BLITAR– Siapa sangka, di balik hidangan sederhana bernama tahu, tersimpan cerita panjang tentang tradisi dan kerja keras masyarakat. Salah satu yang paling terkenal adalah kampung penghasil tahu di Kota Blitar yang berada di kawasan Pakunden, Kecamatan Sukorejo.
Kampung ini sudah lama dikenal sebagai sentra pembuatan tahu tradisional. Di sinilah proses produksi tahu masih dijalankan secara manual, tanpa mesin modern. Tidak heran jika tahu dari kampung penghasil tahu di Kota Blitar ini memiliki cita rasa yang khas dan berbeda.
Setiap hari, aroma rebusan kedelai menyebar ke seluruh sudut kampung. Aktivitas para pekerja yang sibuk mencetak tahu bisa terlihat sejak pagi hingga sore. Inilah keseharian warga di kampung penghasil tahu di Kota Blitar yang membuat suasananya unik dan hidup.
Dari Kedelai Hingga Tahu Siap Santap
Proses pembuatan tahu di pabrik tradisional Pakunden dimulai dengan pemilihan kedelai berkualitas. Kedelai yang digunakan biasanya dipilih secara teliti agar menghasilkan tekstur tahu yang lembut dan gurih. Setelah itu, kedelai direndam dalam air selama beberapa jam untuk mempermudah proses penggilingan.
Setelah direndam, kedelai digiling hingga halus. Hasil gilingan ini kemudian direbus dalam drum besar yang dipanaskan menggunakan kayu bakar. Proses perebusan membutuhkan tenaga ekstra, karena api harus dijaga stabil agar adonan tidak gosong.
Dari perebusan inilah muncul aroma khas yang menyebar ke seluruh kampung. Air rebusan kemudian disaring, dan sari kedelai yang tersisa akan diolah lebih lanjut untuk membentuk tahu.
Rahasia Penggumpalan yang Jadi Ciri Khas
Tahap berikutnya adalah penggumpalan, bagian terpenting dari proses pembuatan tahu. Sari kedelai ditambahkan bahan alami seperti air garam atau asam cuka. Proses ini membuat cairan berubah menjadi gumpalan yang siap dicetak.
Setelah menggumpal, adonan tahu dimasukkan ke dalam cetakan kayu yang sudah dilapisi kain khusus. Cetakan ini membantu membentuk tahu menjadi kotak-kotak rapi seperti yang kita lihat sehari-hari.
Proses pengepresan dilakukan secara manual menggunakan pemberat kayu atau batu. Inilah yang membedakan tahu tradisional dengan produksi modern. Tekanan alami membuat tahu lebih padat namun tetap lembut ketika digoreng atau direbus.
Baca Juga: Jejak Bupati Blitar Jaman Hindia Belanda: Dari Aryo Adinegoro hingga Warsa Hadiningrat
Suasana Pabrik Tahu Tradisional
Mengintip ke dalam pabrik tahu di Pakunden terasa seperti melihat mesin hidup yang digerakkan manusia. Suasana sibuk tampak dari pekerja yang bekerja sama secara cepat dan cekatan. Ada yang mengangkat drum panas, ada pula yang menuangkan adonan ke cetakan.
Meski pekerjaan terlihat berat, suasana tetap cair dengan canda tawa. Bahkan, ada momen di mana pekerja sambil menyanyi atau bercanda untuk mengusir rasa lelah. Inilah yang membuat atmosfer kerja di kampung tahu terasa hangat dan penuh kebersamaan.
Pekerjaan ini juga menuntut stamina tinggi. Panas dari tungku kayu bakar bercampur dengan uap kedelai yang mengepul membuat tubuh cepat berkeringat. Namun, semangat para pekerja tetap menyala karena mereka sadar, tahu yang dihasilkan akan jadi sumber penghidupan banyak keluarga.
Distribusi dan Pasar
Setelah tahu dicetak, produk ini langsung dipasarkan ke berbagai tempat. Ada yang dijual di pasar tradisional, ada pula yang langsung dikirim ke warung makan. Bahkan, beberapa pedagang keliling mengambil langsung dari pabrik untuk dijajakan di jalanan.
Kapasitas produksi di kampung Pakunden bisa mencapai ratusan kilogram per hari. Semua itu dilakukan tanpa mesin canggih, melainkan dengan tenaga manusia. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya tradisi dan ketekunan warga dalam menjaga kualitas.
Tak hanya masyarakat Blitar, tahu Pakunden juga dikenal hingga luar daerah. Banyak pelanggan dari kota lain yang sengaja datang untuk membeli tahu segar langsung dari pabriknya.
Nilai Tradisi dan Ekonomi
Lebih dari sekadar makanan, tahu Pakunden adalah simbol tradisi turun-temurun. Generasi lama mewariskan cara produksi kepada generasi muda, agar resep asli tetap terjaga. Dengan begitu, identitas kuliner Blitar tetap hidup hingga kini.
Selain menjaga budaya, pabrik tahu juga menjadi penopang ekonomi warga. Banyak keluarga menggantungkan hidup dari usaha ini, baik sebagai pekerja maupun pedagang. Keberadaan kampung tahu membantu mengurangi pengangguran sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Setiap kotak tahu yang keluar dari pabrik adalah hasil kerja keras dan kebersamaan. Inilah yang membuat tahu Pangkuden memiliki nilai lebih, bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cerita perjuangan.
Baca Juga: Rahasia Fashion Elegan Densu Punya 8 Perusahaan: Dari Bros Silver hingga Sepatu Misterius
Potensi Wisata Edukasi
Kampung Pakunden punya potensi besar dikembangkan sebagai wisata edukasi. Wisatawan bisa diajak berkeliling pabrik, melihat langsung proses pembuatan tahu, hingga mencicipi tahu hangat yang baru diangkat dari cetakan.
Jika dikemas dengan baik, konsep wisata ini bisa menarik banyak pengunjung. Selain menambah pemasukan warga, juga memperkuat citra Blitar sebagai kota kuliner tradisional.
Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, bukan tidak mungkin Pakunden akan jadi destinasi populer seperti sentra kuliner lain di Indonesia.
Warisan Kuliner yang Harus Dijaga
Tahu Pakunden bukan hanya sekadar lauk sederhana di meja makan. Ia adalah hasil karya kolektif warga yang penuh dedikasi. Keaslian proses tradisional inilah yang menjadikannya warisan kuliner berharga.
Kampung penghasil tahu di Kota Blitar patut dijaga keberadaannya. Bukan hanya demi ekonomi warga, tapi juga demi identitas budaya kuliner Blitar. Sebab, tahu Pakunden adalah bukti nyata bahwa tradisi bisa tetap hidup di tengah arus modernisasi. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.