Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sound Horek Jadi Tren Hiburan, Buka Peluang Bisnis Baru di Jawa Timur

Anggi Septiani • Minggu, 7 September 2025 | 02:30 WIB

Sound Horek Jadi Tren Hiburan, Buka Peluang Bisnis Baru di Jawa Timur
Sound Horek Jadi Tren Hiburan, Buka Peluang Bisnis Baru di Jawa Timur
Blitar-Fenomena Sound Horek semakin menjamur di berbagai daerah Jawa Timur. Dari karnaval, hajatan, hingga acara desa, dentuman Sound Horek seakan sudah menjadi magnet tersendiri. Suaranya yang menggelegar bukan hanya hiburan, tetapi juga membuka peluang bisnis baru yang melibatkan banyak pihak.

Di Blitar, Malang, dan Kediri, penyewaan Sound Horek kini menjadi lahan usaha yang menjanjikan. Harga sewa bisa mencapai jutaan rupiah per acara, tergantung besar kecilnya perangkat yang dipakai. Semakin besar truk dan jumlah speaker, semakin tinggi pula tarifnya. Hal ini membuat banyak pemuda desa berlomba-lomba merakit Sound Horek sendiri untuk disewakan.

Beberapa bengkel audio bahkan menjadikan Sound Horek sebagai produk unggulan. Mereka tidak hanya menyediakan perangkat, tetapi juga melayani custom sesuai keinginan pelanggan. Mulai dari ukuran box, jenis power, hingga desain visual dengan lampu LED. Tak heran, bisnis ini berkembang pesat seiring meningkatnya permintaan.

Baca Juga: Mau Sertifikat Elektronik Kementerian ATR/BPN? Begini Proses dan Tahapannya

Bagi warga, Sound Horek dianggap sebagai hiburan rakyat murah meriah. Mereka cukup patungan untuk menyewa, lalu bisa menikmati hiburan dengan volume luar biasa. Di sisi lain, keberadaan Sound Horek juga menghidupkan perekonomian lokal. Pedagang kaki lima, penyewa kursi, hingga penjual makanan mendapat berkah dari keramaian acara.

Meski begitu, tren ini tidak lepas dari kontroversi. Dentuman yang mencapai 135 desibel kerap memicu konflik dengan warga yang merasa terganggu. Ada yang menyebut Sound Horek hanya cocok untuk arena khusus, bukan di tengah pemukiman padat. Bahkan, ada yang menganggap tren ini hanya akan memperbanyak masalah sosial.

Namun, bagi para pelaku usaha, Sound Horek justru dianggap sebagai peluang emas. “Kalau dilarang, banyak pemuda kehilangan pekerjaan. Justru ini bisa jadi ladang kreatif kalau diatur dengan benar,” ujar salah satu perakit Sound Horek asal Kediri. Menurutnya, kreativitas anak muda di dunia audio patut diapresiasi, bukan ditekan.

Baca Juga: Sertifikat Elektronik Kementerian ATR/BPN, Transformasi Layanan Agraria yang Lebih Aman

Beberapa komunitas Sound Horek bahkan rutin menggelar kompetisi. Lomba adu dentuman ini mempertemukan berbagai tim dari desa-desa dengan sound system rakitan. Selain memamerkan kekuatan suara, lomba juga jadi ajang silaturahmi sekaligus promosi bagi jasa sewa. Acara semacam ini mampu menyedot ratusan penonton, bahkan ada yang rela datang dari luar kota.

Tidak sedikit pula Sound Horek yang kini merambah ke ranah digital. Beberapa kanal YouTube menayangkan konten adu sound dengan jutaan penonton. Popularitas di dunia maya ini menambah nilai bisnis, karena sponsor dan iklan mulai melirik. Dengan demikian, Sound Horek tidak hanya hadir secara fisik di jalanan, tetapi juga merajai platform hiburan online.

Pakar sosiologi dari Universitas Negeri Malang menilai fenomena ini sebagai ekspresi budaya populer baru. Menurutnya, anak muda mencari identitas melalui Sound Horek sebagai simbol kreativitas sekaligus status sosial. “Siapa yang punya sound paling besar, dia dianggap paling keren. Ini sama seperti tren otomotif atau musik underground,” jelasnya.

Baca Juga: Desak Pemerintah dan DPR Bertindak Cepat, Rakyat Sampaikan 17 + 8 Poin Tuntutan

Namun, jika tidak ada regulasi jelas, tren ini berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang. Kebisingan, kericuhan, hingga kerusakan lingkungan bisa menjadi bom waktu. Karena itu, beberapa pihak mengusulkan agar pemerintah membuat festival resmi Sound Horek. Dengan konsep lebih tertata, tren ini bisa memberi manfaat ekonomi sekaligus meminimalkan konflik.

Fatwa MUI yang menyebut Sound Horek bisa jatuh haram jika berlebihan juga memberi peringatan tersendiri. Tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tren ini tetap diminati. Bahkan, beberapa acara desa justru merasa bangga jika mampu menghadirkan Sound Horek paling besar.

Tren Sound Horek menunjukkan betapa kuatnya daya tarik hiburan rakyat. Meski penuh kontroversi, fenomena ini telah membuka ruang bisnis, ekspresi budaya, dan peluang ekonomi baru. Tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah mencari titik temu, agar Sound Horek tetap hidup tanpa merugikan banyak pihak.

Baca Juga: Desak Pemerintah dan DPR Bertindak Cepat, Rakyat Sampaikan 17 + 8 Poin Tuntutan

Jika dikelola dengan baik, Sound Horek bisa menjadi ikon hiburan khas Jawa Timur. Dentumannya yang kontroversial justru bisa berubah menjadi potensi wisata musik. Dengan syarat, semua pihak mau mengutamakan keteraturan dan menghormati hak bersama.

Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kota Madiun, Kukuh Kristiani, S.Gz, RD
Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kota Madiun, Kukuh Kristiani, S.Gz, RD
Editor : Anggi Septian A.P.
#ekonomi lokal Balikpapan #sound horeg #bisnis hiburan