BLITAR – Sejarah Indonesia sering dimulai dari Kutai dan Tarumanegara yang berdiri pada abad ke-5. Namun, ternyata ada kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara yang nyaris tidak pernah kita dengar di sekolah. Mereka adalah Funan dan Campa, dua kerajaan besar di Asia Tenggara yang justru lebih dulu eksis.
Kerajaan Funan berdiri sekitar abad pertama Masehi, jauh sebelum prasasti Yupa di Kutai ditulis. Begitu pula Campa yang telah muncul sejak abad ke-2, dengan pengaruh budaya dan politik yang sangat kuat di kawasan. Jika bicara kronologi, jelas kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara ini seharusnya ikut disebut dalam narasi sejarah kita.
Sayangnya, dalam pelajaran sejarah, nama Funan dan Campa jarang muncul. Padahal, keduanya punya hubungan erat dengan Nusantara, baik melalui perdagangan maupun budaya. Artinya, kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara sudah ikut memengaruhi peradaban kita sejak dini.
Funan: Pusat Perdagangan Asia Tenggara
Funan dikenal sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional sejak awal abad Masehi. Letaknya strategis di wilayah delta Mekong membuatnya jadi simpul ekonomi Asia Tenggara. Banyak pedagang India dan Tiongkok menjadikan Funan sebagai persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke Nusantara.
Bukti arkeologis menunjukkan Funan memiliki sistem politik dan ekonomi yang terorganisir dengan baik. Bahkan, beberapa sejarawan menyebut Funan sebagai kerajaan tertua di Asia Tenggara. Keberadaan Funan menegaskan bahwa kawasan ini sudah memiliki struktur kekuasaan jauh sebelum Kutai dan Tarumanegara muncul.
Campa: Warisan Budaya yang Hilang
Kerajaan Campa berdiri di wilayah yang kini menjadi Vietnam tengah dan selatan. Sejak abad ke-2, Campa sudah menjalin hubungan perdagangan dengan Nusantara. Catatan sejarah Tiongkok menunjukkan bahwa kapal-kapal dari Campa sering singgah di Jawa dan Sumatra.
Campa juga dikenal dengan warisan budayanya yang unik, mulai dari arsitektur, seni, hingga bahasa. Sayangnya, seiring dengan ekspansi Vietnam, kerajaan ini makin terdesak hingga akhirnya runtuh. Meski begitu, jejak Campa masih bisa ditemui pada komunitas Cham yang tersebar di Asia Tenggara.
Mengapa Funan dan Campa Terlupakan?
Pertanyaan penting adalah mengapa Funan dan Campa jarang disebut dalam buku sejarah Indonesia. Padahal, secara kronologis, mereka jelas lebih tua. Salah satu alasannya mungkin karena fokus pendidikan sejarah kita lebih menekankan kerajaan yang meninggalkan prasasti di wilayah Indonesia.
Akibatnya, peradaban yang berada di luar batas negara modern seakan diabaikan, meski memiliki pengaruh besar terhadap Nusantara. Padahal, sejarah tidak mengenal batas negara, melainkan jaringan budaya, perdagangan, dan politik yang saling berhubungan.
Meninjau Ulang Narasi Sejarah Nusantara
ASISI CHANNEL mengajak publik untuk membuka wawasan lebih luas. Sejarah kita tidak bisa dipisahkan dari konteks Asia Tenggara. Jika kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara seperti Funan dan Campa diakui, maka kita akan melihat betapa Nusantara sejak lama sudah berada dalam jaringan peradaban regional.
Dengan perspektif ini, kita bisa lebih menghargai warisan sejarah, bukan hanya yang berada dalam batas modern Indonesia, tetapi juga yang membentuk akar budaya kita dari luar. Funan dan Campa adalah bukti bahwa sejarah Asia Tenggara jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan.
Editor : Anggi Septian A.P.