Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Kasus Obesitas di Kabupaten Blitar Capai Ratusan, Dinkes: Mereka Rentan Hipertensi dan Diabetes

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 27 Agustus 2025 | 18:00 WIB

 

⁠Kasus Obesitas di Kabupaten Blitar Capai Ratusan, Dinkes: Mereka Rentan Hipertensi dan Diabetes
⁠Kasus Obesitas di Kabupaten Blitar Capai Ratusan, Dinkes: Mereka Rentan Hipertensi dan Diabetes

BLITAR – Angka obesitas di Kabupaten Blitar masih menjadi perhatian serius. Sebab, sejak Januari hingga Juli 2025, tercatat 207 warga dinyatakan mengalami obesitas. Kondisi ini dinilai cukup mengkhawatirkan karena obesitas bukan sekadar soal berat badan berlebih, melainkan juga menjadi pintu masuk berbagai penyakit kronis.

Subkoordinator Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Hyndra Satria menjelaskan, temuan kasus obesitas tersebut terdeteksi setelah petugas kesehatan melakukan skrining di desa melalui posyandu, puskesmas, fasilitas layanan kesehatan, hingga kegiatan pemeriksaan massal di sejumlah acara.

“Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut. Batas normal lingkar perut untuk perempuan maksimal 80 cm, sedangkan untuk laki-laki 90 cm. Jika melebihi ukuran tersebut, seseorang masuk kategori obesitas,” ujarnya Selasa (26/8/2025).

Dari hasil pemantauan, kasus obesitas di Kabupaten Blitar lebih banyak dialami oleh pria dibanding wanita. Kelompok usia yang paling dominan adalah di atas 45 tahun. Menurut Hyndra, pasien obesitas disebabkan pola makan yang tidak terkendali, yakni mengonsumsi kalori lebih banyak daripada kebutuhan tubuh. “Kondisi ini diperparah dengan minimnya aktivitas fisik atau olahraga sehingga kalori berlebih menumpuk menjadi lemak,” jelasnya.

Hyndra menyebut, meski angka 207 kasus terbilang tinggi, jumlah tersebut sebenarnya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024 lalu tercatat ada 1.602 warga Kabupaten Blitar yang masuk kategori obesitas.

Penurunan ini dinilai sebagai hasil dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan mulai menjaga pola makan. “Selain berat badan berlebih, sebagian besar penderita obesitas juga mengalami penyakit penyerta, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Ini yang berbahaya karena bisa memicu komplikasi serius, mulai dari penyakit jantung hingga stroke,” imbuhnya.

Meski demikian, Hyndra tetap mengingatkan agar masyarakat tidak abai terhadap kesehatan, utamanya obesitas. Sebab, hal ini bisa menyerang siapa saja, tidak hanya orang dewasa atau usia lanjut. Perubahan gaya hidup modern yang serba instan, ditambah kebiasaan makan berlebihan dan kurangnya gerak, membuat risiko obesitas semakin besar.

Dinkes mengimbau masyarakat menjaga pola makan sehat dengan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak. Selain itu, rutin bergerak atau berolahraga minimal 30 menit setiap hari. Hal sederhana seperti jalan kaki atau bersepeda juga sudah cukup membantu mencegah obesitas. Dinkes Kabupaten Blitar juga berencana memperluas program skrining obesitas dan penyakit tidak menular ke desa-desa.

Tujuannya agar deteksi dini bisa dilakukan lebih merata dan masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya. “Obesitas bukan sekadar masalah penampilan, tetapi masalah kesehatan serius yang bisa berdampak jangka panjang. Kami berharap masyarakat lebih disiplin menjaga pola hidup sehat sehingga angka obesitas di Kabupaten Blitar bisa terus ditekan,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #dinkes blitar #obesitas