BLITAR – Nama Candi Gambar Wetan belakangan mencuri perhatian publik. Situs bersejarah di wilayah perkebunan Gambar, Kabupaten Blitar, ini dianggap sebagai permata Majapahit yang masih tersembunyi. Bahkan, ada kisah menarik tentang kemungkinan harta karun bernilai fantastis, disebut-sebut mencapai Rp11 triliun, yang membuat rasa penasaran masyarakat semakin besar.
Dalam sebuah liputan di kanal YouTube milik konten kreator sejarah dan budaya, Wima Brahmantya, terungkap betapa kompleks ini menyimpan cerita panjang. Ia menelusuri langsung jalan setapak menuju Candi Gambar Wetan yang berada di ketinggian sekitar 600 meter. Dengan suasana masih alami, perjalanan ke candi ini memberi kesan mistis sekaligus menantang.
Selain keindahan alam sekitarnya, daya tarik utama candi ini adalah cerita yang melekat di setiap arca dan reliefnya. Warga setempat bahkan memberi nama unik pada arca Dwarapala di pintu masuk. Satu disebut Arca Mbah Bodo, satu lagi Arca Mbah Dewo. Nama yang melekat bukan sekadar sebutan, melainkan warisan tutur yang makin memperkuat daya magis Candi Gambar Wetan.
Misteri Arca Penjaga Candi
Arca Dwarapala yang menjaga pintu masuk candi bukan sekadar simbol biasa. Dalam budaya Jawa kuno, sosok ini dipercaya sebagai penjaga dunia spiritual.
Warga setempat menyebut arca pertama sebagai Mbah Bodo, bukan dalam arti bodoh, melainkan diyakini berasal dari kata “Buddha”. Sementara arca kedua dinamai Mbah Dewo.
Uniknya, menurut cerita Wima Brahmantya, arca kedua ini awalnya berada di atas. Namun karena rawan roboh, pihak purbakala menurunkannya menggunakan katrol. Bayangkan berat arca raksasa ini diturunkan dari ketinggian. Sejak saat itu, kedua arca tersebut berdiri berdampingan di pintu masuk candi, menambah aura mistis sekaligus daya tarik bagi para pengunjung.
Sejarah Era Hayam Wuruk
Kisah tentang Candi Gambar Wetan tidak lepas dari kontroversi sejarah. Beberapa sumber menyebut candi ini dibangun sekitar tahun 1410 Masehi. Namun, menurut arkeolog lokal Blitar, Feri Riandika, ada bukti kuat bahwa candi ini justru berdiri sekitar tahun 1357 Masehi, tepat pada masa kejayaan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit.
Perdebatan ini menjadi penting karena Hayam Wuruk wafat pada 1389 Masehi. Jika candi benar-benar dibangun pada 1410, jelas tidak mungkin pada masa pemerintahannya. Fakta ini membuat publik semakin yakin bahwa versi arkeolog lokal lebih valid dibandingkan informasi dari Wikipedia. Artinya, Candi Gambar Wetan adalah saksi nyata kejayaan Majapahit yang hingga kini belum sepenuhnya terkuak.
Relief Kaya Cerita Rakyat
Di bagian dinding candi, relief-relief yang masih tersisa menyimpan cerita rakyat Jawa kuno. Ada kisah Bubuksa dan Gagang Aking, dua saudara yang bertapa demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada pula kisah Panji yang ditandai dengan tokoh ber-topi tekkes dan alat musik mirip gamelan. Bahkan, kisah fabel populer seperti Kancil menolong Lembu dari gigitan buaya juga tergambar di sana.
Sayangnya, tidak semua relief masih bisa dilihat langsung. Sebagian sudah dipindahkan ke Museum Purbakala Penataran demi alasan konservasi. Namun yang tersisa tetap mampu membawa pengunjung pada imajinasi tentang kehidupan, kepercayaan, dan nilai moral masyarakat Jawa pada abad ke-14.
Potensi Edukasi, Bukan Sekadar Wisata
Meski memiliki pesona sejarah luar biasa, kondisi fasilitas menuju Candi Gambar Wetan dinilai belum memadai. Jalan akses masih sulit dilalui kendaraan umum, dan sarana pendukung wisata belum tersedia. Karena itu, menurut Wima Brahmantya, candi ini lebih cocok dikembangkan sebagai pusat edukasi sejarah ketimbang objek wisata massal.
“Kalau pemerintah mau serius, Candi Gambar Wetan bisa dijadikan laboratorium sejarah terbuka. Anak-anak sekolah bisa belajar langsung di sini tentang budaya dan arkeologi,” ujarnya.
Potensi edukatif inilah yang justru lebih berharga dibanding sekadar mengejar kunjungan wisatawan. Dengan pendekatan pendidikan, generasi muda Blitar dapat mengenal, mencintai, sekaligus menjaga warisan leluhur.
Misteri Harta Karun Rp11 Triliun
Di balik semua itu, isu yang paling memicu rasa penasaran publik adalah dugaan adanya harta karun bernilai Rp11 triliun. Meski belum terbukti, cerita ini berkembang di kalangan masyarakat sebagai legenda yang menambah aura misterius candi. Harta itu diyakini berupa peninggalan kerajaan Majapahit yang masih terkubur di sekitar kompleks.
Legenda harta karun memang sering melekat pada situs bersejarah. Namun, yang pasti, nilai sejati dari Candi Gambar Wetan bukan sekadar materi. Nilainya justru terletak pada pelajaran sejarah, filosofi kehidupan, serta warisan budaya yang tak ternilai.
Harapan untuk Masa Depan
Sebagai bagian dari kekayaan arkeologi Blitar, Candi Gambar Wetan layak mendapat perhatian lebih. Bukan hanya soal pelestarian fisik, tetapi juga penggalian pengetahuan dari relief, arca, hingga naskah kuno yang menyebutnya.
Jika pemerintah daerah mampu mengoptimalkan peran edukasi, maka candi ini dapat menjadi pusat pembelajaran sejarah yang membanggakan. Apalagi, dengan cerita-cerita misteri yang melingkupinya, Candi Gambar Wetan berpotensi menjadi ikon baru Blitar yang tak hanya menghibur, tetapi juga mencerdaskan masyarakat.
Editor : Anggi Septian A.P.