BLITAR - Raja Jayanegara menjadi sosok paling kontroversial dalam sejarah Majapahit. Nama Jayanegara kerap disebut sebagai raja Majapahit yang paling dibenci rakyat dan pejabat istana. Sejumlah sumber sejarah bahkan menggambarkan Jayanegara sebagai raja yang kejam, lemah, hingga haus kekuasaan.
Kebencian terhadap Jayanegara sudah terlihat sejak awal ia naik tahta. Ia dianggap tidak layak menjadi penguasa karena lahir dari Dara Petak, selir asal Melayu. Penolakan itu makin kuat karena tradisi Jawa menuntut raja harus lahir dari permaisuri utama, bukan dari selir.
Kitab Pararaton mencatat bahwa banyak pengikut Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, menolak Jayanegara. Mereka menilai Majapahit seharusnya dipimpin keturunan murni Singasari. Bagi mereka, kehadiran Jayanegara justru merusak tatanan tradisi pewarisan tahta.
Namun, meski penuh penolakan, Jayanegara tetap naik tahta pada usia 15 tahun. Harapan rakyat kala itu adalah ia bisa menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Jayanegara disebut-sebut memiliki sifat kejam sejak kecil. Kisah perselisihannya dengan dua adik tirinya, Tribhuwana Tunggadewi dan Rajadewi, menjadi catatan buruk yang tak pernah hilang. Ia bahkan tega mengurung kedua adiknya setiap ada lamaran masuk.
Alasan pengurungan itu ternyata sangat politis. Jayanegara khawatir bila adiknya menikah, maka suami mereka bisa menggulingkan tahtanya. Bahkan, konon ia sempat berniat menikahi kedua adiknya sendiri demi menjaga kekuasaan tetap di tangannya.
Sifat buruk lainnya adalah skandal di dalam istana. Banyak laporan dari istri pejabat kerajaan yang mengaku digoda Jayanegara. Perilaku genit ini semakin menurunkan wibawanya di mata rakyat.
Dugaan pelecehan yang dilakukan Jayanegara membuat kemarahan rakyat dan pejabat semakin memuncak. Tak heran jika kepemimpinannya diwarnai berbagai pemberontakan. Dari Ranggalawe, Lembu Sora, hingga Nambi, semua bergerak melawan tahta Majapahit.
Puncaknya adalah pemberontakan Rakuti pada 1319. Pemberontakan ini berhasil menguasai istana Majapahit dan memaksa Jayanegara melarikan diri ke Desa Bedander. Keadaan kerajaan saat itu benar-benar genting.
Beruntung, Jayanegara memiliki seorang pengawal bernama Gajah Mada. Dialah yang kemudian mengawal sang raja hingga selamat. Tak hanya itu, Gajah Mada juga berhasil memimpin serangan balik hingga pemberontakan bisa dipadamkan.
Meski berhasil lolos dari maut, reputasi Jayanegara tetap buruk. Kitab Pararaton bahkan menyebutnya dengan istilah kalagemet, yang berarti penjahat lemah. Julukan ini melekat kuat dalam ingatan sejarah.
Akhir hidup Jayanegara juga tragis. Pada 1328, ia terserang penyakit bisul parah. Seorang tabib bernama Tanca dipanggil untuk mengobatinya. Namun, kesempatan itu justru dipakai sang tabib untuk menghabisi nyawa raja.
Tanca menusuk Jayanegara tepat di bagian jantung setelah ia diminta melepaskan jimat kebalnya. Seketika istana Majapahit geger dengan kabar terbunuhnya sang raja. Tanca sendiri akhirnya ikut dibunuh oleh Gajah Mada.
Kematian Jayanegara menyisakan banyak misteri. Ada versi yang menyebut bahwa Gajah Mada sebenarnya dalang di balik pembunuhan itu. Dugaan muncul karena Gajah Mada diduga menyimpan dendam pribadi kepada Jayanegara.
Terlepas dari semua konspirasi, catatan sejarah tetap menempatkan Jayanegara sebagai raja paling dibenci dalam sejarah Majapahit. Namanya lebih sering diingat sebagai penguasa lalim daripada pemimpin bijak.
Sejarah kelam Jayanegara memberi pelajaran besar. Bahwa kekuasaan tanpa wibawa dan moral hanya akan berakhir dengan kehancuran. Hingga kini, kisahnya masih jadi bahan renungan bagi generasi penerus bangsa.
Majapahit memang melahirkan banyak tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Namun, nama Jayanegara tetap menjadi catatan gelap dalam perjalanan sejarah kerajaan besar itu.
Editor : Anggi Septian A.P.