Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bukan Pariwisata, Candi Gambar Wetan Layak Jadi Pusat Edukasi Sejarah untuk Generasi Muda Blitar

Findika Pratama • Minggu, 24 Agustus 2025 | 18:00 WIB
Bukan Pariwisata, Candi Gambar Wetan Layak Jadi Pusat Edukasi Sejarah untuk Generasi Muda Blitar
Bukan Pariwisata, Candi Gambar Wetan Layak Jadi Pusat Edukasi Sejarah untuk Generasi Muda Blitar

BLITAR – Selama ini banyak orang mengenal Candi Gambar Wetan hanya sebagai destinasi wisata sejarah. Padahal, situs peninggalan Majapahit di Desa Gambar, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, menyimpan potensi lebih dari sekadar pariwisata.

Menurut konten kreator sejarah dan budaya, Wima Brahmantya, Candi Gambar Wetan semestinya diarahkan menjadi pusat edukasi. Sebab, relief, arca, hingga inskripsi yang ada di candi dapat menjadi laboratorium terbuka untuk mempelajari sejarah Majapahit secara langsung.

“Kalau hanya dijadikan wisata, nilai pendidikannya bisa kabur. Padahal generasi muda butuh ruang belajar sejarah yang nyata, bukan hanya dari buku atau internet,” ujarnya.

Warisan Majapahit yang Masih Terpendam

Candi Gambar Wetan berdiri di dataran tinggi sekitar 600 meter dari permukaan laut. Candi ini memiliki banyak relief yang bercerita tentang kisah Panji, Bubuksa dan Gagang Aking, hingga dongeng Kancil lawan Buaya. Semua kisah itu bukan sekadar hiasan, tetapi sarana pendidikan moral dan kebudayaan Jawa kuno.

Namun sayangnya, tidak semua bagian candi sudah tergali. Ekskavasi baru dilakukan pada tahun 1992, 2014, dan 2016. Sebagian besar struktur candi masih tertimbun tanah. Artinya, masih banyak potensi pengetahuan yang bisa digali bila penelitian berlanjut.

Wima menilai, ini menjadi alasan kuat mengapa Candi Gambar Wetan lebih tepat dikembangkan sebagai pusat edukasi sejarah ketimbang hanya dikelola sebagai objek wisata.

Kritis terhadap Informasi Populer

Selama ini, masyarakat banyak bergantung pada Wikipedia untuk mencari informasi tentang candi ini. Namun, konten di sana menyebut candi berdiri tahun 1410 Masehi. Padahal, hasil penelitian arkeolog lokal, Feri Riandika, menyebut tahun pembangunannya adalah 1357 Masehi, masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Ketidakcocokan informasi ini menegaskan bahwa edukasi sejarah harus berbasis penelitian lapangan, bukan sekadar sumber daring yang belum tentu valid. “Kalau pelajar datang langsung, melihat relief, membaca inskripsi, mereka akan lebih kritis terhadap informasi,” tambah Wima.

Menghidupkan Ruang Belajar Terbuka

Mengubah Candi Gambar Wetan menjadi pusat edukasi sejarah bisa dilakukan dengan melibatkan sekolah-sekolah di Blitar. Program kunjungan belajar, diskusi lapangan, hingga penelitian siswa dapat menjadikan candi ini ruang belajar terbuka.

Tidak hanya pelajar SMA, bahkan anak-anak SD bisa diajak mengenal kisah Panji melalui relief. Sementara mahasiswa bisa meneliti lebih dalam fungsi arsitektur, pola pembangunan, dan kaitannya dengan kehidupan Majapahit.

“Kalau ini berjalan, Blitar bisa punya model pembelajaran sejarah langsung yang membumi,” ungkap Wima.

Tantangan dan Kendala

Meski ide menjadikan Candi Gambar Wetan sebagai pusat edukasi sangat menarik, tantangannya tidak sedikit. Kendala utamanya ada pada pendanaan penelitian dan kurangnya perhatian dari pemerintah daerah. Fokus selama ini masih sebatas promosi wisata.

Selain itu, akses menuju candi yang berada di daerah perbukitan juga membuat kunjungan tidak semudah destinasi populer lainnya. Jika ingin menjadikannya pusat edukasi, pemerintah perlu memperbaiki akses jalan sekaligus membangun fasilitas pendukung belajar seperti ruang diskusi dan perpustakaan mini.

Harapan untuk Generasi Muda

Bagi Wima, generasi muda Blitar sangat beruntung memiliki warisan seperti Candi Gambar Wetan. Jika candi ini dikembangkan untuk edukasi, mereka tidak hanya belajar sejarah dari buku, tetapi bisa langsung menyaksikan bukti peradaban Majapahit.

Hal ini penting agar generasi sekarang tidak tercerabut dari akar budayanya. Sebab, banyak anak muda lebih mengenal tokoh-tokoh luar negeri dibanding kisah Panji atau tokoh lokal Majapahit.

“Dengan edukasi berbasis situs sejarah, anak-anak bisa merasa bangga pada warisan leluhur. Rasa memiliki itu yang kita butuhkan,” kata Wima.

Dari Blitar untuk Indonesia

Perdebatan tentang tahun pembangunan, misteri relief, hingga ekskavasi yang belum tuntas seharusnya tidak mengurangi nilai candi. Justru itu bisa menjadi bahan belajar yang menarik bagi pelajar maupun peneliti.

Dengan pendekatan edukasi, Candi Gambar Wetan bisa menjadi model bagaimana situs sejarah tidak hanya dijadikan objek wisata, tetapi juga ruang belajar yang hidup. Dari Blitar, gagasan ini bisa menginspirasi daerah lain di Indonesia untuk memaksimalkan situs sejarah mereka.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Wima Bhrahmantya #sejarah blitar #Candi Gambar Wetan