Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tradisi Siraman Gong Kiai Pradah di Lodoyo, Warisan Spiritual yang Terus Hidup

Anggi Septiani • Rabu, 3 September 2025 | 12:00 WIB

Tradisi Siraman Gong Kiai Pradah di Lodoyo, Warisan Spiritual yang Terus Hidup
Tradisi Siraman Gong Kiai Pradah di Lodoyo, Warisan Spiritual yang Terus Hidup

Blitar-Tradisi siraman Gong Kiai Pradah di Lodoyo menjadi salah satu warisan budaya yang masih lestari hingga kini. Ritual ini bukan sekadar membersihkan pusaka, melainkan sarana spiritual masyarakat Blitar untuk menjaga keberkahan dan keselamatan hidup. Gong Kiai Pradah sendiri merupakan pusaka agung yang dipercaya memiliki kekuatan gaib.

Sejak lama, Gong Kiai Pradah dihormati sebagai pusaka yang membawa pengaruh besar bagi masyarakat Lodoyo. Selain dipercaya mampu mendatangkan hujan, gong juga diyakini melindungi desa dari mara bahaya. Tradisi siraman lahir sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga kesuciannya.

Ritual siraman Gong Kiai Pradah biasanya digelar setiap bulan Maulud atau Rabiul Awal. Pemilihan bulan ini sarat makna karena bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dengan begitu, tradisi ini tidak hanya mengakar pada budaya Jawa, tetapi juga terhubung erat dengan nilai-nilai Islam.

Baca Juga: Meski Sapi Sudah Sembuh, Kasus PMK Terus Meningkat di Kabupaten Blitar

Persiapan siraman dimulai jauh hari sebelumnya. Air diambil dari tujuh sumber mata air yang dianggap keramat di wilayah sekitar Lodoyo. Air tersebut kemudian dikumpulkan dalam gentong besar dan didoakan para sesepuh serta tokoh agama. Masyarakat percaya, air itu mengandung berkah untuk menyucikan gong.

Pada hari pelaksanaan, Gong Kiai Pradah dikeluarkan dari tempat penyimpanan di Pendopo Agung Lodoyo. Iring-iringan warga, doa, dan shalawat mengiringi perjalanannya menuju tempat prosesi. Suasana sakral langsung terasa sejak gong diletakkan untuk dimandikan.

Prosesi siraman dilakukan bergantian oleh para tokoh yang ditunjuk. Mereka mengguyurkan air dari tujuh sumber dengan bunga setaman ke tubuh gong. Setiap guyuran disertai doa keselamatan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi masyarakat Lodoyo. Gong Kiai Pradah diperlakukan layaknya seorang sesepuh yang dihormati.

Baca Juga: Gedung DPRD Kabupaten Blitar Dibakar Perusuh, Bupati Rijanto: Perbaikan Gunakan Anggaran PAK

Setelah prosesi selesai, air bekas siraman gong menjadi rebutan masyarakat. Banyak yang percaya air itu membawa keberkahan. Ada yang menyiramkannya ke sawah agar subur, ada pula yang meminumnya untuk kesembuhan. Keyakinan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Tradisi siraman Gong Kiai Pradah tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga sosial. Ribuan orang dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan prosesi ini. Acara menjadi ajang silaturahmi, mempererat persatuan, dan menjaga semangat gotong-royong warga Lodoyo.

Selain itu, siraman Gong Kiai Pradah juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Anak-anak diajak untuk ikut terlibat, sehingga mereka mengenal sejarah pusaka dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan begitu, tradisi ini tetap terjaga lintas generasi.

Baca Juga: Skill AI Jadi Penentu Masa Depan Karier dan Beasiswa Kuliah Luar Negeri

Makna siraman tidak sebatas pembersihan fisik. Lebih dari itu, ritual ini melambangkan penyucian batin masyarakat. Dengan membersihkan gong, warga meyakini diri mereka pun turut disucikan dari hal-hal buruk. Siraman menjadi momen refleksi spiritual yang penuh makna.

Tradisi siraman Gong Kiai Pradah juga menarik perhatian wisatawan. Setiap tahun, banyak pengunjung datang ke Lodoyo untuk menyaksikan prosesi unik ini. Pemerintah Kabupaten Blitar pun mendukung dengan menjadikannya bagian dari kalender wisata budaya daerah.

Meski demikian, masyarakat Lodoyo tetap menekankan bahwa inti dari siraman bukanlah tontonan semata. Mereka ingin menjaga kesakralan tradisi agar tidak kehilangan makna spiritualnya. Wisata budaya boleh tumbuh, tetapi nilai-nilai leluhur tetap harus dijaga.

Baca Juga: Blitar Kota Proklamator, Juga Jadi Tanah Para Wali

Kini, tradisi siraman Gong Kiai Pradah telah menjadi simbol identitas masyarakat Lodoyo. Ia merepresentasikan harmoni antara Islam, budaya Jawa, dan kearifan lokal. Setiap tetes air yang mengguyur gong adalah doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Melalui siraman ini, masyarakat Lodoyo tidak hanya merawat pusaka, tetapi juga merawat kebersamaan dan keyakinan spiritual mereka. Gong Kiai Pradah terus hidup sebagai warisan yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#Kabupaten Blitar #maulid nabi #gong kiai pradah #Pusaka Jawa