Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Monumen PETA Blitar: Ikon Sejarah yang Dicuekin Warga Sendiri

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 05:30 WIB
Di tengah hiruk pikuk Kota Blitar, berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah yang mestinya jadi kebanggaan warga. Namanya Monumen PETA.
Di tengah hiruk pikuk Kota Blitar, berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah yang mestinya jadi kebanggaan warga. Namanya Monumen PETA.

BLITAR – Di tengah hiruk pikuk Kota Blitar, berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah yang mestinya jadi kebanggaan warga. Namanya Monumen PETA. Monumen ini mengenang perjuangan pemuda Blitar yang berani melawan tentara Jepang pada 14 Februari 1945.

Sayangnya, monumen segagah ini justru jarang disentuh masyarakat. Tak banyak warga yang menjadikannya tujuan wisata sejarah. Padahal, nilai yang terkandung dalam Monumen PETA jauh lebih besar daripada sekadar patung di sudut jalan.

Pemerhati sejarah Blitar, Wima Brahmantya, menilai seharusnya monumen ini bisa menjadi ikon utama kota. “Monumen PETA menyimpan cerita dahsyat tentang keberanian pemuda. Tapi sekarang justru seperti dicuekin, tidak jadi kebanggaan,” ungkapnya.

Monumen PETA berada di Jalan Supriadi, pusat Kota Blitar. Lokasinya mudah dijangkau dengan transportasi apapun, bahkan dengan GPS sekalipun. Namun kenyataannya, tidak banyak warga yang mengajak kerabat atau tamu luar kota untuk mampir ke sana.

“Coba lihat, kalau ada turis dari luar negeri, jarang sekali warga Blitar mengarahkan mereka ke monumen ini. Padahal ini landmark sejarah yang penting,” tambah Wima.

Monumen ini mulai dibangun sejak akhir 1990-an. Awalnya hanya berdiri satu patung Supriyadi, tokoh pemimpin pemberontakan PETA. Patung tersebut merupakan karya seniman Aris Mukadar.

Kemudian, pada era Wali Kota Jarot, monumen dilengkapi dengan enam patung serdadu lain. Seniman Bondan Widodo dipercaya menambahkan karya pada 2007, sehingga kini berdiri tujuh patung pahlawan. Nama-nama mereka antara lain Supriyadi, Ismangil, Muradi, Supariono, Sunanto, Sudarmo, dan Halir.

Meski patungnya lengkap dan megah, perhatian publik tetap minim. Banyak anak muda bahkan tidak mengenali nama-nama tokoh yang dipahat di monumen. Ironisnya, nama mereka sebenarnya sudah diabadikan menjadi nama jalan di Blitar.

“Kalau ditanya siapa itu Ismangil atau Muradi, sebagian besar anak muda tidak tahu. Padahal mereka inilah yang mempersembahkan nyawa demi bangsa,” kata Wima.

Selain kurang dikenali, Monumen PETA juga belum dikelola maksimal. Pada malam hari, suasana gelap karena hanya ada lampu seadanya. Seolah monumen ini hanya dibiarkan berdiri tanpa sentuhan estetika yang layak.

Padahal menurut Wima, monumen bisa menjadi pusat aktivitas. “Kalau dipasangi spotlight yang bagus, monumen ini akan jadi perhatian orang yang lewat. Bisa juga dibuka untuk diskusi, kegiatan komunitas, atau sekadar ruang publik,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pernah ada keluhan soal pedagang kaki lima yang menutupi pandangan monumen dari jalan raya. Meski kini sebagian sudah ditertibkan, tetap ada kesan monumen kurang dimaksimalkan.

Monumen PETA tidak sekadar karya seni. Di balik patung-patung itu tersimpan kisah heroik anak muda Blitar yang memberontak melawan tentara Jepang. Usia mereka masih belia, rata-rata 18–23 tahun. Namun semangatnya melebihi batas.

Mereka tahu risikonya: ditangkap, dieksekusi, atau hilang tanpa kabar seperti Supriyadi yang misterius. Tetapi tekad membela bangsa lebih besar daripada rasa takut. Semangat itulah yang seharusnya bisa diwarisi generasi sekarang.

“Kalau anak muda zaman dulu berani melawan penjajah, masa anak muda sekarang hanya sibuk TikTok dan nongkrong di kafe? Monumen ini harusnya jadi cermin,” ujar Wima menyentil.

Kini, peringatan 14 Februari sering diingat sebagai Hari Valentine. Banyak pasangan muda sibuk berbagi cokelat atau bunga. Namun di Blitar, tanggal yang sama punya makna lebih mendalam. Itu adalah hari pemberontakan PETA – hari ketika darah dan nyawa dipersembahkan demi cinta kepada bangsa.

Sayangnya, makna besar itu belum sepenuhnya tertanam di masyarakat. Monumen PETA yang seharusnya menjadi pengingat justru sepi pengunjung. Keberadaannya kalah pamor dibanding kafe modern atau pusat perbelanjaan.

“Kalau monumen ini terus dibiarkan seperti seonggok patung tak bernyawa, kita kehilangan kesempatan untuk menginspirasi generasi muda,” pungkas Wima Brahmantya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #monumen PETA Blitar #Wima brahmantya