Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Blitar, The Land of King yang Juga Melahirkan Ulama Besar

Findika Pratama • Selasa, 2 September 2025 | 02:00 WIB
Blitar, The Land of King yang Juga Melahirkan Ulama Besar
Blitar, The Land of King yang Juga Melahirkan Ulama Besar

BLITAR - kerap disebut sebagai The Land of King. Julukan ini muncul karena kota di Jawa Timur ini pernah menjadi tanah lahir dan makam para raja besar, mulai dari Singosari hingga Majapahit. Namun, Blitar bukan hanya melahirkan raja, melainkan juga ulama besar yang meninggalkan jejak spiritual mendalam.

The Land of King sekaligus tanah ulama, itulah Blitar. Di berbagai wilayahnya, berdiri makam para wali dan pesantren bersejarah yang hingga kini masih hidup. Masyarakat Blitar memadukan kebanggaan sebagai tanah raja dengan kecintaan pada ulama yang menyebarkan Islam.

Blitar dan The Land of King tak hanya soal istana atau kerajaan. Identitas itu juga berpadu dengan makam-makam wali yang tersebar luas. Dari Syekh Sentono Dowo di Penataran, Syekh Abu Hasan di Kanigoro, hingga Mbah Imam Bukhari di Jatinom, semuanya menguatkan posisi Blitar sebagai tanah berkah.

Dari Raja ke Ulama

Sejarah mencatat, Blitar adalah tanah besar kerajaan Majapahit. Beberapa raja lahir dan dimakamkan di sini, menjadikan Blitar bagian dari pusat peradaban Nusantara.

Namun, seiring perjalanan waktu, Blitar juga melahirkan ulama besar yang berperan dalam dakwah Islam. Para ulama itu tak hanya membangun pesantren, tapi juga ikut dalam perjuangan melawan penjajah.

Inilah yang membuat Blitar memiliki dua wajah sejarah: kejayaan kerajaan dan kejayaan dakwah Islam. Keduanya berpadu membentuk identitas Blitar hingga sekarang.

Syekh Sentono Dowo, Ulama di Tanah Candi

Tak jauh dari situs Candi Penataran, berdiri Makam Syekh Sentono Dowo. Ulama ini diyakini sebagai sahabat Syekh Subakir yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Makam ini unik karena berada di kawasan peninggalan Hindu-Buddha. Hal ini menunjukkan bagaimana Islam masuk tanpa menghapus budaya lokal, tetapi berpadu secara damai.

Syekh Sentono Dowo menjadi bukti nyata bahwa Blitar bukan hanya tanah raja, melainkan juga tanah para wali.

Baca Juga: Pembahasan Pokir di Perubahan APBD 2025 Kabupaten Blitar tak Dihapus, Ini Penjelasan DPRD Kabupaten Blitar

Syekh Abu Hasan, Pendiri Pesantren Tertua

Di Desa Kuningan, Kanigoro, ada Makam Syekh Abu Hasan. Beliau pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda, yang diyakini sebagai pesantren tertua di Blitar.

Selain mendidik santri, Syekh Abu Hasan juga dikenal sebagai pejuang. Ia ikut dalam pasukan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Keberanian itu membuat beliau dihormati bukan hanya sebagai ulama, tapi juga pahlawan.

Warisan pesantren dan perjuangan ini memperkuat identitas Blitar sebagai tanah ulama besar.

Kiai Abdul Ghofur dan Gus Iqdam

Blitar juga punya kisah ulama modern. Mbah Kiai Abdul Ghofur, pendiri Pondok Pesantren Mambaul Hikam di Udanawu, dikenal sebagai pejuang sekaligus pendidik. Pesantrennya terkenal dengan tarawih cepat.

Kini, keturunannya yaitu Gus Iqdam melanjutkan dakwah melalui Majelis Sabili Taubah. Ribuan jamaah hadir dalam setiap pengajiannya, menjadikan nama Blitar semakin dikenal di kancah nasional.

Dari generasi ke generasi, tradisi ulama di Blitar tetap hidup dan berkembang.

Ulama dan Perlawanan

Banyak ulama Blitar yang terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satunya Mbah Imam Bukhari di Jatinom, yang wafat pada tahun 1945 setelah menyaksikan proklamasi.

Ada juga Kiai Hasan Bendo, guru spiritual Bung Karno sekaligus pembimbing Sudanco Supriyadi. Peran beliau membuktikan bahwa ulama Blitar tak hanya mengajarkan agama, tapi juga membakar semangat perlawanan.

Perpaduan antara spiritualitas dan perjuangan inilah yang membuat Blitar punya tempat istimewa dalam sejarah bangsa.

Baca Juga: Perda RTRW Kota Blitar Anyar, Wali Kota Mas Ibin: Lebih Luwes dan Buka Banyak Peluang Baru

Tanah Raja, Tanah Ulama

Sebutan The Land of King tak bisa dilepaskan dari Blitar. Namun kini, banyak orang juga menyebut Blitar sebagai tanah ulama.

Keberadaan makam wali, pesantren, hingga tradisi haul ulama besar menjadi bukti bahwa Blitar adalah kota dengan warisan ganda: kerajaan dan dakwah Islam.

Kombinasi dua warisan ini menjadikan Blitar kota yang kaya, baik dalam sejarah politik maupun dalam sejarah spiritual.

Warisan untuk Generasi Muda

Bagi generasi sekarang, Blitar menyimpan banyak pelajaran. Dari raja, kita belajar kepemimpinan. Dari ulama, kita belajar perjuangan dan keteguhan iman.

Ziarah ke makam wali, belajar sejarah kerajaan, atau mengikuti pengajian di pesantren adalah cara untuk merawat warisan ini.

Dengan begitu, Blitar akan tetap dikenang bukan hanya sebagai The Land of King, tetapi juga sebagai tanah ulama besar.

Editor : Anggi Septian A.P.
#blitar #ulama #wisata sejarah #WaliAllah #TheLandOfKing