BLITAR - Dari Tangan Wiwik Narwanti Sutjitjahjani, lahirlah karya kerajinan tangan yang menarik.
Dengan sentuhan kreativitas dan semangat melestarikan produk lokal, UMKM ini berhasil menghadirkan produk kerajinan yang tak hanya bernilai jual, tapi juga memiliki nilai seni yang tinggi.
Ruangan sederhana berukurang sekitar 4x4 meter itu tampak dipenuhi berbagai barang kerajinan tangan.
Khususnya barang hasil rajutan berupa tas, gantungan kunci, boneka, dan lain sebagainya. Lewat ruangan itulah, Wiwik Narwanti Sutji Tjahjani menuangkan ide kreatifnya untuk produk kerajinan tangan.
Semua itu berawal dari hobi. Warga Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul ini sudah suka membuat kerajinan tangan sejak kecil, yakni rajut. Dia tak menyangka langkah kecilnya akan terus berlanjut hingga kini.
Pada 1995, dia mulai membuka toko kerajinan miliknya sendiri dengan nama toko yang terinspirasi dari nama anak bungsunya “ Gitta”.
Dari situ, dia membuat banyak kerajinan tangan dari seni merajut, seperti gorden, taplak meja, dan pernak-pernik rumah tangga lainnya.
Awalnya, produk hanya dipasarkan ke rekan-rekan dan perkantoran. Namun, Wiwik juga pernah menerima orderan dari warga Amerika.
Produk yang difokuskan untuk sekarang ada dua, yaitu rajut benang dan sulam pita. Untuk produk dari rajut benang berupa tas, gantungan kunci, hingga boneka. Kemudian untuk sulam pita berupa taplak meja, tempat tisu, dan sarung bantal.
“Kalau produk seperti tempat tisu, pengerjaan dalam sehari bisa menghasilkan tiga sampai empat buah. Dan kalau pesanan banyak, saya dibantu sama teman komunitas merajut saya,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (26/8/2025).
Selama 15 tahun, Wiwik menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Timur untuk memberikan ruang praktik kepada pelajar hingga mahasiswa dari berbagai daerah untuk berlatih membuat kerajinan tangan.
Meskipun tidak dengan pengajaran formal, Wiwik memberikan kesempatan anak-anak untuk terlibat langsung dalam pembuatan produk.
“Ketrampilan yang saya miliki ini sebisa mungkin saya tularkan kepada orang lain. Harapannya agar mereka juga bisa memiliki bekal usaha kreatif di kemudian hari,” tutur perempuan 62 tahun ini.
Selain itu, Wiwik juga membuka kelas merajut untuk perorangan yang ingin belajar merajut ataupun menyulam.
Wiwik juga sering menjadi narasumber untuk keperluan kepelatihan merajut dan menyulam, baik di perkantoran ataupun pernah di event Perpustakaan Bung Karno.
Tantangan Wiwik saat ini adalah usia dan adaptasi dengan media sosial. Dia menyadari bahwa fisiknya tidak lagi sekuat dulu sehingga harus membutuhkan tenaga bantuan dari orang lain. Selain itu, dia juga harus mengikuti tren pemasaran di media sosial.
Meski sudah lanjut usia, semangatnya tidak pernah luntur. Dia memiliki rencana membuka toko kerajinan yang kelak diwariskan kepada anaknya.
“Anak saya yang akan meneruskan dengan tetap melalui bimbingan saya. Salah satu toko itu sudah ada di Malang, yang dikelola oleh anak saya,” tandas ibu dua anak ini. (*/c1/sub) (*)