Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Soekarno dan Blitar: Dari Lahir Hingga Peristirahatan Terakhir Presiden Soekarno

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 28 Agustus 2025 | 05:30 WIB
Blitar bukan hanya sekadar kota kecil di Jawa Timur. Bagi bangsa Indonesia, kota ini memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan Presiden Soekarno.
Blitar bukan hanya sekadar kota kecil di Jawa Timur. Bagi bangsa Indonesia, kota ini memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan Presiden Soekarno.

BLITAR - Blitar bukan hanya sekadar kota kecil di Jawa Timur. Bagi bangsa Indonesia, kota ini memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan Presiden Soekarno. Dari lahir pada tahun 1901 hingga dimakamkan pada 1970, Blitar menjadi titik awal sekaligus akhir perjalanan hidup sang proklamator.

Nama Presiden Soekarno selalu lekat dengan kisah perjuangan, pidato berapi-api, hingga karismanya yang mendunia. Namun, jejak Blitar dalam kehidupannya memberi makna mendalam yang jarang disorot publik. Sebuah lingkar sejarah yang menyatukan kota ini dengan tokoh besar dunia.

Konten ini merujuk pada ulasan Nessie Judge yang membahas sisi personal Soekarno secara menarik. Dari situlah kita bisa menelusuri bagaimana Blitar menjadi saksi abadi perjalanan sang putra fajar.

Baca Juga: Pemkab Blitar Segera Buka Seleksi Sekda, Ini Tahapannya

Lahir di Blitar: Dari Kusno Menjadi Soekarno

Presiden Soekarno lahir dengan nama Kusno Sosrodiharjo pada 6 Juni 1901 di Surabaya. Namun, masa kecilnya banyak dihabiskan di Blitar bersama orang tuanya, Raden Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Dalam budaya Jawa, nama dianggap sangat berpengaruh terhadap nasib seseorang. Karena kecilnya sering sakit-sakitan, Kusno kemudian diganti namanya menjadi Soekarno. Perubahan nama ini dianggap memberi kekuatan dan jalan hidup baru.

Blitar menjadi tempat ia mengenyam pendidikan dasar. Kehidupan sederhana di kota ini membentuk karakter kuat yang kelak melekat pada diri Presiden Soekarno.

Baca Juga: ⁠Masih Beredar Rokok Ilegal?, Masyarakat Diminta Lebih Waspada jika Tak Ingin Terseret Pidana

Blitar sebagai Simbol Perjuangan

Meski menempuh pendidikan lanjutan di Surabaya dan Bandung, Blitar tetap menjadi rumah batin bagi Presiden Soekarno. Ia kerap menyebut tanah kelahirannya dengan penuh kebanggaan.

Dalam catatan sejarah, Blitar juga menjadi lokasi strategis penyebaran semangat perjuangan. Banyak pemuda di kota ini yang terinspirasi oleh gagasan Soekarno. Hubungan emosional itu membuat nama Blitar identik dengan semangat nasionalisme.

Nessie Judge menyebutkan bahwa sisi lokalitas seorang tokoh besar sering dilupakan publik. Padahal, akar perjuangan kerap muncul dari pengalaman kecil di tanah kelahiran.

Baca Juga: Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar, Pangkuden Jadi Sentra Legendaris yang Tetap Eksis

Perjalanan Hidup Hingga Puncak Kekuasaan

Setelah menamatkan pendidikan di HBS Surabaya dan melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), Soekarno tumbuh menjadi seorang insinyur dengan pemikiran visioner.

Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927, lalu berulang kali dipenjara dan dibuang oleh Belanda karena aktivitas politiknya. Namun, justru dari tekanan itu ia makin dikenal sebagai tokoh perlawanan rakyat.

Puncaknya, pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno bersama Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dunia mencatat nama Soekarno sebagai salah satu orator dan pemimpin paling karismatik di abad ke-20.

Baca Juga: Mengintip Proses Pembuatan Tahu di Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar

Kembali ke Blitar: Akhir Sang Proklamator

Presiden Soekarno wafat pada 21 Juni 1970. Meski pemerintah saat itu menghendaki agar beliau dimakamkan di Jakarta, akhirnya diputuskan bahwa jasad Bung Karno dibawa ke Blitar.

Blitar dipilih bukan hanya karena ikatan sejarah keluarga, tetapi juga karena kota ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Ribuan rakyat tumpah ruah mengiringi pemakaman yang penuh haru.

Makam Presiden Soekarno kini berdiri megah di Kota Blitar. Tempat ini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga pusat ziarah nasional yang setiap tahun ramai dikunjungi.

Baca Juga: Pabrik Tahu Pangkuden Jadi Magnet Wisata Edukasi Baru di Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar

Blitar, Soekarno, dan Generasi Muda

Hingga kini, Blitar selalu identik dengan Presiden Soekarno. Banyak sekolah, jalan, hingga museum di kota ini yang didedikasikan untuk mengenang jasa-jasanya.

Generasi muda bisa belajar bahwa seorang tokoh besar lahir dari lingkungan sederhana. Dari tanah Blitar yang tenang, lahirlah seorang pemimpin yang mampu mengguncang dunia.

Seperti dikutip Nessie Judge, “Soekarno tidak hanya milik sejarah, tetapi juga milik masa depan.” Dengan memahami akar lokalitasnya di Blitar, generasi sekarang bisa mengambil pelajaran penting tentang jati diri bangsa.

Baca Juga: Tahu Pangkuden, Cita Rasa Khas dari Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar yang Melegenda

Blitar adalah awal dan akhir kehidupan Presiden Soekarno. Dari nama Kusno yang kemudian menjadi Soekarno, hingga dari tanah Blitar beliau kembali beristirahat.

Sejarah ini bukan sekadar catatan, tetapi simbol bahwa perjuangan besar bisa lahir dari kota kecil. Blitar dan Soekarno adalah dua nama yang kini terikat selamanya dalam ingatan bangsa.

Melalui perjalanan hidup Presiden Soekarno, kita belajar bahwa cinta tanah kelahiran akan selalu memberi arah, bahkan hingga napas terakhir.

Editor : Anggi Septian A.P.
#presiden soekarno