Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kota Blitar: Dari Gemente Era Belanda hingga Kota Madya Modern

Anggi Septiani • Selasa, 2 September 2025 | 05:00 WIB

Kota Blitar: Dari Gemente Era Belanda hingga Kota Madya Modern
Kota Blitar: Dari Gemente Era Belanda hingga Kota Madya Modern

Blitar- tidak hanya lekat dengan kisah perjuangan dan legenda. Kota Blitar juga memiliki sejarah administratif panjang yang membentuk wajahnya seperti sekarang. Dari status Gemente di era kolonial Belanda hingga menjadi Kota Madya, setiap perubahan menunjukkan dinamika perjalanan sebuah kota kecil di Jawa Timur.

Kota Blitar pertama kali resmi berstatus Gemente atau Kota Praja pada 1 April 1906. Status ini diberikan berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandsch-Indië Nomor 150 tahun 1906. Bersamaan dengan Blitar, beberapa kota lain juga dibentuk seperti Batavia, Bandung, Cirebon, Magelang, hingga Surabaya.

Sejak saat itu, Kota Blitar mendapatkan pengakuan administratif yang lebih jelas. Pemerintah Hindia Belanda bahkan memberikan subsidi sebesar 11.850 gulden kepada Dewan Kota Praja Blitar yang beranggotakan 13 orang. Inilah titik awal modernisasi pemerintahan di Kota Blitar.

Baca Juga: Kota Blitar Siap Jadi Tuan Rumah Orkestra Keroncong Nusantara, Catat Tanggal Main dan Tempatnya

Pada masa itu, Kota Blitar mulai berkembang dengan wajah perkotaan yang lebih tertata. Infrastruktur dasar seperti jalan, perkantoran, dan fasilitas umum dibangun untuk mendukung aktivitas pemerintahan. Status Gemente membuat Kota Blitar naik kelas dari sekadar wilayah biasa menjadi pusat administratif.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Kota Blitar kembali mengalami perubahan. Berdasarkan aturan Osamu Seirei, kota ini disebut sebagai Blitar Shi dengan luas wilayah 16,1 kilometer persegi. Sistem pemerintahan pun diubah mengikuti pola pemerintahan Jepang yang dipimpin seorang Shincho.

Meski dalam tekanan penjajahan, Kota Blitar tetap menunjukkan eksistensinya. Peristiwa penting pun terjadi pada masa itu, yakni perlawanan Peta yang dipimpin Supriyadi pada 14 Februari 1945. Momentum ini menjadikan Kota Blitar sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan nasional.

Baca Juga: ⁠Cara Brigpol Riska menjadi Polisi Humanis: Aktif di Medsos hingga Dekat dengan Masyarakat

Setelah kemerdekaan Indonesia, status administratif Kota Blitar kembali berubah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 tahun 1950, Kota Blitar ditetapkan sebagai daerah kota kecil dengan luas wilayah 16,1 kilometer persegi. Perubahan ini menyesuaikan dengan sistem pemerintahan Indonesia yang baru lahir.

Namun perkembangan Kota Blitar tidak berhenti di situ. Pada tahun 1965, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18, nama Kota Blitar diubah menjadi Kota Madya Blitar. Perubahan ini bukan sekadar formalitas, tetapi juga menandai langkah maju dalam pembangunan perkotaan.

Kota Madya Blitar kemudian mengalami perluasan wilayah pada tahun 1982. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48, luas kota ini bertambah menjadi 32,8 kilometer persegi. Wilayah administratifnya juga dikembangkan dari satu kecamatan menjadi tiga kecamatan dengan total 20 kelurahan.

Baca Juga: Anak Ceria, Orang Tua Bahagia: Kerabat SAE Kota Blitar Jadi Ruang Belajar Bersama

Perluasan ini membawa dampak signifikan bagi pembangunan Kota Blitar. Dengan wilayah lebih luas, kota ini punya ruang lebih besar untuk pengembangan infrastruktur, ekonomi, dan sosial. Identitasnya sebagai kota modern mulai terbentuk dari sinilah.

Akhirnya, melalui Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, nama resmi Kota Madya Blitar diubah menjadi Kota Blitar. Perubahan ini menegaskan kedudukannya sebagai daerah otonom penuh dengan kewenangan untuk mengatur pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat.

Kini, Kota Blitar berdiri dengan identitas yang kuat. Dari status Gemente hingga Kota Madya, setiap fase menunjukkan bahwa kota ini selalu beradaptasi dengan perubahan zaman. Sejarah administratif itu juga menjadi fondasi kokoh bagi perkembangan Blitar hari ini.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Tekankan Akselerasi, Kanwil Jatim Tancap Gas Selesaikan Target Program Strategis Nasional

Masyarakat Blitar patut berbangga dengan perjalanan panjang ini. Kota kecil yang dulu hanya dianggap wilayah administratif kini tumbuh menjadi kota modern dengan sejarah perjuangan yang membanggakan. Dari kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga era reformasi, Blitar selalu hadir dalam dinamika bangsa.

Kota Blitar hari ini bukan hanya soal legenda dan perjuangan. Identitas administratifnya yang jelas menjadi bukti bagaimana sebuah kota berkembang dari waktu ke waktu. Dari Gemente hingga Kota Madya, perjalanan itu kini menjelma menjadi Kota Blitar yang terus tumbuh di Jawa Timur.

Editor : Anggi Septian A.P.
#jawa timur #sejarah blitar #GementeBlitar #Kota Blitar