BLITAR – Tak banyak yang tahu jika di kawasan Kampung Pakunden, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, terdapat kampung penghasil tahu di Kota Blitar yang sudah melegenda sejak puluhan tahun lalu. Sentra ini menjadi salah satu denyut nadi ekonomi warga setempat, sekaligus ikon kuliner yang masih bertahan hingga sekarang.
Sejarah panjang kampung penghasil tahu di Kota Blitar ini dimulai dari tradisi keluarga yang turun-temurun memproduksi olahan kedelai tersebut. Dari satu rumah produksi, berkembang menjadi beberapa pabrik tahu yang tersebar di Pakunden. Kini, suasana kampung setiap harinya diwarnai aroma khas rebusan kedelai dan kesibukan pekerja.
Keberadaan kampung penghasil tahu di Kota Blitar ini bukan hanya menjaga tradisi, tapi juga membuka lapangan kerja bagi warga. Banyak masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dari industri tahu, baik sebagai produsen, pengemas, maupun pedagang. Inilah yang menjadikan Pakunden berbeda dari kampung lain di Blitar.
Sejarah Tahu Pangkuden
Menurut penuturan warga setempat, usaha pembuatan tahu di Pakunden sudah berlangsung sejak era 1970-an. Awalnya hanya diproduksi dalam skala kecil untuk memenuhi kebutuhan lokal. Namun, berkat rasa khasnya yang gurih dan teksturnya yang lembut, tahu Pakunden cepat dikenal luas.
Dari masa ke masa, generasi penerus tetap menjaga resep dan teknik produksi tradisional. Proses perebusan, penggumpalan, hingga pencetakan masih dilakukan dengan cara manual. Hal inilah yang membuat tahu Pakunden memiliki rasa autentik yang sulit ditiru.
Kini, meski sudah banyak produsen tahu modern bermunculan, tahu Pakunden tetap menjadi primadona di pasar Blitar. Bahkan, beberapa pabrik tahu di kampung ini sudah mengirim produknya ke luar daerah.
Suasana Kampung Tahu
Memasuki kawasan Pakunden, pengunjung langsung disambut dengan pemandangan unik. Di sepanjang gang, terlihat rumah-rumah warga yang berfungsi sekaligus sebagai pabrik tahu. Tumpukan kayu bakar, drum rebusan kedelai, dan aroma gurih khas tahu merebak ke seluruh penjuru.
Aktivitas warga pun selalu ramai sejak pagi buta. Para pekerja sibuk menggiling kedelai, merebus, hingga mencetak adonan. Sementara itu, di sudut lain, ada yang mengemas tahu untuk segera dipasarkan ke pasar tradisional maupun dititipkan ke warung-warung.
Uniknya, meski pekerjaan mereka berat, suasana pabrik tahu sering diwarnai canda tawa. Bahkan, ada momen di mana para pekerja melantunkan lagu atau joget kecil di sela-sela kesibukan, membuat suasana semakin hangat dan penuh kekeluargaan.
Baca Juga: Letusan Gunung Kelud dan Kiprah Bupati Blitar Jaman Hindia Belanda Hadapi Bencana
Potensi Wisata Edukasi
Dengan keunikannya, kampung Pakunden sebenarnya punya potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi di Kota Blitar. Wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatan tahu, mulai dari kedelai mentah hingga jadi produk siap makan.
Tak hanya itu, wisata kuliner bisa dikembangkan dengan menyediakan tahu goreng hangat, tahu isi, atau olahan lain yang bisa langsung dinikmati pengunjung. Konsep ini sudah banyak diterapkan di sentra kuliner lain di Indonesia dan terbukti mampu menarik minat wisatawan.
Jika pemerintah daerah mampu mengembangkan potensi ini, Pakunden bukan hanya dikenal sebagai kampung industri, tetapi juga ikon wisata kuliner yang mendatangkan manfaat ekonomi lebih besar bagi warganya.
Tahu Pangkuden, Cita Rasa yang Melegenda
Keistimewaan tahu Pangkuden bukan sekadar pada cara pembuatannya, tapi juga pada kualitas bahan baku. Kedelai yang dipilih selalu segar dan diproses tanpa bahan pengawet. Proses tradisional ini menghasilkan tahu dengan tekstur lembut, tidak mudah hancur, dan memiliki rasa gurih alami.
Tak heran, banyak pelanggan setia yang selalu kembali membeli tahu Pangkuden. Beberapa bahkan rela datang dari luar kota hanya untuk membawa pulang tahu khas Blitar ini. Tahu goreng Pakunden kerap jadi oleh-oleh favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Blitar.
Penopang Ekonomi Warga
Lebih dari sekadar kuliner, keberadaan pabrik tahu di Pangkuden menjadi penopang ekonomi masyarakat. Banyak warga yang menggantungkan hidup dari industri ini, baik sebagai pekerja, pemilik usaha, maupun pedagang keliling yang menjual tahu ke pasar.
Setiap harinya, ratusan kilogram tahu diproduksi dan didistribusikan. Industri rumahan ini terbukti mampu bertahan meski di tengah gempuran produk modern. Ketekunan dan semangat gotong royong warga menjadi kunci utama keberlanjutan usaha.
Bagi generasi muda di Pangkuden, usaha tahu juga menjadi sumber inspirasi. Mereka belajar bahwa usaha lokal yang dikelola dengan konsisten bisa bertahan dan memberi manfaat besar bagi banyak orang.
Warisan Kuliner Kota Blitar
Kampung penghasil tahu di Kota Blitar ini sudah selayaknya mendapat perhatian lebih. Selain menjaga tradisi, Pangkuden juga membawa identitas kuliner yang membanggakan. Tahu bukan sekadar makanan, tapi juga simbol ketekunan dan kerja keras warga Blitar.
Dengan semakin dikenalnya Pakunden sebagai kampung tahu, diharapkan ke depan ada dukungan dari pemerintah maupun pihak swasta untuk mengembangkan potensi ini. Baik dari sisi produksi, pemasaran, maupun promosi sebagai bagian dari destinasi wisata kuliner.
Pada akhirnya, tahu Pangkuden bukan hanya soal rasa, tapi juga cerita panjang tentang budaya, ekonomi, dan kebersamaan. Sebuah warisan kuliner yang patut dijaga agar tetap menjadi kebanggaan Kota Blitar untuk generasi mendatang
Editor : Anggi Septian A.P.