BLITAR, – Hubungan letusan dahsyat Gunung Kelud dengan keberadaan situs bersejarah di Blitar makin jelas terlihat. Salah satunya adalah Candi Gedog, peninggalan Majapahit yang sempat terkubur selama berabad-abad sebelum akhirnya ditemukan kembali lewat ekskavasi.
Banyak ahli menduga, letusan Gunung Kelud di masa lalu menjadi penyebab mengapa sejumlah candi di Blitar hilang dari permukaan. Termasuk Candi Gedog, yang jejaknya lama hanya tersisa dalam catatan sejarah, namun menghilang dari pandangan masyarakat.
Penemuan kembali Candi Gedog bukan hanya soal arkeologi, melainkan juga membuka diskusi tentang bagaimana bencana alam ikut memengaruhi perjalanan sejarah dan warisan budaya di Blitar.
Letusan Gunung Kelud dan Dampaknya
Gunung Kelud dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Jawa Timur. Catatan sejarah menyebutkan, sejak abad ke-15 gunung ini telah berkali-kali meletus dengan skala besar.
Letusan besar pada tahun 1334 dan 1586, misalnya, tercatat menimbulkan korban jiwa ribuan orang. Abu vulkanik dan material pijar yang dimuntahkan Kelud bahkan mencapai wilayah Blitar dan Kediri.
Fenomena itu diyakini menimbun sebagian besar wilayah pedesaan, termasuk bangunan suci seperti candi. Sisa-sisa peradaban Majapahit pun terkubur dalam lapisan tanah dan abu selama ratusan tahun.
Misteri Hilangnya Candi Gedog
Nama Candi Gedog sempat dicatat oleh Thomas Stamford Raffles pada abad ke-19 sebagai salah satu bangunan kuno di Blitar. Namun, lama setelah itu, keberadaannya seakan hilang begitu saja.
Warga sekitar hanya mengenal area Desa Gedog sebagai lokasi keramat dengan pohon beringin besar yang dianggap angker. Tak ada yang menyangka, di balik tanah dan pepohonan itu tersimpan peninggalan bersejarah.
Ekskavasi yang dilakukan pada 2020–2021 akhirnya menguak misteri tersebut. Bata-bata merah khas Majapahit perlahan muncul kembali setelah bertahun-tahun terkubur.
Baca Juga: Mitos Air Abadi Petirtaan Candi Penataran: Bikin Awet Muda dan Dagangan Laris?
Abu Vulkanik sebagai Penyebab
Arkeolog menduga kuat, salah satu penyebab Candi Gedog terkubur adalah letusan besar Gunung Kelud. Material vulkanik yang menyebar luas menimbun kawasan sekitar, membuat bangunan suci itu tertutup rapat oleh tanah.
Kondisi ini serupa dengan fenomena lain di Jawa Timur, di mana beberapa candi hilang dari permukaan karena tertutup lapisan abu dan endapan vulkanik. Butuh waktu ratusan tahun hingga keberadaan mereka kembali ditemukan.
Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa banyak situs Majapahit di Blitar ditemukan dalam kondisi rusak parah, sebagian hanya menyisakan pondasi atau reruntuhan.
Candi Lain yang Senasib
Selain Candi Gedog, sejumlah candi di Blitar dan sekitarnya juga diperkirakan mengalami nasib serupa. Letusan Gunung Kelud meninggalkan jejak material yang menutupi sebagian besar wilayah, termasuk jalur sungai dan pemukiman.
Candi-candi kecil yang tidak tercatat dalam naskah kuno kemungkinan besar sudah hilang sama sekali. Beberapa bahkan masih terkubur hingga kini, menunggu ekskavasi lebih lanjut.
Fenomena ini menegaskan bagaimana alam memainkan peran besar dalam keberlangsungan sejarah. Bencana alam tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga mengubur warisan peradaban.
Ekskavasi yang Menghidupkan Kembali Sejarah
Ekskavasi Candi Gedog pada 2020–2021 menjadi momentum penting bagi dunia arkeologi Blitar. Tim peneliti menemukan susunan bata merah, sisa struktur bangunan, hingga petunjuk bahwa lokasi itu pernah menjadi pusat kegiatan religius.
Warga sekitar sempat terkejut ketika mengetahui bahwa area yang mereka anggap angker ternyata menyimpan peninggalan Majapahit. Dari situlah, minat masyarakat terhadap sejarah lokal semakin meningkat.
Kini, reruntuhan Candi Gedog dipandang bukan hanya sebagai situs kuno, tetapi juga sebagai simbol ketahanan budaya yang berhasil melewati bencana besar.
Baca Juga: Peternak Sapi Blitar Dirikan Komunitas Anti Riba, Selamatkan Warga dari Utang hingga Niat Bunuh Diri
Sejarah Bertemu Geologi
Fenomena hilangnya candi akibat letusan Gunung Kelud menunjukkan keterkaitan erat antara geologi dan sejarah. Bencana alam bisa menjadi faktor yang mengubah arah peradaban.
Jika tidak ada letusan, mungkin Candi Gedog tetap berdiri megah dan terus digunakan hingga beberapa abad setelah Majapahit runtuh. Namun kenyataannya, alam mengambil peran berbeda, menyembunyikan candi itu dari peradaban manusia.
Kini, dengan ditemukannya kembali candi tersebut, masyarakat mendapat kesempatan untuk menyatukan kisah sejarah dan fenomena geologi dalam satu narasi utuh.
Wisata Sejarah dan Edukasi
Keberadaan Candi Gedog yang pernah terkubur ini juga membuka peluang besar untuk pengembangan wisata sejarah di Blitar. Cerita tentang candi yang hilang karena letusan Gunung Kelud tentu menarik bagi wisatawan.
Selain itu, narasi ini bisa digunakan sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya mitigasi bencana. Bagaimana letusan gunung berapi bisa mengubah kehidupan masyarakat, termasuk meninggalkan jejak sejarah yang baru terungkap ratusan tahun kemudian.
Blitar pun punya modal kuat untuk menggabungkan wisata budaya, sejarah, dan geologi dalam satu paket yang bernilai tinggi.
Penutup
Kisah Candi Gedog yang sempat hilang akibat letusan Gunung Kelud menjadi bukti nyata bahwa alam dan sejarah saling berkelindan. Letusan dahsyat memang menghancurkan, tetapi sekaligus menjaga warisan Majapahit tetap tersimpan di dalam tanah.
Kini, penemuan kembali candi itu memberi pelajaran penting: bencana alam bukan akhir dari sebuah peradaban. Justru, dari reruntuhan itulah lahir kesadaran baru untuk menjaga dan merawat peninggalan sejarah.
Dengan demikian, Candi Gedog bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga warisan berharga bagi generasi mendatang.
Editor : Anggi Septian A.P.