Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Misteri Candi Gedog: Hilang 200 Tahun, Ditemukan Terkubur di Bawah Pohon Beringin Blitar

Anggi Septiani • Jumat, 29 Agustus 2025 | 06:00 WIB
Misteri Candi Gedog: Hilang 200 Tahun, Ditemukan Terkubur di Bawah Pohon Beringin Blitar
Misteri Candi Gedog: Hilang 200 Tahun, Ditemukan Terkubur di Bawah Pohon Beringin Blitar

BLITAR – Misteri Candi Gedog kembali mencuat setelah penemuan mengejutkan lewat ekskavasi pada 2020–2021. Candi yang pernah dicatat oleh Thomas Stamford Raffles pada awal abad ke-19 ini sempat digambarkan megah, namun selama hampir 200 tahun seolah hilang tanpa jejak.

Kini, lewat penelitian arkeologi, keberadaan Candi Gedog kembali diungkap. Tertimbun tanah dan berada tepat di bawah pohon beringin tua, bangunan bersejarah itu menambah daftar panjang peninggalan Majapahit di Blitar yang sarat kisah misteri.

Ditemukannya kembali Candi Gedog bukan hanya menghidupkan kembali catatan sejarah, tetapi juga membuka ruang baru untuk diskusi publik. Bagaimana sebuah candi besar bisa “lenyap” begitu saja dari pandangan masyarakat selama ratusan tahun?

Catatan Raffles yang Terlupakan

Keberadaan Candi Gedog pertama kali tercatat dalam buku The History of Java karya Raffles tahun 1817. Dalam tulisannya, Raffles menyebutkan bahwa candi ini berdiri megah di Blitar dengan arsitektur yang khas peninggalan Majapahit. Namun, setelah catatan itu, jejak fisik candi ini seolah raib.

Peneliti menduga hilangnya Candi Gedog berkaitan dengan aktivitas alam dan manusia. Ada kemungkinan candi tertimbun material akibat aktivitas vulkanik Gunung Kelud. Namun, tak sedikit pula yang meyakini penjarahan batu candi pada masa kolonial turut mempercepat hilangnya bangunan ini.

Meski begitu, misteri tentang ke mana hilangnya Candi Gedog terus menjadi perbincangan di kalangan sejarawan dan masyarakat lokal. Hingga akhirnya ekskavasi resmi dilakukan.

Ekskavasi 2020–2021

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi di Desa Gedog, Kecamatan Sananwetan, Blitar, pada 2020 hingga 2021. Hasilnya, ditemukan struktur batu bata kuno yang diyakini sebagai bagian dari Candi Gedog. Lokasinya berada di bawah pohon beringin besar yang sejak lama dianggap keramat oleh warga sekitar.

Temuan ini mencakup susunan bata kuno, pondasi candi, serta sisa bangunan yang terkubur cukup dalam. Para arkeolog meyakini, meski sebagian besar struktur asli telah hancur, sisa-sisa tersebut cukup membuktikan bahwa candi ini memang pernah berdiri megah.

Bagi warga Blitar, temuan ini menguatkan cerita turun-temurun bahwa di sekitar pohon beringin itu memang ada “candi yang hilang”. Misteri yang dulu hanya dianggap mitos, kini menemukan bukti nyata.

Baca Juga: Candi Penataran, Penangkal Murka Gunung Kelud yang Masih Berdiri Megah

Hilang Karena Penjarahan?

Sejumlah sejarawan meyakini hilangnya Candi Gedog tidak semata karena alam. Catatan kolonial menunjukkan adanya praktik penjarahan batu candi pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Batu bata dan relief banyak dipindahkan untuk pembangunan rumah maupun bangunan lain.

Hal inilah yang membuat Candi Gedog perlahan menghilang, meninggalkan hanya pondasi dan batu bata yang tertimbun. Keberadaan catatan Raffles menjadi semacam bukti tertulis bahwa candi ini pernah berdiri megah sebelum raib dimakan zaman.

Kini, temuan ekskavasi setidaknya menjadi pengingat bahwa warisan budaya harus dijaga, agar tidak kembali hilang seperti dua abad lalu.

Potensi Wisata dan Edukasi

Dengan terungkapnya kembali Candi Gedog, pemerintah kota Blitar mulai melirik kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah baru. Tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang sejarah Majapahit.

Candi Gedog juga berpotensi menjadi pusat penelitian lanjutan. Para arkeolog berharap ada dukungan untuk menggali lebih dalam struktur yang masih tertimbun, sekaligus mengungkap fungsi asli candi ini. Ada dugaan Candi Gedog dulunya berperan sebagai petirtaan atau tempat ritual keagamaan Hindu-Siwa.

Masyarakat lokal pun ikut antusias. Banyak yang percaya, jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa sejajar dengan situs bersejarah lain di Blitar, seperti Candi Penataran.

Simbol Misteri Blitar

Bagi masyarakat Blitar, Candi Gedog bukan sekadar peninggalan arkeologi, melainkan simbol misteri dan perjalanan panjang sejarah daerah. Pohon beringin yang menaungi reruntuhan candi dianggap sakral, seolah menjadi penjaga warisan yang lama tertidur.

Kini, dengan bukti nyata dari ekskavasi, misteri yang selama ini membungkus Candi Gedog mulai terkuak. Namun, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab: mengapa candi ini bisa benar-benar hilang selama 200 tahun? Apakah hanya karena penjarahan, atau ada faktor lain yang lebih besar?

Pertanyaan-pertanyaan itu justru membuat Candi Gedog semakin menarik. Sebuah warisan yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga cerita tentang misteri, hilang, dan akhirnya ditemukan kembali.

Baca Juga: Pisowanan Ageng Hari Jadi Blitar ke-701, Kepala Kantor Pertanahan Ikut Lestarikan Tradisi

Kesimpulan

Kembalinya Candi Gedog ke permukaan publik bukan hanya tentang penemuan arkeologi. Lebih dari itu, ia adalah pengingat betapa rapuhnya warisan budaya jika tidak dijaga. Sejarah yang sempat hilang 200 tahun, kini perlahan terungkap kembali.

Bagi Blitar, ini menjadi momentum penting. Candi Gedog bisa menjadi ikon wisata sejarah sekaligus sumber edukasi generasi muda. Namun, yang lebih penting, ia menyimpan pesan: jangan sampai peninggalan berharga bangsa hilang lagi untuk kedua kalinya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi gedog #sejarah blitar