BLITAR - Di balik derap mesin gergaji bengkel kayu, Susi Rowati telah menafkahi sejumlah pekerja. Warga Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, ini tidak hanya membangun usaha kerajinan tangan, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan memanfaatkan limbah kayu mahoni.
Deru mesin gergaji terdengar dari sebuah bengkel kayu sederhana di sudut kota. Di dalamnya, tampak beberapa pekerja sibuk memotong kayu mahoni yang sudah dikeringkan.
Dari bahan mentah itu, lahirlah cobek, lumpang, hingga telenan unik berbentuk apel dan mangga.
Sejumlah barang itu merupakan hasil kerajinan dari limbah pabrik kendang di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul.
Produk itu dipajang rapi di galeri toko milik Susi Rowati.
Semua produk tersebut adalah hasil dari ketekunan perempuan berusia 41 tahun tersebut. Dia sudah hampir dua dekade menekuni kerajinan kayu.
Usaha Susi bermula pada 2006. Saat itu, ia hanya fokus memproduksi lumpang dan cobek kayu. Namun, masuknya pesanan dari Tiongkok membuat ia sempat beralih produksi ke kendang, menyesuaikan permintaan yang ada.
“Tapi akhirnya saya kembali lagi ke alat dapur, dengan inovasi baru supaya produk kami tetap punya keunikan,” ujarnya.
Susi memanfaatkan lingkungan sekitar yang memang dikenal sebagai sentra bubut kayu dan produsen kendang.
Dari sinilah ia memberdayakan warga sekitar, mempekerjakan sekitar sepuluh orang, sekaligus mengurangi limbah kayu.
“Kebanyakan bahannya limbah kayu mahoni dari pabrik kendang. Selain mudah dibentuk, kayu ini juga lebih empuk dibanding jati, jadi cocok untuk alat dapur,” jelasnya.
Proses produksinya terbilang telaten. Kayu dibelah, dikeringkan selama beberapa hari, lalu dicetak sesuai pesanan.
Baca Juga: AI Jadi Partner Lifelong Learning untuk Raih Beasiswa Kuliah Luar Negeri
Untuk produk yang banyak dipesan seperti cobek dan lumpang, produksi tetap berjalan meski tanpa order. Semua barang kemudian di packing rapi dan dipasarkan secara offline maupun online.
Tak hanya memenuhi pasar lokal, produk Susi sudah meluas ke berbagai daerah. Surabaya menjadi pasar terbesar, diikuti Kalimantan dan Sulawesi.
Bahkan, produknya pernah sampai ke Malaysia.
Beberapa kali Susi juga mendapat kesempatan tampil di pameran yang difasilitasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin), mulai dari Bazar Blitar Jadoel, APEKSI di Surabaya, dan pameran lainnya seperti di Sulawesi, Jambi, hingga Yogyakarta pada tahun 2024.
Minimnya SDM terampil menjadi tantangan bagi Susi. Meski sudah membuka kesempatan magang bagi siswa SMK, belum sepenuhnya mampu.
“Alhamdulillah, konsumen sebenarnya tidak banyak komplain, karena produk kami barang umum. Tapi untuk bisa bersaing, kami harus terus berinovasi,” tuturnya.
Musim hujan juga membawa tantangan tersendiri. Proses pengeringan kayu yang biasanya mengandalkan sinar matahari jadi terhambat.
“Kalau ada oven pengering mungkin bisa lebih cepat. Tapi sejauh ini kami masih mengandalkan cuaca,” keluhnya.
Meski begitu, Susi tetap optimis. Inovasi telenan berbentuk buah, pemanfaatan bubuk kayu, hingga eksperimen bentuk baru jadi upayanya menjaga pasar.
Baginya, usaha ini bukan hanya tentang keuntungan, tapi juga tentang menjaga tradisi kerajinan kayu sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
“Semoga pemerintah bisa terus memberi ruang bagi UMKM lokal lewat pameran dan promosi. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih mencintai produk dalam negeri,” harapnya. (*/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah