Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Relief Candi Gambar Wetan Bongkar Cerita Panji, Bubuksa-Gagang Aking hingga Kisah Kancil Lawan Buaya

Findika Pratama • Minggu, 24 Agustus 2025 | 19:00 WIB
Relief Candi Gambar Wetan Bongkar Cerita Panji, Bubuksa-Gagang Aking hingga Kisah Kancil Lawan Buaya
Relief Candi Gambar Wetan Bongkar Cerita Panji, Bubuksa-Gagang Aking hingga Kisah Kancil Lawan Buaya

BLITAR – Keberadaan Candi Gambar Wetan di Kabupaten Blitar menyimpan kisah budaya yang sangat kaya. Tak hanya arca penjaga, daya tarik utama candi peninggalan Majapahit ini juga terletak pada relief-relief yang menghiasi dindingnya. Relief tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi menyimpan cerita rakyat Jawa kuno yang akrab di telinga masyarakat, dari kisah Panji, Bubuksa dan Gagang Aking, hingga dongeng Kancil lawan Buaya.

Konten kreator sejarah, Wima Brahmantya, mengungkap dalam penelusurannya bahwa Candi Gambar Wetan bagaikan ensiklopedia terbuka. Setiap ukiran batu menceritakan nilai moral, spiritual, dan hiburan yang hidup dalam tradisi Jawa. Tidak heran, situs ini dianggap sebagai salah satu permata Majapahit yang masih tersembunyi di Blitar.

Bagi generasi muda, relief di Candi Gambar Wetan menjadi jembatan untuk mengenal akar budaya sendiri. Kisah-kisah tersebut bukan hanya legenda, tetapi bagian dari cara masyarakat Jawa menanamkan nilai kehidupan. Sayangnya, tidak semua relief bisa dilihat langsung karena sebagian telah dipindahkan ke Museum Purbakala Penataran demi pelestarian.

Bubuksa dan Gagang Aking: Jalan Berbeda Menuju Ilahi

Salah satu relief paling menarik adalah kisah Bubuksa dan Gagang Aking. Dua saudara ini sama-sama bertapa untuk meraih cinta dari Tuhan, namun menempuh jalan yang berbeda. Cerita ini sarat pesan spiritual: bahwa setiap orang punya jalan hidup masing-masing, tetapi tujuan akhirnya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Menurut Wima, relief ini adalah bukti bahwa leluhur Jawa menanamkan nilai toleransi sejak ratusan tahun lalu. Perbedaan cara pandang bukan alasan untuk berkonflik, melainkan jalan menuju harmoni.

Baca Juga: Tidak Ada Rekrutmen CPNS 2025: Peluang ASN Baru Mundur ke 2026-2027?

Panji dan Budaya Hiburan Jawa

Relief lain menggambarkan kisah Panji, tokoh legendaris yang identik dengan topi tekkes. Dalam ukiran, Panji terlihat memainkan alat musik mirip gamelan. Kisah Panji dikenal luas di Jawa Timur, bahkan menjadi bagian dari kesenian rakyat seperti wayang gedhog dan seni tari.

Menariknya, relief Panji di Candi Gambar Wetan menunjukkan bahwa cerita hiburan juga menjadi bagian dari budaya Majapahit. Seni bukan sekadar pelengkap, melainkan sarana pendidikan moral, hiburan rakyat, sekaligus penguat identitas.

Kisah Kancil, Lembu, dan Buaya

Tak hanya legenda spiritual dan tokoh Panji, ada pula relief fabel tentang hewan yang populer di kalangan anak-anak Jawa. Cerita tentang Lembu yang menolong Buaya namun justru digigit, lalu diselamatkan oleh kecerdikan Kancil, terukir di dinding candi.

Dongeng ini mengajarkan pesan moral bahwa kebaikan jangan sampai disalahgunakan, dan kecerdikan bisa menjadi penyelamat dalam situasi sulit. Menurut Wima, relief ini menjadi bukti bahwa cerita rakyat bukan sekadar dongeng, melainkan bagian penting dari pendidikan generasi muda di masa lalu.

Bukti Jejak Peradaban Majapahit

Secara historis, Candi Gambar Wetan diyakini berdiri pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Meski ada perbedaan pendapat soal tahun pembangunan, baik versi 1357 Masehi maupun 1410 Masehi, keduanya menunjukkan hubungan erat dengan masa kejayaan Majapahit.

Relief-relief yang ada membuktikan bahwa candi ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pengetahuan dan kebudayaan. Nilai moral, seni, hingga hiburan masyarakat terekam dalam batu-batu yang masih bertahan hingga kini.

Edukasi, Bukan Sekadar Wisata

Meski kaya warisan budaya, akses menuju Candi Gambar Wetan masih terbatas. Jalan yang terjal dan fasilitas minim membuat candi ini kurang dikenal luas. Wima menilai, alih-alih mengejar wisata massal, candi ini lebih cocok dijadikan laboratorium sejarah terbuka.

“Kalau sekolah-sekolah mengajak siswanya ke sini, mereka bisa belajar langsung. Melihat relief Panji, kisah Bubuksa, hingga dongeng Kancil. Itu pengalaman yang tidak bisa didapat hanya dari buku,” ujarnya.

Jembatan Generasi

Relief di Candi Gambar Wetan sejatinya adalah jembatan antara generasi. Dari masa Majapahit hingga kini, pesan moral yang tersimpan tetap relevan. Cerita tentang toleransi, seni, kecerdikan, dan kebaikan masih bisa menjadi pegangan hidup.

Jika dikelola dengan baik, candi ini bisa menjadi kebanggaan Blitar sekaligus aset nasional. Bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda pada peninggalan leluhur.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Wima Bhrahmantya #sejarah blitar #Candi Gambar Wetan