BLITAR - Kabar duka itu datang pada 21 Juni 1970. Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, menghembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Ia wafat setelah bertahun-tahun menderita sakit dan hidup dalam status tahanan politik.
Detik-detik terakhir Bung Karno penuh dengan kesedihan. Dari seorang pemimpin besar, ia berakhir dalam kesepian, dijauhkan dari rakyat yang dulu memujanya.
Namun sebelum kepergiannya, ada momen-momen haru yang masih dikenang hingga kini.
Pada 6 Juni 1970, Bung Karno genap berusia 69 tahun. Ulang tahun itu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada pesta, tidak ada karangan bunga, hanya kehadiran beberapa anak dan keluarga dekat.
Bung Karno tampak semakin ringkih. Penyakit ginjal, jantung, dan darah tinggi menggerogoti tubuhnya. Ia juga menderita rematik dan katarak. Tubuhnya bengkak, langkahnya tertatih-tatih, dan pikirannya kerap melayang.
Ulang tahun itu menjadi yang terakhir baginya.
Lima hari kemudian, pada 11 Juni 1970, kondisi Soekarno memburuk. Ia dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto. Di sana, ia ditempatkan di sebuah ruangan sederhana yang dijaga ketat oleh tentara bersenjata lengkap.
Ironisnya, meski tubuhnya semakin lemah, pengamanan tetap super ketat. Seolah-olah Bung Karno yang sakit-sakitan masih bisa melarikan diri atau menggerakkan massa.
Ruangan bercat kelabu itu menjadi saksi bisu hari-hari terakhir sang proklamator.
Dalam perawatan itu, Bung Karno sempat menerima dua tamu istimewa. Pertama, sahabat lamanya Mohammad Hatta. Pertemuan keduanya pada 19 Juni menjadi momen paling mengharukan.
Dua proklamator yang pernah pecah kongsi itu akhirnya bertemu kembali. Begitu melihat Hatta, Bung Karno terisak seperti anak kecil. Mereka tidak banyak bicara, hanya menangis bersama. Pertemuan itu menjadi perjumpaan terakhir dua tokoh besar bangsa.
Pada hari yang sama, Dewi Soekarno datang bersama putrinya, Kartika Sari Dewi.
Kartika baru berusia tiga tahun dan belum pernah bertemu ayahnya. Saat melihat putrinya, tangan Bung Karno bergerak seolah ingin meraihnya. Namun tubuhnya sudah terlalu lemah.
Itu adalah momen penuh haru. Dewi dan Kartika akhirnya bisa bertemu dengan Bung Karno, meski hanya sebentar. Setelah itu, kesadaran Bung Karno perlahan hilang.
Menjelang tengah malam, ia koma. Esok paginya, 21 Juni 1970, Soekarno mengembuskan napas terakhir.
Kepergiannya seakan sudah ditakdirkan menunggu tiga orang penting: Hatta, Dewi, dan Kartika. Setelah bertemu mereka, Bung Karno seolah rela pergi.
Namun, perlakuan rezim Orde Baru terhadapnya tetap keras, bahkan setelah ia wafat. Fatmawati meminta agar jenazah disemayamkan di rumahnya, tetapi ditolak. Dewi dan Hartini meminta agar ia dimakamkan di Batu Tulis, juga tak dikabulkan.
Rezim Soeharto hanya mengizinkan Bung Karno dimakamkan di Blitar.
Pemakaman itu pun penuh ironi. Bung Karno, yang dulu dielu-elukan jutaan rakyat, dibawa ke liang lahat dengan pengawalan ketat. Banyak rakyat ingin menghormati, tetapi akses dibatasi.
Blitar akhirnya menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Dari kota inilah, nama besar Bung Karno tetap dikenang, meski rezim berusaha meredam pesonanya.
Bagi rakyat, makam Bung Karno di Blitar menjadi tempat ziarah, sekaligus simbol cinta abadi pada proklamator bangsa.
Kisah detik-detik terakhir Bung Karno memperlihatkan betapa getirnya perjalanan hidupnya. Dari pemimpin besar revolusi, ia berakhir dalam kesepian, dibatasi, bahkan setelah wafat tetap tidak diberi penghormatan layak.
Namun sejarah menempatkannya di tempat terhormat. Bung Karno tetap hidup dalam ingatan bangsa, meski tubuhnya terkubur dalam sunyi Blitar.
Dan bagi rakyat Indonesia, 21 Juni bukan hanya tanggal kematian, melainkan hari mengenang seorang bapak bangsa yang hingga akhir tetap setia pada cintanya pada tanah air.
Detik-detik terakhir Soekarno menjadi kisah yang tak akan hilang dari sejarah Indonesia. Sebuah pengingat bahwa kekuasaan bisa hilang, tetapi warisan perjuangan akan selalu abadi.
Bung Karno mungkin wafat dalam keterasingan, tetapi ia tetap dikenang sebagai proklamator, pemimpin besar, dan bapak bangsa.
Editor : Anggi Septian A.P.