Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Asal-Usul Gong Kiai Pradah: Dari Giri Kedaton Hingga Menetap di Lodoyo

Anggi Septiani • Rabu, 3 September 2025 | 12:30 WIB
Asal-Usul Gong Kiai Pradah: Dari Giri Kedaton Hingga Menetap di Lodoyo
Asal-Usul Gong Kiai Pradah: Dari Giri Kedaton Hingga Menetap di Lodoyo

BLITAR-Gong Kiai Pradah memiliki kisah panjang yang penuh makna sejarah dan spiritual. Pusaka ini berawal dari masa kejayaan Giri Kedaton di Gresik, pusat penyebaran Islam di Jawa pada abad ke-16. Gong Kiai Pradah dipercaya sebagai karya yang lahir dari gagasan Sunan Prapen, penerus Sunan Giri, yang terkenal bijaksana dalam strategi dakwah.

Keberadaan Gong Kiai Pradah sejak awal tidak hanya dimaksudkan sebagai alat musik. Sunan Prapen menggunakannya sebagai sarana dakwah dengan pendekatan budaya. Melalui gamelan dan gong, ajaran Islam disebarkan secara halus dan mampu diterima masyarakat Jawa yang saat itu masih lekat dengan tradisi lama.

Dalam proses pembuatannya, Gong Kiai Pradah ditempa dengan logam pilihan oleh para empu di Giri Kedaton. Selama penempaan, doa dan lantunan ayat suci dipanjatkan agar gong memiliki kekuatan spiritual. Hasilnya, sebuah gong agung dengan suara yang bergetar lama dan mampu menyentuh hati para pendengarnya.

Sunan Prapen menaruh harapan besar pada gong ini. Ia ingin gong tersebut menjadi simbol keagungan dan alat dakwah yang dapat mengumpulkan masyarakat. Gong akhirnya disertakan dalam seperangkat gamelan yang istimewa dan dijadikan pusaka penting dalam syiar Islam.

Seiring meluasnya pengaruh Giri Kedaton, pusaka ini tak hanya dipakai di lingkungan pesantren. Sunan Prapen memberikan gong kepada tokoh berpengaruh sebagai amanah dakwah. Salah satu tokoh penerima disebut Pangeran Bandung, bangsawan yang memiliki hubungan erat dengan Giri Kedaton.

Pemberian Gong Kiai Pradah bukan sekadar hadiah biasa. Sunan Prapen berpesan agar gong digunakan untuk menyebarkan ajaran tauhid melalui seni. Proses penyerahannya dilakukan dalam upacara sederhana penuh doa, menandai awal perjalanan gong keluar dari Giri Kedaton.

Perjalanan Gong Kiai Pradah menuju wilayah selatan Jawa Timur penuh tantangan. Rombongan pembawanya melewati hutan lebat, sungai deras, dan perbukitan terjal. Mereka meyakini gong ini bukan benda biasa, melainkan pusaka yang diberkahi dan harus dijaga kesuciannya.

Ada kisah tutur yang menyebut gong kadang terasa ringan, kadang berat, seolah memiliki kehendak sendiri. Pengalaman-pengalaman gaib ini semakin memperkuat keyakinan bahwa Gong Kiai Pradah membawa misi khusus.

Akhirnya, perjalanan panjang itu berakhir di Lodoyo, wilayah subur di Kabupaten Blitar. Kehadiran gong besar tersebut menimbulkan rasa heran sekaligus kagum masyarakat setempat. Awalnya mereka waspada, namun setelah mendengar alunannya, perlahan menerima pusaka itu.

Seiring waktu, gong mulai dianggap bukan sekadar benda logam, melainkan pusaka yang membawa energi spiritual. Masyarakat Lodoyo merasakan ketenangan dan harapan baru dengan kehadirannya. Gong kemudian ditempatkan di tempat terhormat dan dijaga dengan penuh rasa hormat.

Nama "Kiai Pradah" muncul setelah masyarakat menilai pusaka ini memiliki kekuatan gaib. Gelar "Kiai" menunjukkan penghormatan, sedangkan kata "Pradah" dipercaya bermakna menyebar atau memberi pengaruh luas. Dari sinilah lahir sebutan Gong Kiai Pradah yang kita kenal hingga kini.

Sejak itu, Gong Kiai Pradah menjadi simbol spiritual Lodoyo. Ia tidak hanya dipandang sebagai warisan sejarah, tetapi juga diyakini memiliki kekuatan untuk mendatangkan hujan, menolak bala, dan memberi kesuburan. Tradisi-tradisi lokal pun lahir sebagai wujud penghormatan.

Salah satu tradisi terpenting adalah siraman Gong Kiai Pradah yang digelar setiap bulan Maulud. Prosesi ini melibatkan masyarakat luas, dari juru kunci hingga pemerintah setempat. Air dari tujuh sumber keramat dipakai untuk menyucikan gong, disertai doa keselamatan dan keberkahan.

Air bekas siraman menjadi rebutan warga karena diyakini membawa tuah. Ada yang menggunakannya untuk menyuburkan tanaman, ada pula yang meminumnya untuk kesembuhan. Tradisi ini menjadi perekat sosial dan pewarisan nilai budaya antargenerasi.

Kini, Gong Kiai Pradah bukan sekadar pusaka Lodoyo, tapi telah menjadi ikon budaya Kabupaten Blitar. Kehadirannya selalu menarik perhatian wisatawan dan peneliti yang ingin mengetahui lebih dalam sejarah serta nilai spiritual di baliknya.

Kisah panjang dari Giri Kedaton hingga Lodoyo membuktikan bahwa Gong Kiai Pradah adalah warisan yang hidup. Ia bukan hanya benda mati, melainkan simbol perjalanan dakwah, budaya, dan spiritual masyarakat Jawa yang terus dijaga hingga hari ini.

Editor : Anggi Septian A.P.
#budaya jawa #lodoyo #Kabupaten Blitar #sejarah jawa #sunan prapen #giri kedaton #gong kiai pradah