Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Supriyadi dan Monumen PETA Blitar: Pahlawan Misterius yang Hilang, Dieksekusi, atau Muksa?

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 05:00 WIB
Di pusat Kota Blitar berdiri gagah Monumen PETA, saksi bisu pemberontakan melawan Jepang pada 14 Februari 1945. Monumen ini menampilkan tujuh patung pejuang.
Di pusat Kota Blitar berdiri gagah Monumen PETA, saksi bisu pemberontakan melawan Jepang pada 14 Februari 1945. Monumen ini menampilkan tujuh patung pejuang.

BLITAR – Di pusat Kota Blitar berdiri gagah Monumen PETA, saksi bisu pemberontakan melawan Jepang pada 14 Februari 1945. Monumen ini menampilkan tujuh patung pejuang, termasuk sosok Supriyadi yang jadi simbol perlawanan pemuda Blitar.

Namun, hingga kini, nasib Supriyadi tetap misteri. Tidak ada catatan resmi tentang kematiannya. Beberapa sumber menyebut ia dieksekusi Jepang, sebagian percaya ia bersembunyi, bahkan ada yang meyakini ia “muksa” seperti Gajah Mada.

“Supriyadi adalah tokoh kunci pemberontakan PETA. Sayangnya, jejaknya hilang. Itu yang membuat sejarahnya semakin menarik untuk ditelusuri,” kata pemerhati sejarah Blitar, Wima Brahmantya.

Pemberontakan PETA Blitar terjadi saat Jepang masih menduduki Indonesia. Pada 14 Februari 1945 dini hari, Supriyadi memimpin serangan terhadap markas Jepang. Mortir pertama ditembakkan ke arah Hotel Sakura, yang kini lokasinya diyakini di sekitar Blitar Town Square.

Meski berhasil membuat Jepang panik, perlawanan itu hanya berlangsung sehari. Pasukan muda PETA kalah pengalaman dan kalah senjata. Banyak di antara mereka ditangkap, diadili, lalu dieksekusi dengan katana.

Anehnya, nama Supriyadi tidak pernah ditemukan dalam daftar korban eksekusi. Ia tidak pernah ditangkap, tapi juga tidak pernah kembali. Hilangnya pemuda ini meninggalkan tanda tanya besar yang hingga kini belum terjawab.

Ada tiga teori populer soal nasib Supriyadi. Pertama, ia tewas dalam pelarian. Beberapa sumber menyebut Jepang berhasil menangkapnya dan mengeksekusi diam-diam. Namun, tidak ada bukti kuat yang menguatkan klaim ini.

Kedua, ia bersembunyi. Pada akhir 1990-an, muncul beberapa orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Namun setelah diteliti, klaim itu tidak terbukti. Ketiga, ia diyakini “muksa”. Dalam tradisi Jawa, muksa berarti hilang tanpa jejak, seakan lenyap dari dunia.

Gajah Mada diyakini mengalami hal serupa. Teori ini memang sulit dibuktikan, tetapi tetap hidup dalam ingatan masyarakat. “Banyak orang percaya Supriyadi tidak mati, melainkan muksa. Itu menambah aura heroik sekaligus mistis dalam sejarah Monumen PETA Blitar,” jelas Wima.

Monumen PETA sendiri dibangun pada akhir 1990-an. Awalnya hanya ada patung Supriyadi, karya seniman Aris Mukadar. Kemudian, di era Wali Kota Jarot, enam patung tambahan dibuat oleh Bondan Widodo pada 2007. Kini, tujuh patung berdiri berdampingan, menggambarkan para pejuang pemberontakan.

Meski monumen ini sangat bersejarah, masih banyak warga Blitar yang kurang mengenalnya. Bahkan, generasi muda banyak yang tidak tahu siapa saja tokoh yang diabadikan di sana.

“Padahal, nama mereka sudah diabadikan jadi nama jalan di Blitar. Ada Jalan Muradi, Jalan Ismangil, dan lainnya. Tapi kalau ditanya, anak muda sering tidak tahu asal-usulnya,” ungkap Wima.

Kisah Supriyadi dan monumen PETA seharusnya bisa jadi sumber inspirasi. Di usia 18–23 tahun, para pemuda itu sudah berani melawan tentara Jepang. Semangat yang mereka tunjukkan jauh lebih besar daripada rasa takut.

Bandingkan dengan anak muda zaman sekarang. Banyak yang lebih sibuk dengan media sosial, hiburan, atau nongkrong di kafe. “Harusnya, Monumen PETA mengingatkan kita bahwa anak muda punya peran penting membela bangsanya,” ujar Wima.

Momen 14 Februari juga memberi kontras yang unik. Dunia mengenal hari itu sebagai Valentine, identik dengan bunga dan cokelat. Namun di Blitar, hari itu adalah Valentine berdarah – ketika pemuda memberikan nyawa, bukan hadiah.

Misteri Supriyadi mungkin tidak akan pernah terjawab. Tetapi justru itulah yang membuat kisahnya abadi. Apakah ia benar-benar tewas, hidup tersembunyi, atau muksa, semuanya tetap menjadi bagian dari legenda perjuangan bangsa.

Yang jelas, Monumen PETA akan terus berdiri sebagai pengingat. Bahwa di balik patung-patung itu, ada cerita keberanian anak muda yang berani melawan ketidakadilan.

“Sejarah ini jangan hanya jadi cerita lama. Generasi sekarang harus bisa mewarisi semangatnya,” pungkas Wima Brahmantya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #monumen PETA Blitar #Wima brahmantya