Blitar selalu memiliki kisah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Kota Blitar bukan hanya dikenal sebagai Kota Proklamator, tetapi juga menyimpan jejak sejarah sejak era kerajaan. Nama besar Aryo Blitar menjadi salah satu legenda yang melatarbelakangi lahirnya kota ini.
Kota Blitar terletak di bagian selatan Jawa Timur, sekitar 167 kilometer dari Surabaya dan tak jauh dari Malang. Lokasi strategis ini menjadikannya pusat kebudayaan sekaligus daerah dengan sejarah panjang sejak era Majapahit hingga kolonial.
Selain sebagai kota perjuangan, Kota Blitar kini juga punya identitas baru. Julukan sebagai Kota Koi melekat karena ikan hias asal Jepang ini berhasil dibudidayakan dengan baik dan menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat.
Legenda Aryo Blitar menjadi kisah awal perjalanan Kota Blitar. Sejarah mencatat, ketika bangsa Tatar atau Mongol masuk ke wilayah Jawa, Majapahit mengirim Nila Suwarna untuk mengusir mereka. Kemenangan itu kemudian melahirkan pemimpin baru dengan gelar Adipati Aryo Blitar I.
Nama Blitar sendiri dipercaya berasal dari kata Balitar, yang berarti kembalinya bangsa Tatar ke negeri asalnya. Gelar itu diberikan kepada Aryo Blitar sebagai penghormatan atas jasanya. Dari titik inilah awal mula terbentuknya sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Kota Blitar.
Namun, perjalanan sejarah Kota Blitar tak selalu mulus. Aryo Blitar I sempat menghadapi konflik dengan patihnya sendiri, Ki Sengguh Ki Naryo. Perselisihan itu berujung pada lengsernya Aryo Blitar I dan naiknya Aryo Blitar II. Sejarah terus berlanjut dengan hadirnya Joko Kandung, putra Aryo Blitar I, yang kemudian menggulingkan Aryo Blitar II.
Sayangnya, kedatangan Belanda mengakhiri kepemimpinan lokal tersebut. Meski rakyat Blitar dikenal gigih melawan penjajah, Belanda tetap berhasil menaklukkan wilayah ini. Kota Blitar kemudian masuk dalam sistem pemerintahan kolonial dengan status Gemente pada tahun 1906.
Status itu menandai era baru. Kota Blitar kala itu mulai mendapatkan perhatian administratif, dengan terbentuknya Dewan Kota Praja. Pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi khusus untuk pembangunan. Dari sinilah wajah modern Blitar mulai tumbuh.
Memasuki masa pendudukan Jepang, Kota Blitar kembali mengalami perubahan. Pada 1942, Jepang menyebutnya sebagai Blitar Shi dengan luas wilayah 16,1 km persegi. Sistem pemerintahan juga diubah sesuai aturan militer Jepang.
Laskar Peta kemudian muncul di Kota Blitar, dipimpin oleh Supriyadi. Perlawanan pada 14 Februari 1945 menjadi salah satu momen penting perjuangan rakyat Indonesia. Dari Kota Blitar inilah semangat melawan penjajah berkobar ke berbagai daerah lain.
Pasca kemerdekaan, Kota Blitar sempat berstatus kota kecil, kemudian menjadi Kota Madya Blitar, hingga akhirnya secara resmi berubah menjadi Kota Blitar. Perubahan ini menandai dinamika politik dan pemerintahan yang selalu mengikuti perkembangan zaman.
Kini, Kota Blitar bukan hanya dikenal karena sejarah dan perjuangannya. Identitas baru sebagai Kota Koi semakin menguat. Budidaya ikan koi yang populer di Jepang justru tumbuh subur di Blitar. Bahkan, banyak peternak koi lokal mampu menembus pasar internasional.
Julukan Kota Koi menjadi simbol baru kebanggaan masyarakat. Tidak sedikit wisatawan datang ke Blitar bukan hanya untuk berziarah ke makam Bung Karno, tetapi juga untuk membeli dan melihat langsung keindahan koi khas Blitar.
Perpaduan antara sejarah panjang, perjuangan, dan budaya membuat Kota Blitar unik. Dari legenda Aryo Blitar, perlawanan Peta, hingga gemerlapnya ikan koi, semua menegaskan bahwa kota ini memiliki identitas berlapis yang patut dibanggakan.
Kota Blitar kini terus berkembang dengan wajah modern. Pembangunan di berbagai sektor berjalan, namun sejarahnya tetap dijaga. Legenda Aryo Blitar hingga julukan Kota Koi menjadi benang merah yang menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan.
Bagi warga Jawa Timur, Kota Blitar selalu punya tempat khusus di hati. Dari kota kecil inilah lahir banyak cerita, perjuangan, dan inspirasi. Kota Blitar memang layak disebut sebagai kota sejarah sekaligus kota masa depan.
Editor : Anggi Septian A.P.