BLITAR — Kompleks Candi Penataran menjadi salah satu situs bersejarah peninggalan masa kerajaan di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, yang kini tak lagi seramai dulu.
Suasana lengang terasa di sekitar area wisata, membuat lapak pedagang yang berjajar ikut terdampak.
Johan, salah satu pedagang, menceritakan kondisi menurunnya jumlah wisatawan yang mengunjungi kompleks Candi Penataran.
“Sepi banget sekarang, kalau hari-hari biasa paling juga orang-orang sini saja. Weekend itu biasanya ada pengunjung terlihat lalu lalang, tapi ya nggak seramai dulu,” ujarnya.
Menurutnya, berkurangnya pengunjung bisa jadi karena minat generasi muda terhadap wisata sejarah semakin berkurang.
“Mungkin anak sekarang sudah nggak terlalu minat untuk lihat candi kaya gini kali ya?” tambah Johan.
Keluhan serupa datang dari Katemi, pedagang yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan candi.
Dengan wajah sendu, ia mengaku, sedih melihat perkembangan jumlah wisatawan yang berkunjung ke kompleks Candi Penataran.
“Saya sudah tua, saya cuma berharap penghasilan saya bisa buat makan sehari-hari aja sudah cukup,” ungkapnya.
Katemi juga menilai, pamor Candi Penataran kian meredup. “Candi ini sudah hilang pamornya. Pengunjung sudah mulai jarang, paling ramai biasanya dari sekolah-sekolah rombongan gitu, tetapi kadang juga gak beli,” tuturnya.
Kondisi itu membuatnya pasrah, karena di usia senja sulit mencari alternatif pekerjaan. “Ini kalau orang lain punya daya untuk nyari tempat yang lebih laku. Tapi ini udah umur segini bisa kemana?” ujarnya.
Kini, para pedagang hanya bisa berharap, pamor Candi Penataran kembali bangkit, agar kondisi ekonomi di kawasan Candi Penataran tidak benar-benar padam.
Sebenarnya selain kompleks Candi Penataran, di kawasan ini juga terdapat Museum Penataran yang menyimpan berbagai koleksi masa lalu.
Seperti diketahui, selain koleksi peninggalan dari masa kerajaan, Museum Penataran juga menyimpan peninggalan peralatan kuno yang digunakan para leluhur.
Misalnya, gilingan tebu, gerobak, kepingan mata uang kuno, lesung, hingga aneka keramik.
Selain mengandalkan penjelasan dari pemandu, pengunjung juga bisa mengetahui deskripsi setiap koleksi dari papan keterangan tersedia di setiap koleksi. (mg4/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah