Blitar-Fenomena Sound Horek terus menimbulkan perdebatan, terutama soal dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan. Suara dentumannya yang mencapai 135 desibel membuat Sound Horek bukan sekadar hiburan, melainkan ancaman nyata bagi pendengaran dan kenyamanan warga. Para ahli menyebut level kebisingan itu setara dengan suara jet tempur, bahkan hanya sedikit di bawah ledakan bom.
Bagi sebagian orang, dentuman Sound Horek mungkin dianggap seru dan memacu adrenalin. Namun, bagi bayi, lansia, dan penderita penyakit tertentu, suara sekeras itu bisa sangat berbahaya. Dokter THT di Malang mengingatkan bahwa paparan 120 desibel saja sudah bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Apalagi jika terpapar berulang kali dalam jangka panjang.
Tidak hanya kesehatan telinga, efek lain yang muncul adalah meningkatnya stres dan tekanan darah. Beberapa warga mengaku sulit tidur berhari-hari setelah lingkungannya menggelar Sound Horek. Bahkan, ada keluarga yang terpaksa mengungsi ke rumah saudara karena bayi mereka tidak bisa tidur akibat suara dentuman yang tak kunjung reda.
Baca Juga: Mau Sertifikat Elektronik Kementerian ATR/BPN? Begini Proses dan Tahapannya
Selain kesehatan, Sound Horek juga berdampak pada lingkungan sekitar. Getaran dari sound system raksasa sering kali merusak genteng, kaca jendela, hingga tembok rumah warga. Bahkan, jalanan di sekitar lokasi kerap retak akibat truk-truk besar pembawa perangkat Sound Horek. Hal ini membuat warga menanggung kerugian materi meskipun mereka tidak ikut menikmati hiburan.
Ironisnya, protes warga sering kali tidak terdengar—secara harfiah. Beberapa warga mengaku sudah meminta agar volume diturunkan, namun operator Sound Horek tidak menggubris. “Kalau ngomong biasa tidak kedengaran, harus teriak atau pakai pengeras suara lain,” ujar seorang warga dengan nada kesal.
Di sisi lain, penggemar Sound Horek menilai dampak tersebut hanyalah risiko kecil. Mereka beralasan bahwa setiap hiburan pasti ada konsekuensinya. Selama warga setempat sepakat mengadakan acara, maka orang lain diminta untuk menghargai. Bahkan, ada yang menyebut orang yang tidak suka Sound Horek sebagai “sok elit” dan tidak memahami budaya rakyat.
Baca Juga: Sertifikat Elektronik Kementerian ATR/BPN, Transformasi Layanan Agraria yang Lebih Aman
Pakar lingkungan dari Universitas Brawijaya menilai, perdebatan ini muncul karena belum ada regulasi jelas mengenai ambang batas kebisingan di ruang publik. Padahal, WHO sudah menetapkan bahwa paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama bisa membahayakan kesehatan. Dengan Sound Horek yang mencapai 135 desibel, risikonya jelas sangat tinggi.
MUI sendiri sudah mengeluarkan fatwa bahwa kegiatan Sound Horek yang berlebihan bisa jatuh haram. Salah satu alasannya adalah dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Namun, fatwa ini belum mampu menghentikan tren Sound Horek, karena sebagian masyarakat tetap menganggapnya sebagai hiburan murah yang harus dipertahankan.
Kericuhan di Malang beberapa waktu lalu menjadi contoh nyata. Warga yang memiliki bayi meminta agar volume diturunkan, tetapi peserta karnaval menolak. Akibatnya, terjadi adu mulut hingga nyaris bentrokan fisik. Kasus ini memperlihatkan betapa sulitnya mencari titik temu antara hak menikmati hiburan dan hak atas lingkungan sehat.
Aktivis Jawa yang menyoroti kasus ini menyebut Sound Horek sebagai “selera nyeleneh” yang tidak normal. Menurutnya, mendengarkan musik seharusnya cukup di level normal, bukan dengan dentuman setara jet tempur. “Kalau mau kencang, ya pakai headset saja, jangan memaksa satu kampung mendengarkan,” ujarnya tegas.
Solusi yang ditawarkan beberapa kalangan adalah menempatkan Sound Horek di lokasi khusus, misalnya lapangan atau stadion. Dengan begitu, warga yang tidak suka tidak akan terganggu, sementara penggemar tetap bisa menikmati hiburan. Konsep ini juga bisa dikembangkan menjadi festival resmi dengan tiket masuk, sehingga ada pemasukan bagi pemerintah dan pelaku UMKM.
Namun, tantangan terbesar adalah mentalitas masyarakat yang sudah terbiasa dengan Sound Horek sebagai hiburan gratis di kampung. Perubahan konsep tentu butuh waktu, edukasi, dan regulasi yang jelas. Tanpa itu, konflik dan dampak buruk akan terus berulang.
Baca Juga: Jalur Seleksi Bintara Polri 2025, Dari PTU hingga Bakomsus Cyber
Sound Horek memang sudah menjadi bagian dari budaya populer di Jawa Timur. Tetapi, jika tidak dikelola dengan baik, budaya ini justru akan menjadi bumerang bagi kesehatan dan kenyamanan warga. Dentuman setara jet tempur mungkin terdengar gagah di telinga sebagian orang, tapi di sisi lain bisa menjadi teror bagi banyak orang lain.
Pada akhirnya, semua kembali pada kesadaran bersama. Hiburan seharusnya membawa kegembiraan, bukan penderitaan. Sound Horek bisa tetap ada, asal ditempatkan pada porsi yang tepat. Tanpa keseimbangan itu, dentuman Sound Horek hanya akan meninggalkan jejak kerusakan.
Editor : Anggi Septian A.P.