Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Kusno ke Presiden Soekarno: Fakta Lahirnya Sang Proklamator di Blitar

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 28 Agustus 2025 | 04:00 WIB
Tidak banyak yang tahu bahwa Presiden Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, terlahir dengan nama berbeda. Ia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dengan nama K
Tidak banyak yang tahu bahwa Presiden Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, terlahir dengan nama berbeda. Ia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dengan nama K

BLITAR – Tidak banyak yang tahu bahwa Presiden Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, terlahir dengan nama berbeda. Ia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dengan nama Kusno Sosrodiharjo. Kisah pergantian nama inilah yang menjadi awal sejarah panjang perjalanan hidupnya.

Nama asli Presiden Soekarno diberikan oleh orang tuanya, Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Namun, sejak kecil Kusno dikenal sakit-sakitan. Keyakinan masyarakat Jawa pada masa itu percaya bahwa nama yang "berat" bisa membawa kesialan bagi anak.

Karena alasan itu, nama Kusno kemudian diganti menjadi Soekarno. Dari sinilah lahir sosok yang kelak menjadi pemimpin besar bangsa, seorang tokoh yang kelahirannya di Blitar akan dikenang sepanjang sejarah Indonesia.

Baca Juga: ⁠Masih Beredar Rokok Ilegal?, Masyarakat Diminta Lebih Waspada jika Tak Ingin Terseret Pidana

Perjalanan hidup Presiden Soekarno tidak bisa dilepaskan dari kota Blitar. Meski sempat tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, masa kecilnya tetap berakar di tanah kelahirannya. Blitar bukan hanya menjadi tempat ia dilahirkan, tetapi juga tempat peristirahatan terakhirnya setelah wafat pada 21 Juni 1970.

Kisah pergantian nama dari Kusno ke Soekarno ini kemudian menjadi simbol transformasi hidup. Dari seorang anak yang rapuh menjadi pemimpin yang tangguh. Dari bayi sakit-sakitan, ia menjelma menjadi sosok orator ulung yang mampu mengguncang podium dengan teriakan "Merdeka!".

Nessie Judge, kreator konten populer di YouTube, pernah mengangkat kisah perjalanan hidup Presiden Soekarno dalam seri History Telling. Dalam narasinya, ia menekankan betapa pergantian nama kecil bisa memberi makna besar dalam sejarah seseorang. Seolah nama baru itu memberi energi baru bagi Soekarno untuk berjuang bagi Indonesia.

Baca Juga: Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar, Pangkuden Jadi Sentra Legendaris yang Tetap Eksis

Selain soal nama, Presiden Soekarno dikenal sebagai pribadi yang cerdas. Sejak masa kecil ia menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang bahasa. Tercatat ia menguasai Belanda, Inggris, Jerman, Arab, Prancis, Jepang, hingga bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, dan Bali.

Kemampuan ini menjadikannya tidak hanya seorang insinyur lulusan Technische Hogeschool (sekarang ITB), tetapi juga seorang pemimpin berwawasan luas. Ia mampu menjalin komunikasi dengan tokoh dunia, termasuk pemimpin besar seperti John F. Kennedy hingga pemikir dari Timur Tengah.

Namun akar sejarahnya tetap kembali ke Blitar. Kota kecil di Jawa Timur itu tidak hanya menjadi tempat lahir, tetapi juga simbol kebangkitan. Ketika jasadnya dibawa dan dimakamkan di Blitar, ribuan rakyat dari berbagai daerah tumpah ruah untuk memberi penghormatan terakhir.

Baca Juga: Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar, Pangkuden Jadi Sentra Legendaris yang Tetap Eksis

Pergantian nama dari Kusno ke Soekarno juga mencerminkan filosofi hidup Jawa. Nama dianggap doa, juga arah perjalanan. Dari "Kusno" yang sakit-sakitan, menjadi "Soekarno" yang kuat bagai karang. Hal ini sejalan dengan karakter Bung Karno yang keras kepala, teguh, namun penuh semangat perjuangan.

Dalam catatan Nessie Judge, detail ini sering kali luput dari perhatian generasi muda. Banyak yang mengenal Presiden Soekarno hanya sebagai proklamator, namun tidak memahami bahwa perjalanan hidupnya dimulai dari cerita sederhana di Blitar. Dari sebuah nama yang diubah demi harapan masa depan yang lebih baik.

Kisah ini penting untuk diingat, terutama bagi masyarakat Blitar. Sebab, kota ini tidak hanya tercatat dalam peta Indonesia sebagai daerah biasa, tetapi sebagai tempat lahir seorang bapak bangsa. Sebuah kebanggaan yang tidak ternilai.

Baca Juga: Mengintip Proses Pembuatan Tahu di Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar

Lebih jauh, perjalanan hidup Presiden Soekarno sejak kecil juga memberi inspirasi bagi generasi muda. Ia bukan lahir dari keluarga kaya raya, melainkan keluarga sederhana. Namun dengan semangat belajar dan tekad kuat, ia mampu mengubah sejarah bangsa.

Di masa sekolahnya, Soekarno dikenal sebagai murid yang rajin dan haus ilmu. Ia banyak belajar dari tokoh-tokoh pergerakan seperti H.O.S. Cokroaminoto. Dari sanalah benih-benih nasionalisme mulai tumbuh dalam dirinya.

Perjalanan itu kemudian membawanya ke panggung politik nasional. Dengan orasi yang berapi-api, Presiden Soekarno berhasil menyatukan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Semua berawal dari Blitar, dari seorang bayi bernama Kusno.

Baca Juga: Pabrik Tahu Pangkuden Jadi Magnet Wisata Edukasi Baru di Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar

Kini, setiap kali nama Presiden Soekarno disebut, Blitar selalu ikut disebut. Kota ini menjadi saksi lahir dan wafatnya sang proklamator. Perjalanan dari Kusno menjadi Soekarno tidak hanya kisah pribadi, melainkan bagian dari sejarah bangsa Indonesia.

Masyarakat Blitar hingga kini masih merawat makam Presiden Soekarno dengan penuh hormat. Kompleks Makam Bung Karno menjadi salah satu destinasi ziarah sejarah paling ramai di Indonesia. Ratusan ribu peziarah datang setiap tahun, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Kisah lahirnya Kusno di Blitar hingga menjadi Presiden Soekarno adalah pengingat bahwa dari sebuah kota kecil bisa lahir seorang pemimpin besar dunia. Bahwa nama bukan sekadar panggilan, tetapi doa dan energi untuk menjalani takdir.

Dan pada akhirnya, Blitar akan selalu dikenang sebagai tempat lahir, sekaligus rumah abadi bagi sang putra terbaik bangsa: Ir. Soekarno.

Editor : Anggi Septian A.P.
#presiden soekarno