BLITAR - Berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya, tetapi bisa dilakukan saat ada kesempatan. Hal tersebut direalisasikan Intan Cahyow, 41, yang juga ketua yayasan BPB (Berbagi Peduli Blitar).
Yayasan ini berawal dari kebiasaan berbagi kepada masyarakat tidak mampu, seperti tukang becak.
Kini, yayasan BPB berkembang sebagai yayasan yang banyak menginspirasi.
Senyum ramah Intan Cahyow menyambut Koran ini di rumah sederhananya di Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo.
Di ruang tamu tempat tinggalnya ini, dia menuturkan perjalanan panjang yang dimulai sejak 12 tahun lalu. Saat ingin mengajarkan kepada putranya arti berbagi ke sesama.
“Awalnya saya cuma bagi-bagi ke tukang becak setiap Jumat. Saat itu, saya masih tergabung di komunitas hijab,” ujar Intan.
Namun, setelah keluar dari komunitas tersebut, dia memutuskan untuk tetap melanjutkan kebiasaan berbagi dengan dana dari kantong pribadinya.
Dari kebiasaan itu, teman-teman dekatnya memberi respons positif dan mulai ikut membantu.
Kegiatan yang dilakukannya menuai respons positif dan berkembang.
Pada 2019, Intan memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas berbagi agar kegiatannya lebih terarah dan jangkauan semakin luas.
Dia juga memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan kegiatan positif yang dilakukan. Dan di 2020, dia memutuskan untuk mengubah komunitas menjadi sebuah yayasan resmi dan berizin.
Baca Juga: Dari Mekkah ke Syam, Perjalanan Dagang Nabi Muhammad yang Berakhir dengan Pernikahan Khadijah
“Respons masyarakat sangat baik, dan agar saya tetap dipercaya oleh masyarakat, saya akhirnya membuat Yayasan BPB yang tentunya sudah ada izinnya,” ungkap ibu satu anak ini.
Saat ini, yayasan BPB bergerak di berbagai bidang dan mayoritas berkegiatan di Kabupaten Blitar. Mulai dari program sosial kemanusiaan seperti santunan anak yatim piatu dan pembagian sembako, kegiatan keagamaan lewat safari TPQ (Taman Pendidikan Alquran) yang mendatangkan pendongeng kisah nabi, hingga program ekonomi berupa pelatihan ibu rumah tangga dan lain-lain.
“Kami ingin orang-orang yang sudah kami bantu tidak melulu membutuhkan tangan orang lain, tapi juga bisa mandiri dan syukur kalau kemudian ikut membantu orang lain,” harapnya.
Event besar yang baru saja diselenggarakan oleh yayasan BPB adalah santunan anak yatim di Kabupaten Blitar yang melibatkan 50 anak yatim piatu.
Selain itu, kegiatan bulanan dengan membagikan kurang lebih 90 kilogram sembako, kegiatan mingguan seperti Jumat Berbagi dengan membagikan 50-100 nasi kotak, serta Sedekah Subuh yang dilaksanakan setiap hari via daring di laman Instagram yayasan.
Saat ini, ujar Intan, jumlah donatur yang ikut menyisihkan harta miliknya untuk dibagikan kepada warga tidak mampu semakin banyak.
“Alhamdulillah donatur sekarang cakupannya sudah meluas sekali, soalnya kita menggalang dana via daring. Instagram juga kami jadikan media untuk jurnal kegiatan harian kami saat berkegiatan,” bebernya.
Dia mengaku bahwa untuk saat ini tantangan terbesar yang yayasan hadapi adalah mempertahankan kepercayaan para donatur dan ketersediaan relawan saat acara berlangsung.
“Karena saat ini base camp yayasan masih di kediaman saya, suatu hari nanti saya ingin yayasan ini memiliki kantor sendiri dan donatur lebih banyak lagi, supaya manfaat yayasan BPB semakin luas,” harapnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah