BLITAR — Museum Penataran yang berada di kompleks Candi Penataran, Kecamatan Nglegok, hingga kini masih menghadapi persoalan minimnya jumlah pengunjung.
Meskipun menyimpan ratusan koleksi bersejarah, museum ini belum mampu menarik perhatian masyarakat luas.
Petugas Museum Penataran, Sudarwiyanto menyebutkan, jumlah pengunjung cenderung tidak stabil dan relatif sedikit.
“Kadang ramai, kadang sepi. Kalau ada outing class dari TK sampai SMA, baru terlihat ramai. Namun kalau hari biasa, pengunjung tidak pasti, kadang hanya sekitar 10 orang saja atau lebih sedikit,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut bukanlah hal baru. Sejak lama jumlah pengunjung museum tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Kunjungan lebih banyak dipengaruhi oleh agenda rombongan sekolah yang datang untuk kegiatan edukasi, sedangkan masyarakat umum jarang memanfaatkan museum sebagai destinasi wisata sejarah.
Kenyataan ini cukup memprihatinkan mengingat Museum Penataran menyimpan lebih dari 450 koleksi berharga berupa arca dan prasasti yang sudah ada sejak abad ke-19.
Museum ini sejatinya memiliki peran penting dalam memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Blitar kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Jumlah kunjungan memang masih rendah, tapi kami tetap berusaha agar pelayanan tetap berjalan baik,” jelas pria ramah ini.
Dengan kondisi pengunjung yang tidak stabil, Museum Penataran masih terus berupaya mencari cara agar lebih banyak orang tertarik datang, baik melalui kegiatan edukatif maupun promosi wisata budaya.
Seperti diketahui, selain koleksi peninggalan dari masa kerajaan, Museum Penataran juga menyimpan peninggalan peralatan kuno yang digunakan para leluhur.
Misalnya, gilingan tebu, gerobak, kepingan mata uang kuno, lesung, hingga aneka keramik.
Selain mengandalkan penjelasan dari pemandu, pengunjung juga bisa mengetahui deskripsi setiap koleksi dari papan keterangan tersedia di setiap koleksi. (mg4/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah