BLITAR – Monumen PETA Blitar berdiri gagah di Jalan Sudanco Supriyadi, tapi kondisinya kini memprihatinkan. Pada malam hari, kawasan ini tampak gelap, hanya diterangi lampu putih seadanya. Alih-alih jadi pusat kegiatan warga, monumen bersejarah ini justru kerap tertutup pedagang kaki lima. Banyak warga bahkan hanya melintas tanpa sempat menoleh.
“Sayang sekali, monumen segagah ini dibiarkan sepi dan gelap. Padahal di sinilah perlawanan pemuda PETA tahun 1945 dikenang,” ujar pemerhati sejarah Blitar, Wima Brahmantya.
Monumen PETA dibangun untuk mengenang pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) pada 14 Februari 1945. Saat itu, ratusan pemuda berani menyerang Jepang meski berakhir dengan kekalahan.
Patung-patung pahlawan di monumen ini menggambarkan kegigihan mereka. Ada Supriyadi, Muradi, Ismangil, hingga Hardjono, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan. Namun, atmosfer heroik itu tak terasa saat monumen tenggelam dalam gelap. Banyak pengunjung kecewa karena suasana kawasan tidak sesuai dengan semangat perjuangan.
Wima menilai pemerintah kota seakan setengah hati merawat ikon sejarah ini. Pencahayaan seadanya membuat monumen sulit dinikmati pada malam hari. Belum lagi keberadaan PKL yang menutup akses pandang ke patung-patung. Akibatnya, monumen seperti tertelan aktivitas ekonomi kecil tanpa pengaturan jelas.
“Monumen ini seperti hidup segan mati tak mau. Ada, tapi tidak jadi kebanggaan. Padahal potensinya sangat besar,” ungkap Wima. Jika menengok kota lain, banyak monumen sejarah ditata dengan baik dan menjadi magnet wisata. Misalnya Tugu Yogyakarta yang selalu terang benderang dan jadi titik kumpul masyarakat.
Bandingkan dengan Monumen PETA Blitar yang justru tampak suram. Tak jarang, turis luar kota bahkan tidak sadar bahwa di tengah kota ada monumen perjuangan nasional. “Seharusnya monumen sebesar ini bisa jadi landmark, bukan malah terlupakan. Pemkot perlu menaruh perhatian lebih,” tambah Wima.
Usulan konkret pun mulai muncul dari warga. Salah satunya, memasang spotlight artistik yang menyoroti patung-patung pahlawan pada malam hari. Dengan pencahayaan tepat, monumen akan terlihat megah dan mengundang orang untuk datang. Kawasan sekitar juga bisa dijadikan ruang publik yang nyaman.
“Beri lampu sorot, tata ulang PKL, buat ruang interaksi. Monumen akan hidup kembali, bukan hanya jadi bangunan diam,” jelas Wima. Monumen PETA bukan sekadar tumpukan beton dan perunggu. Ia adalah simbol keberanian pemuda Blitar melawan penjajahan Jepang.
Ironisnya, semangat yang seharusnya menyala kini justru teredam dalam kegelapan. Banyak anak muda Blitar bahkan lebih akrab dengan mal dan kafe ketimbang monumen ini. “Ini soal kebanggaan lokal. Kalau monumennya saja tidak dipedulikan, bagaimana generasi sekarang bisa menghargai sejarah?” tegas Wima.
Potensi ekonomi pun ikut hilang. Padahal, jika dikelola dengan baik, kawasan monumen bisa menarik wisatawan. Dari acara budaya, festival musik, hingga pameran sejarah bisa digelar di sini.
Tapi selama kawasan masih gelap dan semrawut, kecil kemungkinan Monumen PETA jadi daya tarik. Warga hanya datang sebentar, lalu pergi tanpa kesan berarti. “Padahal lokasi strategis. Kalau hidup, bisa jadi pusat kegiatan warga Blitar. Sekarang yang ada hanya jadi tempat lewat,” tambahnya.
Sorotan publik terhadap kondisi monumen ini diharapkan sampai ke telinga Pemkot Blitar. Tidak cukup hanya memberi lampu jalan seadanya. Yang dibutuhkan adalah perhatian serius agar monumen jadi simbol hidup, bukan bangunan mati. Dari tata cahaya, pengaturan PKL, hingga promosi sejarah.
“Kalau dibiarkan terus, Monumen PETA hanya akan jadi foto lama di buku sejarah. Padahal di sini ada jiwa perjuangan anak muda Blitar,” tutup Wima Brahmantya.
Editor : Anggi Septian A.P.