terhadap ancaman alam maupun ulah tangan jahil. Padahal, candi ini menyimpan artefak penting dari masa lalu.

Museum Kecil di Tengah Desa

Candi Plumbangan kerap dijuluki sebagai museum kecil karena banyak peninggalan yang pernah ditemukan di sekitarnya. Arca, yoni, dan prasasti pernah ditemukan, meski sebagian besar kini disimpan di Museum Penataran.

Gerbang Paduraksa yang masih berdiri tegak menjadi bukti keaslian yang jarang dijumpai. Struktur batu andesitnya mencerminkan perpaduan gaya arsitektur klasik Jawa.

Namun, tanpa dukungan fasilitas, nilai edukasi dan daya tarik wisata situs ini sulit terangkat. Potensi besar justru terkubur dalam sepi.

Baca Juga: Stop Ordal! BKN Dorong Meritokrasi, Harapan Honorer Jadi PPPK Semakin Terbuka

Warga Blitar Tidak Tahu

Fakta yang cukup mencengangkan, sekitar 90 persen warga Blitar tidak tahu keberadaan Candi Plumbangan. Data ini mencerminkan betapa kurangnya promosi situs sejarah di daerah sendiri.

Banyak yang baru tahu setelah ada konten kreator atau peneliti yang membagikannya di media sosial. Ironisnya, wisatawan dari luar kota justru lebih sering datang daripada warga lokal.

Ketidaktahuan ini membuat situs seolah asing di tanah kelahirannya sendiri. Kesadaran publik perlu digugah agar warisan ini tidak terus terabaikan.

Potensi Wisata Sejarah

Jika dikelola dengan baik, Candi Plumbangan bisa menjadi destinasi wisata sejarah unggulan Blitar. Letaknya yang berada di kawasan pegunungan menawarkan suasana asri yang cocok untuk wisata edukasi.

Sekolah-sekolah bisa menjadikannya tujuan study tour, sementara peneliti dapat mengkaji nilai arkeologisnya lebih jauh. Nilai tambah ekonomi juga bisa hadir melalui UMKM lokal.

Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal. Situs berharga justru dibiarkan berjalan sendiri tanpa strategi pengembangan.

Suara dari Warga

Beberapa warga sekitar mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. “Sayang sekali, padahal ini peninggalan penting. Kalau dikelola, pasti ramai,” ujar seorang warga Desa Plumbangan.

Mereka berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah. Fasilitas sederhana seperti toilet, pos jaga, dan akses jalan yang lebih nyaman sudah menjadi kebutuhan mendesak.

Tanpa langkah nyata, Candi Plumbangan berisiko makin tertinggal dibanding destinasi lain di Blitar.

Baca Juga: Di Kota Blitar, Sekolah Siapkan Menu MBG Khusus Bagi Siswa yang Alergi Makanan Tertentu

Belajar dari Penataran

Sebagai perbandingan, Candi Penataran yang kini ramai dikunjungi wisatawan dulunya juga butuh perhatian ekstra. Melalui promosi, pemugaran, dan pengelolaan yang konsisten, kini Penataran menjadi ikon wisata Blitar.

Candi Plumbangan seharusnya bisa menapaki jalan serupa. Peninggalan ini bukan hanya batu tua, tetapi pintu masuk memahami sejarah Jawa Timur.

Jika 90 persen warga masih belum tahu, tugas besar menanti: mengenalkan kembali warisan berharga kepada generasi muda.

Menggugah Kesadaran Publik

Keberadaan Candi Plumbangan mengajarkan bahwa sejarah mudah hilang jika tidak dijaga bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi masyarakat juga punya peran penting.

Edukasi melalui sekolah, promosi digital, hingga paket wisata desa bisa jadi solusi. Semakin banyak orang tahu, semakin besar peluang candi ini terjaga.

Kesadaran publik adalah kunci agar situs tidak hanya menjadi tumpukan batu, tetapi juga sumber kebanggaan daerah.

Penutup

Candi Plumbangan adalah museum kecil yang terlupakan. Minim fasilitas, kurang promosi, dan rendahnya kesadaran membuatnya tenggelam dalam diam.

Padahal, warisan leluhur ini punya potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah. Jika dikelola dengan serius, Candi Plumbangan bisa sejajar dengan situs besar lain di Jawa Timur.

Kini saatnya warga Blitar membuka mata. Jangan sampai 90 persen tetap tidak tahu, sementara warisan berharga lenyap tak terurus.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Wima Bhrahmantya #sejarah blitar #Candi plumpungan