Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Blitar Kota Proklamator, Juga Jadi Tanah Para Wali

Findika Pratama • Selasa, 2 September 2025 | 03:30 WIB
Blitar Kota Proklamator, Juga Jadi Tanah Para Wali
Blitar Kota Proklamator, Juga Jadi Tanah Para Wali

BLITAR - Blitar dikenal luas sebagai Kota Proklamator. Julukan itu melekat karena di sinilah tempat lahir sekaligus peristirahatan terakhir Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Namun, Blitar tak hanya soal Bung Karno. Kota ini juga menyimpan jejak panjang sejarah Islam melalui makam para wali dan ulama besar.

Kota Proklamator ini ternyata juga dikenal sebagai tanah para wali. Di berbagai pelosok Blitar, tersebar ratusan petilasan, makam tokoh agama, hingga ulama penyebar Islam di Jawa. Tradisi ziarah ke makam wali masih hidup hingga sekarang, menjadi bagian dari identitas spiritual masyarakat Blitar.

Blitar, Kota Proklamator sekaligus tanah wali, sering disebut sebagai The Land of King. Julukan itu merujuk pada sejarah kerajaan besar seperti Singosari dan Majapahit. Namun dalam dimensi lain, kota ini juga melahirkan banyak ulama yang jejaknya masih bisa ditelusuri melalui makam-makam keramat.

Syekh Sentono Dowo, Sahabat Syekh Subakir

Salah satu makam wali yang terkenal di Blitar adalah Makam Syekh Sentono Dowo. Lokasinya berada di Desa Penataran, tak jauh dari kompleks wisata bersejarah Candi Penataran.

Syekh Sentono Dowo dikenal sebagai sahabat seperjuangan Syekh Subakir dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Bahkan, makam ini bukan hanya satu orang, melainkan tiga ulama besar: Syekh Badruddin, Syekh Badruzzal, dan Syekh Badrunisaiya.

Di salah satu nisannya, terdapat tulisan aksara Jawa kuno bertahun 1157 Saka atau sekitar 1235 Masehi. Ini menjadi bukti autentik bagaimana dakwah Islam sudah menyentuh tanah Jawa jauh sebelum masa Wali Songo.

Makam Syekh Abu Naim Fathullah, Mbah Macan Putih

Tak jauh dari Lodoyo, tepatnya di Kelurahan Kedungbunder, Kecamatan Sutojayan, terdapat kompleks makam besar yang dikenal dengan nama Sentono Lodoyo. Di sinilah dimakamkan Syekh Abu Naim Fathullah, atau yang akrab disebut Mbah Macan Putih.

Beliau merupakan keturunan ketujuh Sunan Tembayat (Syekh Hasan Nawawi) dari Klaten, Jawa Tengah. Kisah tentang Mbah Macan Putih menyebar luas di masyarakat, dikenal sebagai ulama karismatik sekaligus pejuang dakwah Islam.

Selain beliau, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan ulama besar lain, seperti Kiai Ageng Imam Sampurno, penasihat Keraton Surakarta, serta Pangeran Prabu yang membawa Gong Kiai Pradah. Tak heran jika kawasan ini menjadi pusat ziarah religi Blitar Selatan.

Baca Juga: ⁠Inilah Identitas Pengemudi BMW yang Tabrak Pembatas Jalan di Perempatan Kanigoro Blitar

Jejak Pesantren Tertua: Syekh Abu Hasan

Di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, berdiri makam Syekh Abu Hasan. Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda Kuningan, pesantren tertua di Blitar yang didirikan sejak abad ke-18.

Syekh Abu Hasan lahir pada 1790 Masehi dan wafat tahun 1899 Masehi. Sejak muda, kecerdasannya membuatnya menimba ilmu di Mambaul Ulum, madrasah Islam milik Keraton Yogyakarta. Karena keilmuannya, beliau bahkan dipercaya menjadi penghulu keraton.

Kisah menarik, Syekh Abu Hasan pernah bergabung dalam barisan Pangeran Diponegoro, lengkap dengan tombak pusaka Dwi Sula. Hal ini menandakan bahwa perjuangannya bukan hanya dalam bidang agama, tapi juga perlawanan terhadap kolonialisme.

Ulama dan Pesantren di Blitar

Blitar Kota Proklamator juga lekat dengan tradisi pesantren. Sejumlah ulama besar mendirikan lembaga pendidikan Islam yang hingga kini tetap hidup.

Contohnya, Mbah Kiai Abdul Ghofur, pendiri Pondok Pesantren Mambaul Hikam Udanawu. Pesantren ini terkenal dengan salat tarawih super cepat. Beliau juga dikenal sebagai pejuang yang aktif melawan penjajah sebelum wafat tahun 1952. Kini, keturunannya seperti Gus Iqdam melanjutkan perjuangan dakwah melalui Majelis Sabili Taubah.

Ada juga Mbah Kiai Imam Bukhari, pendiri Pondok Pesantren Maftahul Ulum di Jatinom, Kanigoro. Beliau hidup hingga usia 122 tahun, wafat tahun 1945, sekaligus menjadi saksi masa perjuangan kemerdekaan.

Dari Guru Soekarno hingga Kiai Seribu Masjid

Sosok ulama Blitar bahkan bersinggungan langsung dengan sejarah bangsa. Kiai Haji Ahmad Hasan Bendo dikenal sebagai guru spiritual Ir. Soekarno. Bung Karno muda disebut banyak berguru padanya sebelum menjadi tokoh besar nasional.

Selain itu, Blitar juga memiliki Mbah Kiai Abu Naim, yang dikenal dengan julukan Kiai Seribu Masjid. Beliau mendirikan masjid di banyak daerah, dan diyakini setiap tempat yang dipilihnya selalu berkembang menjadi kawasan makmur.

Kharisma ulama Blitar membuat makam-makam mereka tak pernah sepi dari peziarah. Baik masyarakat lokal maupun dari luar kota, datang untuk ngalap berkah sekaligus mengenang jasa mereka.

Baca Juga: ⁠Ratusan Perusuh Diamankan, Kapolres Blitar Kota Sebut Mayoritas dalam Pengaruh Alkohol dan Warga Luar Blitar

Kota Proklamator, Tanah Raja, dan Ulama

Julukan Kota Proklamator bagi Blitar memang erat dengan Bung Karno. Tapi sejatinya, Blitar juga layak disebut tanah para wali. Dari Syekh Sentono Dowo, Mbah Macan Putih, Syekh Abu Hasan, hingga Kiai Seribu Masjid, semua menjadi bagian dari sejarah Islam di Jawa.

Kombinasi antara jejak kerajaan besar, proklamator kemerdekaan, dan ulama penyebar Islam menjadikan Blitar sebagai kota yang kaya sejarah sekaligus spiritualitas.

Kini, masyarakat Blitar menjadikan tradisi ziarah makam wali sebagai bagian dari keseharian. Dari haul, pengajian, hingga wisata religi, semua menghidupkan kembali memori bahwa Blitar bukan hanya kota sejarah, tetapi juga tanah berkah para wali.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Kota Proklamator #sejarah #blitar #Wali Ulama #wisata religi