Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Monumen PETA Blitar: Pemuda Lawan Jepang, Pemuda Sekarang Lawan Malas?

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 04:30 WIB
Di Kota Blitar berdiri gagah Monumen PETA, penanda perlawanan heroik pemuda melawan Jepang pada 14 Februari 1945
Di Kota Blitar berdiri gagah Monumen PETA, penanda perlawanan heroik pemuda melawan Jepang pada 14 Februari 1945

BLITAR – Di Kota Blitar berdiri gagah Monumen PETA, penanda perlawanan heroik pemuda melawan Jepang pada 14 Februari 1945. Monumen ini memuat tujuh patung pejuang muda, termasuk Supriyadi yang jadi simbol keberanian generasi kala itu.

Yang menarik, para pemuda pemberontakan PETA rata-rata masih berusia 18–23 tahun. Usia yang sama dengan anak muda sekarang yang akrab dengan TikTok, K-Pop, dan nongkrong di kafe. “Kalau dulu anak muda seusia itu bisa memimpin pemberontakan bersenjata melawan Jepang, sekarang banyak yang lebih sibuk dengan hiburan,” ujar pemerhati sejarah Blitar, Wima Brahmantya.

Pemberontakan PETA Blitar dipimpin Supriyadi pada 14 Februari 1945. Saat itu, pasukan muda PETA menyerang markas Jepang di Blitar. Serangan dimulai dengan tembakan mortir ke arah Hotel Sakura, lokasi yang kini diperkirakan berada di sekitar Blitar Town Square.

Meski hanya berlangsung sehari, pemberontakan itu membuat Jepang panik. Banyak pemuda PETA ditangkap dan dieksekusi secara kejam dengan katana. Namun jejak Supriyadi sendiri hilang dan hingga kini masih misterius.

Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam Monumen PETA Blitar. Awalnya hanya ada patung Supriyadi, lalu pada 2007 ditambahkan enam patung lain. Kini monumen tersebut menjadi saksi bisu bahwa anak muda pernah berani melawan kekuatan militer asing.

Kontras dengan itu, kondisi anak muda sekarang justru sering jadi bahan satir. Alih-alih memikirkan perjuangan bangsa, banyak yang lebih fokus mengejar tren hiburan. Dari TikTok, drakor, fandom K-Pop, hingga nongkrong berjam-jam di kafe.

“Bukan berarti salah menikmati hiburan, tapi kalau dibandingkan dengan generasi PETA, tentu sangat jauh semangatnya. Mereka taruh nyawa di usia muda, sementara anak muda sekarang sering ‘lawan rasa malas’ saja sudah kewalahan,” jelas Wima.

Pernyataan ini kerap memantik perdebatan. Sebagian menilai membandingkan dua generasi memang tidak adil. Namun, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa semangat juang anak muda dulu seharusnya bisa jadi inspirasi masa kini.

Di Monumen PETA, tujuh patung pejuang yang terpahat menggambarkan sikap heroik. Mereka adalah pemuda biasa yang berani melawan Jepang meski tahu risikonya adalah kematian. Kini, banyak di antara nama mereka diabadikan sebagai nama jalan di Blitar. Misalnya Jalan Muradi dan Jalan Ismangil. Sayangnya, generasi muda jarang tahu kisah di balik nama-nama itu.

“Banyak anak muda lewat di Jalan Supriyadi atau Jalan Ismangil, tapi tidak tahu siapa mereka. Padahal di Monumen PETA, cerita lengkapnya bisa dipelajari,” kata Wima. Sikap heroik pemuda Blitar 1945 bisa jadi bahan refleksi. Jika dulu mereka melawan ketidakadilan dengan senjata seadanya, anak muda sekarang bisa melawan tantangan zaman dengan cara berbeda.

Bukan dengan perang fisik, tapi dengan melawan kemalasan, kebodohan, dan sikap apatis. Melawan korupsi, hoaks, intoleransi, hingga ketergantungan pada hiburan dangkal. “Mereka dulu melawan Jepang, kita sekarang melawan diri sendiri. Itu sama-sama perjuangan. Bedanya, musuh kita sekarang lebih abstrak,” ujar Wima.

Namun sayangnya, Monumen PETA tidak terlalu populer di kalangan muda Blitar. Banyak yang lebih memilih nongkrong di mal atau kafe ketimbang berkunjung ke situs sejarah itu.

Padahal, monumen tersebut punya potensi besar jadi ikon edukasi sekaligus kebanggaan lokal. Jika dikelola dengan baik, Monumen PETA bisa menarik minat anak muda untuk mengenal sejarah dengan cara yang lebih interaktif.

“Generasi muda harusnya tidak hanya bangga dengan idol K-Pop atau tren global, tapi juga bangga dengan pahlawan lokalnya. Monumen PETA bisa jadi pintu masuk,” tegas Wima.

Momen 14 Februari pun jadi simbol kontras dua dunia. Di luar negeri, tanggal itu identik dengan Valentine, penuh bunga dan cokelat. Tapi di Blitar, 14 Februari adalah hari darah dan perjuangan.

Generasi PETA memberi hadiah terbesar: nyawa mereka demi kemerdekaan. Sementara generasi sekarang sibuk memikirkan hadiah cokelat atau konten Instagram.

“Mungkin tidak perlu ikut perang seperti mereka. Tapi setidaknya, jangan sampai generasi sekarang hanya diingat sebagai generasi rebahan,” pungkas Wima Brahmantya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #monumen PETA Blitar #Wima brahmantya