BLITAR - Kreasi tas tali kur dan anyaman plastik milik Alfiatun Ni’mah sudah tembus pasar luar negeri.
Berbekal dari pelatihan, kini warga Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, sudah berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Galeri sederhana itu dipenuhi produk kerajinan tangan yang mencolok.
Khususnya kreasi tas dari tali kur dan tas anyaman plastik, dengan berbagai macam model, warna, serta ukuran yang beraneka ragam. Disinilah pusat produksi kreasi tas tali kur serta tas anyaman plastik diproduksi.
Adalah Alfiatun Ni’mah, pemilik usaha produksi tas tas kreasi tersebut. Usaha tersebut dia rintis sejak 2012 lalu.
Semua berawal dari ikut pelatihan kerja membuat kerajinan tangan berupa tas kreasi, lalu menerapkannya menjadi sebuah usaha.
Kemudian pada 2012, dia memutuskan untuk membuka usaha kerajinan kecil-kecilan.
“Awalnya saya membuat tas kreasi dari tali kur ini untuk saya pakai sendiri. Ternyata tetangga sekitar tertarik dan minta untuk dibuatkan,” jelasnya ditemui di galerinya.
Usaha tersebut mendapat dukungan dari suaminya. Lama kelamaan, mulai banyak memproduksi tas dari tali kur dan tas anyaman dari plastik.
Selain itu, dukungan juga datang dari instansi pemerintah terkait, seperti dinas koperasi, dinas perdagangan hingga bea cukai.
Dukungan tersebut dalam bentuk fasilitasi perizinan dan pemasaran. Dari situ, banyak orang yang memesan hingga akhirnya menambah tenaga kerja.
Bagi Alfi, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga sarana pemberdayaan.
“Saya ingin usaha ini bermanfaat bagi orang lain, khususnya ibu-ibu rumah tangga agar tetap produktif meski sibuk mengurus keluarga,” ujarnya.
Kini, usaha Alfi berkembang pesat dengan 16 lokasi produksi, masing-masing melibatkan tujuh hingga 11 orang.
Nantinya hasil produksi di kumpulkan untuk didistribusikan.
Inovasi desain terus dikembangkan agar dapat bersaing dengan produk-produk lainya. Sebagian besar mengikuti tren yang dipadukan dengan ide kreatif sendiri.
Untuk pemasaran sendiri dilakukan lewat media sosial seperti Facebook, Instagram dan lain sebagainya.
Bahkan produknya juga sering beberapa kali mengikuti beberapa event yang juga mendorong produknya untuk semakin dikenal.
Untuk harganya sendiri bervariasi, mulai Rp 6 ribu hingga Rp 400 ribu dengan berbagai macam model dan ukuran.
“Untuk pemesanan sendiri sudah sampai ke luar daerah seperti Kalimantan, Lampung, Jambi, dan bahkan sampai ke luar negeri seperti Hongkong, Taiwan hingga Afrika,” tandas ibu dua anak ini.
Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah pemasaran, yang mengharuskannya terus mencari pelanggan baru.
Meski begitu, dia kerap mengikuti seminar dan pameran hingga mendapat sejumlah penghargaan.
Alfi berharap, usahanya semakin berkembang dan dapat membuka cabang baru.
Memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat dan bisa memperkenalkan produknya hingga ke Eropa.
“Yang terpenting, selalu ada inovasi setiap hari, kalau tidak, kita akan kalah bersaing,” tegasnya.(*/sub) (*)