Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Abad 4 Malaysia Lebih Dulu Tulis Prasasti? Sejarawan: Jangan Senang Dulu, Itu Cuma Doa Biksu

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 26 Agustus 2025 | 04:30 WIB
Persaingan soal siapa lebih dulu punya peradaban kembali mencuat di media sosial. Malaysia disebut sudah menulis prasasti sejak abad ke-4, jauh sebelum Kutai dan Tarumanegara.
Persaingan soal siapa lebih dulu punya peradaban kembali mencuat di media sosial. Malaysia disebut sudah menulis prasasti sejak abad ke-4, jauh sebelum Kutai dan Tarumanegara.

BLITAR – Persaingan soal siapa lebih dulu punya peradaban kembali mencuat di media sosial. Malaysia disebut sudah menulis prasasti sejak abad ke-4, jauh sebelum Kutai dan Tarumanegara. Klaim ini tentu mengundang reaksi, apalagi jika dikaitkan dengan kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara yang kerap jadi perdebatan.

Sejumlah warganet langsung membandingkan fakta ini dengan sejarah Indonesia. Kutai dengan prasasti Yupa abad ke-5 dan Tarumanegara dengan prasasti Ciaruteun disebut sebagai awal mula sejarah tertulis kita. Jadi, kalau Malaysia sudah lebih dulu abad ke-4, apa artinya mereka lebih tua peradabannya?

Sejarawan justru mengingatkan, jangan buru-buru senang dulu. Prasasti yang ditemukan di Lembah Bujang Malaysia itu ternyata hanya doa seorang biksu. Jadi meski secara usia memang lebih tua, substansinya tidak bisa langsung disamakan dengan kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara yang sudah meninggalkan jejak politik dan sosial.

Prasasti Abad ke-4 di Malaysia

Penemuan prasasti kuno di Lembah Bujang, Kedah, Malaysia, sering dijadikan klaim bahwa negeri jiran punya peradaban tertulis lebih dulu. Prasasti itu berbahasa Sanskerta dan ditulis dengan aksara Pallawa, sama seperti yang ditemukan di Nusantara. Secara akademis, ini memang menandakan pengaruh India sudah sampai ke Semenanjung Malaya sejak awal abad ke-4.

Namun isi prasasti bukan catatan politik atau hukum, melainkan doa keagamaan dari seorang biksu. Artinya, ia tidak mencerminkan berdirinya sebuah kerajaan atau struktur kekuasaan seperti Kutai atau Tarumanegara. Hal ini yang sering luput dari narasi populer.

Kutai dan Tarumanegara Tetap Pionir

Sejarawan ASISI CHANNEL menjelaskan, yang membuat Kutai dan Tarumanegara istimewa adalah bukti keberadaan kerajaan yang jelas. Kutai memiliki prasasti Yupa yang menceritakan raja Mulawarman, lengkap dengan struktur politik dan kegiatan keagamaan. Tarumanegara punya prasasti yang menyinggung Raja Purnawarman serta aktivitas pembangunan.

Inilah alasan mengapa keduanya dianggap tonggak sejarah Nusantara. Kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara memang ada, tetapi perdebatan akademis masih berlangsung karena minimnya bukti konkret. Bandingkan dengan prasasti Malaysia yang lebih berupa ekspresi spiritual pribadi.

Persaingan Sentil-Sentilan di Media Sosial

Di media sosial, isu ini ramai diperbincangkan dengan nada satir. Banyak warganet Indonesia menanggapi klaim Malaysia dengan komentar kocak. Ada yang bilang, “Kalau cuma doa biksu, kita juga bisa bikin lebih tua pakai kertas kalender.”

Sentil-sentilan ini mencerminkan rivalitas lama antara dua negara serumpun soal budaya dan sejarah. Meski kadang berujung perdebatan panas, sebenarnya ini juga jadi pintu masuk masyarakat untuk belajar sejarah lebih dalam.

Pentingnya Perspektif Sejarah yang Luas

Alih-alih sibuk saling klaim, sejarawan mengajak publik melihat konteks lebih luas. Asia Tenggara sejak awal abad Masehi sudah dipengaruhi budaya India dan Tiongkok. Jejaknya ada di Funan, Campa, hingga Sriwijaya, yang semuanya punya kontribusi terhadap peradaban kawasan.

Dengan pemahaman seperti ini, kita bisa menempatkan kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara secara proporsional. Peradaban di kawasan ini tidak bisa dilihat dari satu prasasti saja, melainkan dari jaringan budaya, perdagangan, dan politik yang saling terhubung.

Editor : Anggi Septian A.P.
#kutai #tarumanegara #Kerajaan Kuno