Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ikan Mujair, dari Santunan Belanda, Propaganda Jepang, hingga Penghargaan Soekarno

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 01:30 WIB
Ikan Mujair, dari Santunan Belanda, Propaganda Jepang, hingga Penghargaan Soekarno
Ikan Mujair, dari Santunan Belanda, Propaganda Jepang, hingga Penghargaan Soekarno

BLITAR– Ikan mujair bukan sekadar lauk favorit di Indonesia. Dari asal-usulnya di Blitar, ikan ini menyimpan sejarah panjang yang terkait dengan masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan.

Sejak ditemukan Mbah Mujair di Teluk Serang, Blitar pada 1936, ikan mujair telah menempuh perjalanan panjang. Dari penemuan lokal, budidaya sederhana, hingga dikenal di seluruh Nusantara.

Dalam sejarahnya, ikan mujair bahkan pernah diapresiasi oleh pemerintah Belanda, dimanfaatkan oleh Jepang, dan diberi penghargaan resmi oleh Presiden Soekarno. Kisah ini menunjukkan bagaimana satu penemuan lokal bisa memiliki dampak luas, baik sosial maupun politik.

Santunan Belanda untuk Mbah Mujair

Mbah Mujair, warga Blitar yang pertama kali berhasil membudidayakan ikan mujair di air tawar, mendapat perhatian dari pemerintah kolonial Belanda.

Keberhasilannya dalam percobaan adaptasi ikan mujair dari air laut ke air tawar diapresiasi dengan santunan bulanan. Hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah kolonial melihat potensi ekonomi dari budidaya ikan.

Santunan tersebut, meski tidak besar, menjadi pengakuan resmi atas jasa seorang warga lokal yang berhasil mengubah ikan laut menjadi komoditas konsumsi.

Propaganda Jepang melalui Ikan Mujair

Pada masa pendudukan Jepang, ikan mujair justru mendapat peran yang lebih strategis. Pemerintah Jepang memerintahkan agar ikan mujair dibudidayakan di seluruh daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan memperkuat ketahanan pangan wilayah pendudukan.

Budidaya ikan mujair dimanfaatkan sebagai propaganda: menunjukkan kemampuan penduduk lokal dalam mengikuti program pemerintah, sekaligus memperkuat kontrol Jepang atas sumber daya alam dan pangan.

Mujair pun tersebar luas ke berbagai daerah, dari tambak sederhana hingga kolam-kolam resmi yang dibangun pemerintah. Nama Mbah Mujair semakin dikenal seiring penyebaran ini.

Baca Juga: Perpustakaan Kartini Srengat: Menyimpan Dokumen Asli Sejarah Blitar dari Belanda hingga Majapahit

Penghargaan Era Soekarno

Setelah Indonesia merdeka, jasa Mbah Mujair tetap diakui. Enam tahun setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno melalui Kementerian Pertanian memberikan penghargaan resmi atas kontribusinya dalam pengembangan budidaya ikan konsumsi.

Penghargaan ini menegaskan bahwa inovasi lokal bisa menjadi aset nasional. Ikan mujair kini bukan hanya sekadar ikan konsumsi, tetapi juga simbol keberhasilan inovasi warga Blitar.

Pemberian penghargaan oleh pemerintah Indonesia menunjukkan kesinambungan apresiasi, dari kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga pemerintah Republik Indonesia.

Dari Blitar ke Seluruh Nusantara

Setelah penghargaan itu, ikan mujair semakin populer di seluruh Indonesia. Masyarakat dari berbagai daerah mulai membudidayakan mujair sebagai sumber protein yang mudah diperoleh.

Di banyak warung dan restoran, mujair menjadi lauk favorit. Olahan seperti pepes mujair, gulai mujair, hingga mujair bakar tersebar di berbagai daerah.

Perjalanan mujair dari kolam rumah Mbah Mujair di Blitar hingga menjadi lauk nasional adalah bukti bahwa inovasi lokal bisa memengaruhi skala nasional.

Sisi Edukatif dan Historis

Sejarah ikan mujair memberi pelajaran penting. Pertama, ketekunan individu seperti Mbah Mujair mampu menghasilkan dampak besar.

Kedua, ikan mujair menunjukkan bagaimana sains sederhana dan observasi alam dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat luas.

Ketiga, peran politik dan sejarah turut membentuk penyebaran dan popularitas mujair. Dari apresiasi Belanda, program Jepang, hingga penghargaan Soekarno, semuanya menunjukkan interaksi antara inovasi lokal dan kekuasaan.

Baca Juga: Sejarah Blitar: Asal-Usul Nama dari “Bali Tartar” hingga Jadi Kota Bersejarah

Misteri Asal Usul Mujair

Meski dikenal luas, ikan mujair bukan asli Indonesia. Ikan ini berasal dari Afrika bagian tenggara, mulai dari Mozambik, Malawi, Zambia, hingga Afrika Selatan.

Hingga kini, masih menjadi misteri bagaimana ikan ini bisa sampai ke Teluk Serang, Blitar. Apakah dibawa pedagang asing atau melalui jalur alami, belum ada bukti pasti.

Keunikan mujair, yang bisa hidup di air tawar maupun payau, membuatnya mudah dibudidayakan. Hal ini menjadi kunci keberhasilannya sebagai ikan konsumsi favorit.

Penutup

Sejarah ikan mujair mengajarkan banyak hal: dari ketekunan Mbah Mujair, pengakuan pemerintah kolonial Belanda, pemanfaatan Jepang, hingga penghargaan era Soekarno.

Dari Blitar, ikan mujair menembus batas lokal, menjadi simbol keberhasilan inovasi yang berdampak luas.

Hingga kini, setiap kali masyarakat menikmati pepes, gulai, atau mujair bakar, mereka turut mengingat perjalanan panjang ikan ini. Dari kolam sederhana di Blitar, hingga mendunia, ikan mujair tetap menjadi bagian penting warisan kuliner dan sejarah Indonesia.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #ikan mujair