BLITAR - Setelah kehilangan mandat presiden pada 1967, kehidupan Soekarno berubah drastis. Dari pemimpin besar revolusi, ia jatuh menjadi tahanan politik di bawah bayang-bayang rezim baru.
Bagi banyak orang, perubahan itu terasa tragis. Dulu Soekarno masuk ke Istana Merdeka sebagai presiden yang dielu-elukan rakyat. Kini, ia keluar hanya dengan kaos oblong, celana piama, dan beberapa barang sederhana.
Itulah awal dari status barunya sebagai tahanan Orde Baru.
Awalnya, Soekarno ditempatkan di rumahnya di Batu Tulis, Bogor. Namun pada 1969, ia dipindahkan ke Wisma Yaso, Jakarta. Rumah itu dijaga ketat, seakan-akan Bung Karno masih berbahaya meskipun sudah sakit-sakitan.
Interogasi pun kerap dilakukan oleh Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Fokusnya tak lain soal dugaan keterlibatan Bung Karno dalam peristiwa G30S.
Meski tak ada bukti kuat, tuduhan itu terus menghantuinya. Bung Karno diperlakukan seolah seorang tersangka, bukan lagi bapak bangsa.
Di Wisma Yaso, Soekarno diputus dari dunia luar. Anak-anak dan istrinya butuh izin khusus untuk menemuinya. Itupun dengan waktu yang terbatas.
Kondisi itu membuatnya semakin terasing. Banyak istri yang pernah mendampinginya juga menjauh. Fatmawati sudah lama berpisah, Dewi Soekarno dipulangkan ke Jepang, Haryati dan Yurike Sanger meninggalkan, hanya Hartini yang setia hingga akhir.
Kesepian itu membuat kesehatan Bung Karno kian merosot.
Sebelumnya, ia mendapat perawatan dari tim dokter kepresidenan. Namun setelah jatuh, tim itu dibubarkan. Padahal, Soekarno menderita berbagai penyakit serius, mulai dari ginjal, jantung, darah tinggi, hingga rematik dan katarak.
Tanpa pengawasan medis memadai, kondisinya semakin parah. Bung Karno sering duduk termenung, bahkan kadang berbicara sendiri.
Sejarawan menggambarkan fase ini sebagai masa depresi berat sang proklamator. Ia, yang dulu penuh energi, kini berubah menjadi sosok rapuh dan sunyi.
Meski demikian, masih ada momen kecil yang menghangatkan. Misalnya ketika rezim mengizinkan Rahmawati, putri Soekarno, untuk menjenguk. Saat itu, Bung Karno yang sakit-sakitan tetap berusaha tersenyum, meski langkahnya tertatih-tatih.
Namun kebahagiaan singkat itu segera pudar. Pasukan pengawal dengan senjata lengkap selalu mengiringinya, bahkan ketika ia tak berdaya. Bung Karno yang ringkih diperlakukan seolah bisa melarikan diri kapan saja.
Kehadiran tentara justru membuat suasana makin mencekam.
Perlakuan keras itu meninggalkan luka batin bagi keluarga. Ada kisah memilukan ketika Bung Karno berusaha melambaikan tangan ke kerumunan yang menunggunya. Seorang tentara malah menundukkan kepalanya agar cepat masuk ke mobil.
Bagi rakyat yang menyaksikan, momen itu adalah simbol betapa rendahnya posisi sang proklamator di masa Orde Baru. Ia bukan lagi pemimpin, melainkan tahanan yang bahkan tak bebas memberi salam.
Kisah-kisah semacam ini membuat luka sejarah semakin dalam.
Wisma Yaso akhirnya menjadi saksi bisu tahun-tahun terakhir Soekarno. Di rumah itu, ia menjalani hari-hari dalam kesepian, jauh dari hiruk pikuk politik yang dulu digenggamnya.
Kesedihan bukan hanya soal kehilangan kekuasaan, tetapi juga tentang kehilangan keluarga, kesehatan, dan kebebasan. Semua yang pernah ia miliki lenyap satu per satu.
Namun, Bung Karno tetap mencoba bertahan. Meski tubuhnya melemah, semangatnya sebagai seorang pejuang tetap ada.
Bagi bangsa Indonesia, kisah Soekarno di Wisma Yaso adalah pengingat bahwa sejarah bisa berbalik arah dengan cepat. Sang proklamator yang dulu diagungkan, bisa berakhir sebagai tahanan politik.
Ironi ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak pernah abadi. Bahkan seorang tokoh besar seperti Bung Karno tidak mampu menghindari takdir politik.
Dari istana megah, ia akhirnya berakhir di Wisma Yaso yang sunyi.
Hingga wafatnya pada 21 Juni 1970, Soekarno tetap berada dalam status tahanan. Ia meninggalkan dunia bukan sebagai presiden yang berdaulat, melainkan sebagai orang yang dikucilkan.
Namun sejarah tetap menempatkan namanya di hati rakyat. Wisma Yaso kini menjadi Museum Satria Mandala, menyimpan jejak pilu dari hari-hari terakhir Bung Karno.
Dan bagi generasi bangsa, kisah itu menjadi pelajaran bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata bisa berubah menjadi kesepian yang sunyi.
Editor : Anggi Septian A.P.