Blitar, – Candi Penataran menjadi salah satu situs bersejarah paling penting di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai kompleks candi terluas di provinsi ini, Candi Penataran juga dipercaya dibangun sebagai bentuk ritual penangkal bahaya letusan Gunung Kelud.
Keberadaan Candi Penataran tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Gunung Kelud yang dikenal aktif meletus sejak zaman dahulu. Letusan yang memporak-porandakan wilayah sekitarnya membuat kerajaan pada masa itu mencari cara untuk meredam murka alam. Salah satunya melalui pendirian candi ini.
Mengutip kanal ktj YouTube, Candi Penataran dibangun pada masa Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12. Fungsinya bukan hanya tempat pemujaan, melainkan juga sarana spiritual untuk memohon perlindungan dari bencana, khususnya dari Gunung Kelud yang letusannya kerap menelan korban.
Jejak Sejarah dan Filosofi Pembangunan
Menurut catatan sejarah, pembangunan Candi Penataran dimulai sekitar tahun 1190 Masehi pada masa pemerintahan Raja Srengga dari Kerajaan Kediri. Pembangunan ini kemudian berlanjut hingga masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Hal ini membuat Candi Penataran kaya dengan jejak peradaban lintas zaman.
Filosofi utamanya adalah upacara pemujaan untuk menenangkan kekuatan alam. Gunung Kelud dianggap sebagai sumber bencana besar, sehingga masyarakat kala itu meyakini perlu ada sarana pemujaan untuk meredam energinya. Di sinilah Candi Penataran mengambil peran penting.
Kompleks candi yang berdiri di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, itu membentang seluas 13.000 meter persegi. Luasnya membuat Candi Penataran ditetapkan sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur.
Arca Dwarapala Penjaga Gerbang
Saat memasuki kompleks, pengunjung akan langsung disambut dua arca raksasa yang disebut Dwarapala. Arca ini berangka tahun 1242 Saka atau 1320 Masehi dan berfungsi sebagai penjaga gerbang. Dalam ajaran Hindu-Buddha, Dwarapala dianggap sebagai simbol pelindung dari roh jahat maupun ancaman luar.
Kehadiran arca Dwarapala di pintu masuk Candi Penataran menjadi lambang bahwa situs ini bukan sekadar bangunan, melainkan tempat suci yang dijaga secara spiritual. Bagi masyarakat kuno, perlindungan tersebut penting agar upacara pemujaan untuk penangkal bencana bisa berlangsung khidmat.
Sampai kini, arca-arca itu tetap berdiri kokoh. Kehadirannya memberi kesan megah sekaligus mistis bagi siapa saja yang berkunjung.
Relief Ramayana hingga Candi Naga
Candi Penataran juga menyimpan kekayaan seni ukir berupa relief dan arsitektur unik. Relief Ramayana, Krisnayana, serta ornamen naga bisa ditemukan di dinding-dinding candi. Semua relief itu tidak sekadar hiasan, tetapi sarat pesan moral dan spiritual.
Salah satu bangunan menarik adalah Candi Naga. Sesuai namanya, candi ini diapit oleh ukiran naga yang melilit sembilan tokoh berbusana raja. Bangunan ini diyakini melambangkan perlindungan, sekaligus menegaskan hubungan antara manusia, dewa, dan alam semesta.
Selain itu, terdapat pula Candi Ganesha yang menyimpan arca Ganesha di dalamnya. Kehadiran arca tersebut menambah dimensi spiritual Candi Penataran sebagai tempat pemujaan sekaligus penangkal bencana.
Petirtaan dengan Air Abadi
Salah satu bagian yang tak kalah populer dari kompleks ini adalah petirtaan atau kolam pemandian. Air di petirtaan Candi Penataran diyakini tidak pernah kering meski musim kemarau panjang. Kepercayaan lokal menyebut air tersebut bisa membawa keberkahan, bahkan ada yang percaya mampu membuat awet muda dan mendatangkan rezeki.
Bagi masyarakat zaman kerajaan, petirtaan berfungsi sebagai tempat mandi para bangsawan sekaligus sarana penyucian diri sebelum ritual. Kini, kolam tersebut menjadi daya tarik wisata sekaligus simbol keabadian Candi Penataran.
Mitigasi Bencana Ala Kerajaan Tempo Dulu
Keberadaan Candi Penataran memperlihatkan bagaimana leluhur Jawa memandang bencana. Alih-alih hanya pasrah, mereka berusaha mencari cara spiritual untuk berdamai dengan alam. Pendirian candi sebagai penangkal bahaya Gunung Kelud merupakan bentuk mitigasi bencana ala kerajaan di masa lalu.
Gunung Kelud sendiri tercatat sudah ratusan kali meletus sepanjang sejarah. Salah satunya letusan besar pada abad ke-14 yang menewaskan ribuan orang. Pendirian Candi Penataran menjadi bukti bahwa kerajaan berupaya memberikan perlindungan, baik secara spiritual maupun psikologis, kepada rakyatnya.
Wisata Sejarah yang Terawat
Baca Juga: Apakah TKA Menentukan Kelulusan? Simak Penjelasan dan Dasar Hukumnya dalam Simulasi TKA Online 2025
Kini, Candi Penataran menjadi salah satu destinasi wisata utama di Blitar. Keindahan arsitektur, luasnya kompleks, hingga nilai sejarahnya menjadikan situs ini wajib dikunjungi wisatawan. Terlebih, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk alias gratis.
Pihak pengelola juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian. Pengunjung dilarang keras mencoret, merusak, atau memindahkan batu candi. Hukuman pidana hingga 15 tahun penjara serta denda miliaran rupiah bisa menjerat pelanggar.
Kondisi yang terawat, bersih, dan asri membuat pengalaman berkunjung semakin berkesan. Banyak wisatawan memilih datang sore hari karena pencahayaan alami membuat spot foto tampak indah.
Warisan Dunia yang Layak Dijaga
Sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur, Candi Penataran tidak hanya warisan sejarah lokal, tetapi juga aset budaya dunia. Nilai filosofisnya sebagai penangkal murka Gunung Kelud menambah daya tarik tersendiri.
Mengutip sumber ktj YouTube, Candi Penataran adalah saksi bagaimana masyarakat Jawa kuno memandang alam, bencana, dan kehidupan spiritual. Warisan ini patut dijaga agar generasi mendatang tetap bisa belajar dari kebijaksanaan leluhur.
Dengan keindahan dan kisah heroiknya, Candi Penataran akan selalu menjadi ikon Blitar. Bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai simbol hubungan manusia dengan alam yang penuh makna.
Editor : Anggi Septian A.P.